Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
“Suatu ketika kami duduk bersama Rasulullah ﷺ. Kami membicarakan tentang fitnah, lalu beliau menjelaskannya dengan panjang lebar hingga beliau menyebut fitnah al-Ahlas.
Seseorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah fitnah al-Ahlas itu?’
Beliau menjawab,
‘Fitnah al-Ahlas adalah fitnah yang menyebabkan hilangnya harta dan keluarga. Setelah itu akan datang fitnah as-Sarra’ (fitnah karena melimpahnya kenikmatan).
Kemudian, seseorang dari keluargaku akan terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Ia mengira bahwa dirinya berasal dariku, padahal bukan. Sesungguhnya para waliku hanyalah orang-orang yang bertakwa.
BACA JUGA: Definisi Tanda-tanda Kiamat
Setelah itu manusia akan berdamai di bawah kepemimpinan seorang laki-laki yang rapuh, bagaikan pangkal paha di atas tulang rusuk.
Kemudian muncul fitnah orang bodoh. Tidak ada seorang pun dari umat ini yang selamat darinya. Setiap kali dikatakan fitnah itu telah reda, ternyata ia justru semakin berkobar.
Pada pagi hari seseorang masih beriman, namun pada sore harinya ia telah menjadi kafir.
Ketika itu manusia terbagi menjadi dua golongan: golongan yang beriman tanpa kemunafikan sedikit pun, dan golongan yang munafik tanpa keimanan sedikit pun.
Apabila kalian telah menyaksikan keadaan seperti itu, maka tunggulah kemunculan Dajjal, hari ini atau esok.'”¹⁷
Penjelasan Istilah
Al-Ahlas merupakan bentuk jamak dari hils, yaitu kain penutup yang diletakkan di atas punggung unta. Fitnah ini diumpamakan dengan hils karena ia terus melekat dan menyertai manusia ketika menimpa mereka, sebagaimana kain tersebut melekat pada punggung unta.
BACA JUGA: Hikmah Tak Diketahuinya Waktu Kiamat
Al-Khaththabi rahimahullah berkata,
“Bisa jadi fitnah ini diumpamakan dengan kain penutup punggung unta karena warnanya yang hitam dan gelap.”
As-Sarra’ berarti berbagai kenikmatan yang menyenangkan manusia, seperti harta yang melimpah, kesehatan, dan kemakmuran. Fitnah ini dinamakan fitnah as-Sarra’ karena kenikmatan tersebut menjadi sebab manusia terjerumus ke dalam dosa dan maksiat. Kemakmuran yang melimpah sering kali membuat seseorang lalai dari ketaatan kepada Allah.
Adapun ungkapan “pangkal paha di atas tulang rusuk” merupakan sebuah perumpamaan bagi sesuatu yang lemah, tidak kokoh, dan tidak memiliki keteguhan. Pangkal paha tidak tersusun atau diperkuat oleh tulang rusuk, sehingga menjadi gambaran bagi kepemimpinan atau perdamaian yang rapuh dan mudah runtuh. []
Sumber: Ensiklopedia Kiamat / Penulis: Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar / Penerbit Serambi / Cetakan 1, Mei 2002
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

