Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menggambarkan sebuah perdagangan yang tidak mengenal kerugian dalam firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
“Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitab Allah, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi.” (QS. Fāthir: 29)
Ayat ini menyebutkan tiga amalan utama yang menjadi modal besar seorang mukmin dalam meraih keuntungan akhirat.
Pertama: Membaca Kitabullah
Yang dimaksud membaca Al-Qur’an bukan sekadar melafalkan huruf-hurufnya, tetapi juga mentadabburi dan mengamalkannya. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa tilāwatul Qur’ān mencakup membaca dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan mengikuti dengan amal perbuatan. Inilah ciri orang beriman sejati.
BACA JUGA: 4 Keutamaan Membaca Al-Quran
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, bukan sekadar dijadikan bacaan.” Maka, membaca Al-Qur’an yang berbuah pahala besar adalah membaca yang melahirkan ketaatan dan perubahan akhlak.
Kedua: Mendirikan Shalat
Allah menyebutkan iqāmatash shalāh, bukan sekadar mengerjakannya. Menurut Qatādah rahimahullah, mendirikan shalat berarti menjaga waktu, rukun, kekhusyukan, dan adab-adabnya. Shalat menjadi tiang agama dan penghubung langsung antara hamba dan Rabb-nya.
‘Abdullah bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu berkata, “Barang siapa ingin bertemu Allah dalam keadaan Muslim, hendaklah ia menjaga shalat-shalat ini.” Shalat yang ditegakkan dengan benar akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar serta menguatkan harapan kepada Allah.
Ketiga: Menginfakkan Rezeki
Infak yang disebutkan dalam ayat ini dilakukan sirran wa ‘alāniyah, secara sembunyi dan terang-terangan. Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā menjelaskan bahwa infak sembunyi lebih utama untuk menjaga keikhlasan, sedangkan infak terang-terangan dibolehkan bila memberi teladan dan menguatkan semangat kebaikan.
BACA JUGA: Didoakan oleh Malaikat Setiap Pagi, Berinfaqlah
Sufyān ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidak ada amal yang lebih berat bagi nafsu selain mengeluarkan harta.” Namun justru di situlah letak ujian keimanan dan bukti kejujuran hati.
Perdagangan yang Tak Akan Rugi
Ketiga amalan ini disebut Allah sebagai tijārah lan tabūr, perdagangan yang tidak pernah bangkrut. Mujāhid rahimahullah menafsirkan, “Mereka berharap pahala dari Allah yang pasti, bukan dugaan.” Keuntungan ini tidak terpengaruh krisis dunia, tidak tergerus waktu, dan akan dibalas dengan ampunan serta pahala yang berlipat.
Inilah investasi orang beriman: Al-Qur’an sebagai petunjuk, shalat sebagai penopang iman, dan infak sebagai bukti cinta kepada Allah. Perdagangan ini dijamin untung oleh Rabb semesta alam. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

