Home KajianSombong: Penyakit Hati yang Dibenci Allah

Sombong: Penyakit Hati yang Dibenci Allah

Sombong, Penyakit HatiKesombongan membuat seseorang sulit menerima kebenaran, meski kebenaran itu datang dengan dalil yang jelas.

by Abu Umar
0 comments 143 views

Sombong bukan sekadar sikap lahiriah berupa dada yang dibusungkan atau langkah yang dibuat angkuh. Ia adalah penyakit hati yang halus, namun dampaknya sangat berbahaya. Karena itulah Al-Qur’an dan Sunnah memberi peringatan keras tentang sifat ini, bahkan menjadikannya sebagai salah satu sebab kebinasaan manusia di dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

BACA JUGA: Dosa Besar: Sombong, Berbangga, Angkuh, Ujub, dan Takabur

Ayat ini adalah nasihat Luqman al-Hakim yang diabadikan Allah sebagai pelajaran sepanjang zaman. Memalingkan wajah, berbicara dengan nada merendahkan, merasa lebih tinggi dari orang lain—semuanya adalah cabang-cabang kesombongan yang sering kali dianggap sepele, padahal sangat dibenci oleh Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan mengaitkan kesombongan dengan ancaman neraka. Haritsah bin Wahb Al-Khuzai’i radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

“Maukah kalian aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka adalah orang-orang yang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur (sombong).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa sombong bukan berdiri sendiri. Ia sering berjalan bersama sifat buruk lainnya: keras hati, rakus, dan tidak peduli pada hak orang lain. Kesombongan membuat seseorang sulit menerima kebenaran, meski kebenaran itu datang dengan dalil yang jelas.

Ulama salaf sangat takut dengan penyakit ini. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Seseorang disebut sombong bukan karena pakaiannya atau kendaraannya, tetapi karena ia meremehkan kebenaran dan merendahkan manusia.” Ini sejalan dengan sabda Nabi bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.

BACA JUGA: Saudaraku, Kesombongan: Penghalang Menuju Surga

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah juga mengingatkan, “Tidaklah seseorang merasa mulia di hadapan manusia kecuali ia akan menjadi hina di sisi Allah.” Maka ukuran kemuliaan dalam Islam bukanlah jabatan, harta, atau popularitas, melainkan ketundukan hati kepada Allah.

Sebaliknya, tawadhu’ adalah sifat para nabi dan orang-orang shalih. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Belajarlah tawadhu’ sebelum kalian diberi kedudukan.” Karena jabatan dan kelebihan sering kali menjadi pintu masuk kesombongan. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119