Syaikh Adil bin Abdullah as-Sa’i menuturkan dalam bukunya, Tadzkiratul Ihwan bi Khatimatil Insan;
Seorang yang memandikan jenazah bercerita kepadaku, ia memandikan jenazah seseorang, warna kulitnya menguning, setelah dimandikan wajah jenazah itu menghitam. Aku bertanya kepadanya: “Hitam seperti jenggotku?” ia menjawab: “Hitam seperti arang.” la melanjutkan kisahnya: “Dari matanya keluar darah, ia sepertinya menangis darah, semoga Allah melindungi kita semua dari hal itu.” Petugas itu menuturkan: “Dulu ia teman saya.” Aku bertanya: “Kau lihat hal itu?” Ia menjawab: “Ya.” Aku bertanya:
“Apa warna kulit badannya berubah?” la menjawab: “Tidak, hanya wajah saja.”
Sebagian lainnya bercerita kepadaku, ia berkata: “Suatu ketika aku bertandang ke tempat salah seorang teman, mereka tengah memandikan jenazah, aku lihat wajahnya menghitam seperti piringan terbakar, badannya kuning, pemandangannya menakutkan, setelah itu sebagian keluarga datang untuk melihat, melihat jenazah dalam kondisi seperti itu, mereka lari ketakutan.” Semoga Allah dengan karunia dan kemuliaan-Nya berkenan memberikan keselamatan dan penutupan aib di dunia dan akhirat.
BACA JUGA: Sebab-sebab Su’ul Khatimah (Kematian yang Buruk)
Sebagian lainnya bercerita kepadaku, ia berkata: “Saat kau meletakkan jenazah seseorang di dalam kubur dan aku hadapkan wajahnya ke arah kiblat, aku lihat wajahnya beralih ke bawah dan hidungnya menancap ke tanah, aku hadapkan lagi ke arah kiblat dan di bawah kepalanya aku beri tanah, kepalanya kembali menghadap ke bawah dan hidungnya menancap ke tanah, setelah itu di bawah kepalanya aku beri pasir agak banyak agar kepalanya tidak berbalik, sayangnya kepala jenazah itu kembali mengarah ke bawah dan hidungnya menancap ke tanah, kondisi jenazah terus seperti itu hingga terulang sebanyak lima kali. Setelah merasa putus asa, aku tinggalkan jenazah dalam kondisi seperti itu lalu aku tutup kuburnya.”
Berikut kisah seorang pemuda dari keluarga Abbas. Dikisahkan, ia mengalami kejadian menakutkan di tengah perjalanan Makkah menuju Jeddah. Penutur kisah yang menyaksikan langsung kejadian itu menuturkan;
Saat melihat pemandangan mobil dan kondisi luarnya, aku dan teman-teman yang turut bersamaku berkata: Ayo kita turun untuk melihat kondisi orang yang ada di mobil itu. Setelah mendekati orang yang ada di dalam mobil, ternyata ia tengah sekarat. Kami lihat tape mobil masih menyala, terdengar bunyi lagu-lagu barat yang batil. Kami mematikan tape, kemudian kami melihat kondisi orang itu dan sakaratul maut yang ia alami.
Kami berkata: Ini kesempatan, semoga melalui usaha kita semua Allah memberikan keberuntungan untuk orang ini di dunia dan akhirat. Kami berkata kepada orang itu: Pak, ucapkan: La ilaha illallah. Tahukah saudaraku, apa yang diucapkan orang itu di akhir masa hidupnya. Ia mengucapkan kata-kata dengan dialek pasarannya -semoga Allah melindungi kita semua dari hal itu: Terkutuklah agamamu, agamanya agamamu, aku tidak pernah shalat, aku tidak pernah puasa. Setelah itu ia mati dalam kondisi seperti itu. Semoga Allah melindungi kita semua dari kehinaan.
Seseorang bercerita: Ada yang bertutur kepadaku, ia berkata: “Aku bepergian untuk keperluan belajar ke Amerika Serikat, aku sama seperti pemuda lain pada umumnya yang menghabiskan malam di tempat-tempat permainan dan diskotik. Pada suatu hari, kami pulang setelah bermain-main. Salah satu dari kami masuk asrama, sementara yang lain belum pulang. Kami bilang: Mungkin sebentar lagi juga pulang. Kami terus menantinya namun tidak juga datang. Kami turun untuk mencarinya ke sana ke mari, akhirnya kami berkata: la pasti berada di tempat parkiran di basemen. Kami menuju tempat parkiran, kami lihat mesin mobilnya masih menyala, kawan kami diam tidak bergerak di dalam mobil, musik juga masih berbunyi sejak akhir malam tadi hingga saat itu.
Kami buka pintu mobil itu lalu kami memanggil-manggil: Kawan, kawan. Ternyata ia sudah tewas sejak saat ia memarkir mobil di parkiran itu. Seperti itulah kisah sedih pemuda itu, kisah yang menyadarkan hati sebagian besar pemuda, mendorong mereka untuk bertaubat dan kembali kepada Allah.
Akhirnya para pemuda bertaubat dan kembali kepada Allah, mereka tidak pernah lagi minum-minuman, tidak lagi bergaul bebas, mereka bersikap tenang dan bertaubat berkat kemuliaan Allah, disamping itu mereka juga memetik pelajaran dari kondisi teman mereka yang mati dalam keadaan melakukan kemaksiatan. Kisah akhir hidup teman mereka menjadi pelajaran bagi yang mau memetik pelajaran. Sementara pemuda lain yang lalai menjauhi peristiwa dan pelajaran ini.
Berikut kisah seorang pemuda menyimpang yang bepergian ke Bangkok untuk berbuat keji dan lacur. Saat mabuk, ia menunggu kekasihnya yang terlambat datang, tidak lama setelah itu kekasihnya datang. Melihatnya, ia langsung tersungkur sujud seraya mengagungkan si wanita itu, belum juga ia bangun dari sujud batil itu melainkan sudah digotong orang. Ia meninggal dunia dalam kondisi seperti itu. Semoga Allah melindungi kita dari su ul khatimah.
Imam Ibnu Abiddunya berkata: “Seseorang bercerita kepadaku, seorang putrinya meninggal dunia, ia menurunkan jenazah putrinya ke liang kubur, saat memperbaiki bata makam, ternyata jenazah putrinya beralih menjauh dari arah kiblat. Orang itu berkata: Karena itulah aku sangat sedih. Ia meneruskan: Aku bermimpi bertemu dengan putriku, putriku berkata: Sebagian besar penghuni kubur di sekitarku beralih dari arah kiblat. Sepertinya putriku bermaksud, mereka meninggal dunia dalam kondisi melakukan dosa-dosa besar.”
Syaikh Al-Qahthani bercerita: “Suatu ketika aku pergi ke pemakaman setelah shalat ashar, saat itu kami mengubur jenazah seseorang. Tanganku masih lusuh dengan tanah, aku ingin membasuh tangan kemudian datang jenazah lain, salah seorang dari lima puluh orang pengantar jenazah berkata kepadaku:
BACA JUGA: Kisah-kisah Su’ul Khatimah
Demi Allah, bantulah kami untuk mengubur jenazah orang ini. Demi Allah kami tidak bisa mengubur jenazah dengan baik. Aku menyela di antara dua orang yang mengangkat jenazah, jenazahnya sangat berat sekali kemudian sebagian dari pengantar meno-longku lalu aku letakkan jenazah itu di liang kubur, aku mencari bata untuk aku letakkan di bawah kepalanya, setelah itu ikatan kafan aku lepaskan, aku lihat wajah si mayit beralih menjauh dari arah kiblat-naudzu billah seperti ini, orang itu meniru kondisi si mayit yang memalingkan wajah dari arah kiblat.
Aku balikkan wajah si mayit ke arah kiblat, setelah itu aku ambil bata lainnya, saat itu aku melihat matanya terbelalak, hidung dan mulutnya mengeluarkan darah segar, aku merasa takut hingga aku merasa kedua kakiku tidak mampu menahan berat tubuhku di liang kubur. Ada dua atau tiga orang yang melihat kejadian aneh itu bersamaku. Setelah itu mereka memberiku bata ketiga, ternyata wajah sı mayit untuk kali ketiga beralih menjauh dari arah kiblat. Akhirnya aku tinggalkan mayit itu, kemudian aku tinggalkan makam itu.
Setelah itu dua atau tiga orang yang bersamaku di liang kubur itu naik, mereka menutupi kuburan itu dengan tanah tanpa menutup liang lahat karena ketakutan. Saat tidur, aku memimpikan mayit itu sebanyak tujuh atau delapan kali hingga Allah menenangkan hatiku saat pergi menunaikan ibadah umrah, aku tinggal di sana selama lima belas hari sampai aku melupakan kejadian itu dan kembali lagi ke Riyadh. []
Sumber: Ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah (Misteri Kematian – Menguak Fenomena Kematian & Rentetan Peristiwa Dahsyat Menjelang Kiamat / Penulis: Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli / Cetakan Pertama: Rabiul Awwal 1439 H/Nopember 2017 M / Penerbit: Pustaka Dhiya’ul Ilmi
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

