Home SirahHijrah ke Habasyah yang Pertama

Hijrah ke Habasyah yang Pertama

Cerita tentang Gharaniq dan sujudnya orang-orang musyrik ini didengar para Muhajirin di Habasyah, tetapi dengan versi yang berbeda.

by Abu Umar
0 comments 446 views

Berbagai tekanan yang dilancarkan orang-orang Quraisy dimulat pada pertengahan atau akhir tahun keempat dari kenabian, terutama diarahkan kepada orang-orang yang lemah. Hari demi hari dan bulan demi bulan tekanan mereka semakin keras hingga pertengahan tahun kelima.

Mekkah terasa sempit bagi orang-orang Muslim yang lemah itu. Mereka mulai berpikir untuk mencari jalan keluar dari siksaan yang pedih ini. Dalam kondisi yang sempit dan terjepit ini, surat Al-Kahf turun, sebagai sanggahan terhadap berbagai pertanyaan yang disampaikan orang-orang musyrik kepada Nabi Surat ini meliputi tiga kisah, di samping di dalamnya terkandung isyarat dari Allah terhadap hamba hamba-Nya yang beriman.

Kisah pertama, tentang Ashhabul Kahfi yang diberi petunjuk untuk hijrah dari pusat kekufuran dan permusuhan, karena dikhawatirkan mendatangkan cobaan terhadap agama, dengan memasrahkan diri kepada Allah. Firman-Nya:

وَإِذِ اعْتَرَ لَتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إلا الله فأونا إلى الكهف ينشر لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحْمَتِهِ وهني لكم من أمركز مرفقات

“Dan apabila kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung di dalam gua itu, niscaya Rabb kalian akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada kalian dan menyediakan sesuatu yang berguna bagi kalian dalam urusan kalian.” (Al-Kahf: 16),

BACA JUGA:  Dakwah Nabi di atas Bukit Shafa

Kisah kedua, tentang Khidhr dan Musa. Kisah ini memberikan suatu pengertian bahwa berbagai hal tidak selamanya bisa berjalan dan berhasil dengan bergantung kepada apa yang dilihat oleh kasat mata saja, tetapi permasalahannya bisa berbalik total tidak seperti yang tampak.

Di sini terdapat isyarat yang lembut bahwa usaha memerangi orang-orang Muslim bisa membalikkan kenyataan secara total, dan orang-orang musyrik yang berbuat semena-mena terhadap orang-orang Muslim yang lemah itu bisa di balik keadaannya.

Kisah ketiga, tentang Dzul Qarnain, yang memberikan suatu pengertian bahwa bumi ini adalah milik Allah, yang diwariskan oleh-Nya kepada siapapun yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya.

Keberuntungan hanya diperoleh di jalan iman, bukan di jalan kekufuran. Dari waktu ke waktu Allah akan senantiasa menurunkan orang yang siap membela dan menyelamatkan orang-orang yang lemah, seperti Ya’juj dan Ma’juj pada zaman itu. Dan bahwa yang layak mewarisi bumi ini adalah hamba-hamba Allah yang saleh.

Kemudian surat Az-Zumar turun yang mengisyaratkan hijrah dan menyatakan bahwa bumi Allah ini tidaklah sempit. Dalam hal ini Allah berfirman:

للَّذِينَ أَحْسَنُوا في هذه الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَسِعَةُ إِنَّمَا يُوَقِّى الصَّبِرُونَ أَجْرَهُم بغير حساب :

“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10).

Rasulullah mengetahui bahwa Ashhamah An-Najasyi, raja yang berkuasa di Habasyah adalah seorang raja yang adil, tidak akan ada seorang pun yang teraniaya di sisinya. Maka beliau memerintahkan agar beberapa orang Muslim hijrah ke Habasyah, melarikan diri dari cobaan untuk menyelamatkan agamanya.

Pada bulan Rajab tahun kelima dari kenabian, sejumlah shahabat hijrah yang pertama kali ke Habasyah, terdiri dari dua belas orang laki-laki dan empat orang wanita, yang dipimpin Utsman bin Affan. Dalam rombongan ini ikut pula Sayyidah Ruqayyah, putri Rasulullah. Beliau bersabda tentang keduanya, “Mereka berdua adalah penduduk Baitul Haram pertama yang hijrah di jalan Allah setelah Ibrahim dan Luth.”

Dengan berjalan mengendap-endap di tengah malam, mereka pergi menuju pinggir pantai, agar tidak diketahui orang-orang Quraisy. Secara kebetulan saat mereka tiba di pelabuhan Syaibah, ada dua kapal datang

yang bertolak menuju Habasyah. Setelah orang-orang Quraisy mengetahui kepergian orang-orang Muslim ini, mereka segera mengejar. Tapi tatkala mereka tiba di pinggir pantai, orang-orang Muslim sudah bertolak dengan selamat. Orang-orang Muslim hidup di sana dan mendapat perlakuan yang baik.

Pada bulan Ramadhan di tahun yang sama, Nabi keluar ke Masjidil Haram, yang saat itu para pemuka dan pembesar Quraisy sedang berkumpul di sana. Beliau berdiri di hadapan mereka, lalu seketika itu membacakan surat An-Najm.

Orang-orang kafir itu tidak pernah mendengarkan Kalam Allah yang seperti itu sebelumnya. Sebab, redaksi mereka panjang-panjang seperti biasanya, memaksa sebagian di antara mereka untuk menjelaskan kepada sebagian yang lain, sebagaimana yang dijelaskan Allah:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لهذا الْقُرْءَانِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ :

“Dan orang-orang yang kafir berkata, Janganlah kalian mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kalian dapat mengalahkan.” (Fushshilat: 26).

Namun, ketika dilantunkan bacaan surat ini, gendang telinga mereka diketuk kalam ilahi yang indah menawan, yang keindahannya sulit dilukiskan dengan suatu gambaran. Mereka diam terpesona, menyimak isinya dan semua orang khidmat mendengarnya, sehingga tidak ada pikiran lain yang melintas di dalam benak mereka.

Tatkala beliau membacakan penutup surat ini, hati mereka serasa terbang. Akhirnya beliau membaca ayat yang terakhir: “Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).” (An-Najm 62). Mereka pun sujud. Tak seorang pun mampu menguasai diri, dan mereka semua merunduk dalam keadaan sujud. Sebenarnya, sinar-sinar kebenaran telah merasuk ke dalam jiwa orang-orang yang sombong dan selalu mengolok-olok itu. Mereka tidak mampu menahan diri untuk sujud.”

Mereka menyesali perbuatan mereka sendiri sebelumnya karena merasakan keagungan Kalam Allah yang benar-benar telah menguasai kendali mereka. Saat itu mereka telah melakukan apa yang sebelumnya hendak mereka punahkan dan lenyapkan. Setelah itu mereka yang sujud itu mendapat cercaan dan makian dari segala arah, yaitu yang dilontarkan orang-orang musyrik yang tidak ikut sujud.

BACA JUGA:  

banner

Perlindungan Allah bagi Rasulullah dan Abu Bakar ketika Hijrah

Pada saat itulah mereka mendustakan Rasulullah dan mengada-adakan perkataan untuk memojokkan beliau, bahwa beliau menyebutkan nama-nama berhala mereka dengan ungkapan berisi sanjungan, bahwa beliau berkata tentang berhala-berhala itu, “Itulah Gharaniq yang luhur, yang syafaatnya benar-benar diharapkan. Mereka membuat kedustaan yang nyata ini.”

Cerita tentang Gharaniq dan sujudnya orang-orang musyrik ini didengar para Muhajirin di Habasyah, tetapi dengan versi yang berbeda.

Nabi tidak melihat cara lain kecuali memerintahkan mereka hijrah untuk kedua kalinya ke Habasyah. Hijrah kali ini lebih sulit daripada hijrah yang pertama. Sebab, orang-orang Quraisy semakin meningkatkan kewaspadaan dan menetapkan untuk menggagalkan usaha orang-orang Muslim untuk hijrah. Namun, Allah melapangkan jalan bagi mereka untuk pergi ke Habasyah, sebelum orang-orang Quraisy mengetahuinya. Kali ini yang hijrah berjumlah 83 orang laki-laki-bila Ammar termasuk di dalamnya sebab ada keraguan apakah ia ikut atau tidak- dan delapan belas atau sembilan belas wanita. Allamah Muhammad Sulaiman Al-Manshurfuri menetapkan yang pertama (18 wanita). []

Sumber: Sirah Nabawiyah Peerjalanan Hidup Yang Agung Muhammad/ Penulis: Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri/ Penerbit: Darussalam

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119