Home SirahAbu Dzar Al-Ghifari: Datang Sendirian, Pergi Sendirian

Abu Dzar Al-Ghifari: Datang Sendirian, Pergi Sendirian

Dalam perjuangan Islam, yang membuat seseorang mulia bukanlah berapa banyak orang yang berdiri di sekelilingnya.

by Abu Umar
0 comments 6 views

Bayangkan…

Seorang lelaki berjalan sendirian menuju Makkah.

Tidak membawa pasukan.

Tidak membawa pengawalan.

Tidak membawa harta.

Bahkan ia tidak tahu persis di mana orang yang sedang dicarinya berada.

Ia hanya membawa satu pertanyaan:

Siapakah Muhammad yang mengaku sebagai seorang nabi?

Lelaki itu adalah Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu.

Ia berasal dari kabilah Ghifar.

Ketika berita tentang munculnya seorang nabi di Makkah sampai kepadanya, Abu Dzar meminta saudaranya pergi terlebih dahulu untuk mencari informasi.

BACA JUGA:  Abu Dzar al-Ghifari dan 7 Pesan dari Rasulullah

Saudaranya kembali dan mengatakan bahwa Muhammad ﷺ mengajak manusia kepada akhlak yang baik dan perkataannya bukanlah syair.

Tetapi Abu Dzar belum puas.

Ia pun berangkat sendiri menuju Makkah.

Sesampainya di sana, ia tidak mengenal Rasulullah ﷺ.

Dan ia tidak mau bertanya kepada orang-orang Quraisy.

Sebab ia tahu, mereka adalah pihak yang memusuhi dakwah baru itu.

Maka selama beberapa waktu, Abu Dzar berada di sekitar Ka’bah.

Hingga akhirnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu melihat seorang asing yang tampak membutuhkan bantuan.

Ali membawanya.

Namun keduanya tidak banyak bertanya.

Malam pertama berlalu.

Malam kedua juga demikian.

Sampai hari ketiga, Ali akhirnya bertanya,

“Apa yang membawamu ke kota ini?”

Abu Dzar menjawab bahwa ia akan menceritakannya jika Ali berjanji akan menunjukkan jalan kepadanya.

Ali menyanggupinya.

Maka Abu Dzar mengungkapkan maksud kedatangannya.

Ali berkata,

“Sesungguhnya dia adalah Rasulullah ﷺ.”

Keesokan harinya, Abu Dzar mengikuti Ali hingga bertemu Rasulullah ﷺ.

Ia mendengarkan dakwah beliau.

Dan saat itu juga…

Abu Dzar masuk Islam.

Namun Rasulullah ﷺ memintanya kembali kepada kaumnya sampai datang perintah berikutnya.

Tetapi Abu Dzar memiliki karakter yang luar biasa.

Ia tidak bisa menyimpan keyakinannya terlalu lama.

Ia berkata bahwa ia akan mengumumkan keislamannya di hadapan orang-orang Quraisy.

Lalu ia pergi menuju Ka’bah.

Dan dengan suara lantang ia berkata,

“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Apa yang terjadi?

Orang-orang Quraisy langsung menyerangnya.

Ia dipukuli sampai jatuh.

Kemudian Al-Abbas radhiyallahu ‘anhu datang melindunginya.

Namun Abu Dzar melakukannya lagi keesokan harinya.

Ia kembali mengumumkan tauhid.

Dan kembali dipukuli.

Peristiwa itu bahkan terjadi lagi.

Tiga hari.

Seorang lelaki datang sendirian…

Menyatakan Islam sendirian…

Dan berani berdiri di tengah masyarakat yang memusuhinya.

Hingga akhirnya Rasulullah ﷺ memerintahkannya pulang kepada kaumnya.

Abu Dzar pun kembali.

Ia mendakwahi keluarganya.

Kemudian mendakwahi kaumnya.

Dan Islam perlahan menyebar di tengah Bani Ghifar.

Begitulah Abu Dzar.

Tetapi kisahnya belum selesai.

Bertahun-tahun kemudian, setelah Rasulullah ﷺ wafat dan Islam berkembang sangat luas, kehidupan Abu Dzar tetap sederhana.

Ia dikenal sebagai sahabat yang sangat kuat dalam kezuhudan dan sangat tegas dalam mengingatkan tentang harta dan kehidupan dunia.

Dan di sinilah kisahnya memasuki bagian yang sering membuat kita terdiam.

Abu Dzar akhirnya tinggal di sebuah tempat bernama Ar-Rabadzah, di luar Madinah.

Ia wafat di sana sekitar tahun 32 Hijriah.

Dan ada riwayat yang menggambarkan betapa sunyinya akhir kehidupan beliau.

Seorang sahabat besar yang dahulu datang ke Makkah seorang diri…

Kini menghadapi kematian di tempat yang jauh dari keramaian.

Dalam salah satu riwayat sejarah disebutkan bahwa Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melewati tempat itu dan kemudian mengurus jenazah Abu Dzar.

Maka kisah Abu Dzar seolah memiliki lingkaran yang sempurna.

Ia datang sendirian.

Ia berdiri mempertahankan tauhid ketika hampir semua orang menolaknya.

Ia pergi menjalankan dakwah.

Dan pada akhirnya…

ia wafat dalam kesendirian di Ar-Rabadzah.

Tetapi mungkin justru di sinilah pelajaran terbesarnya.

Dalam perjuangan Islam, yang membuat seseorang mulia bukanlah berapa banyak orang yang berdiri di sekelilingnya.

Bukan pula seberapa terkenal namanya.

Tetapi…

apakah ia tetap berdiri ketika manusia meninggalkannya?

Abu Dzar mengajarkan bahwa terkadang jalan menuju Allah memang sepi.

Terkadang kita harus berjalan ketika tidak banyak orang memahami.

Terkadang kita harus mempertahankan kebenaran ketika tidak mendapatkan tepuk tangan.

Dan terkadang, manusia datang ke dunia sendirian…

menjalani hidup dengan amalnya sendiri…

dan pada akhirnya meninggalkan dunia juga sendirian.

BACA JUGA:  Abu Qilabah: Lelaki yang Tetap Bersyukur di Tengah Ujian

Maka pertanyaannya bukan:

“Berapa banyak orang yang bersamaku?”

Tetapi:

“Ketika aku sendirian di hadapan Allah nanti, apa yang sudah kubawa?”

Semoga Allah meridhai Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu.

Seorang lelaki yang datang ke Makkah seorang diri…

menemukan Rasulullah ﷺ…

menemukan Islam…

lalu menghabiskan hidupnya untuk mempertahankan keyakinan itu.

Dan semoga kita pun diberi keteguhan…

untuk tetap berada di jalan Allah,

meskipun jalan itu terkadang terasa sepi. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119