Salah satu prinsip penting dalam keimanan adalah meyakini bahwa Allah Ta’ala tidak menciptakan dan menetapkan sesuatu dengan sia-sia.
Setiap perbuatan dan ketetapan Allah memiliki hikmah yang sempurna, baik hikmah tersebut dapat kita pahami maupun tidak.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa akal yang sehat dan fitrah yang lurus menunjukkan sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah: Allah Mahabijaksana dan tidak melakukan sesuatu tanpa tujuan. Semua perbuatan-Nya memiliki hikmah agung yang menjadi tujuan di balik ketetapan-Nya.
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan bahwa berbagai perbuatan dan ketetapan Allah tidak semata-mata terjadi karena kehendak-Nya, tetapi di baliknya terdapat hikmah yang besar.
Allah Ta’ala berfirman:
“Kamu tidak dapat menghendaki, kecuali apabila Allah menghendaki. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Insan: 30)
BACA JUGA: Talbis Iblis atas Orang Awam Terkait Majelis Dzikir
Jangan Menjadikan Hikmah sebagai Syarat Iman
Manusia boleh berusaha memahami hikmah di balik suatu ketetapan Allah. Namun, ada batas yang harus dijaga.
Kita tidak boleh menjadikan ketidakmampuan memahami hikmah sebagai alasan untuk meragukan ketetapan Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya: 23)
Karena itu, pertanyaan seperti “Mengapa Allah membiarkan Iblis hidup dan menggoda manusia?” seharusnya tidak disampaikan dengan nada mempertanyakan atau menyalahkan keputusan Allah.
Yang tepat adalah mencari dan memahami hikmah tersebut dengan tetap disertai sikap tunduk kepada-Nya.
Iblis Juga Berada di Bawah Kekuasaan Allah
Iblis bukanlah makhluk yang berada di luar kendali Allah.
Ia dan seluruh makhluk adalah ciptaan Allah dan berada di bawah kekuasaan-Nya.
Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa tidak selayaknya seorang hamba mempertanyakan keputusan Allah terkait kehidupan, kematian, kemuliaan, kehinaan, dan berbagai ketetapan-Nya. Allah adalah Pemilik seluruh makhluk dan Penguasa atas mereka.
Hukum dan keputusan adalah milik-Nya.
Hakikat Penghambaan adalah Tunduk
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa inti penghambaan kepada Allah dan keimanan kepada-Nya, kitab-kitab-Nya, serta para rasul-Nya adalah ketundukan.
Seorang mukmin menerima perintah dan larangan Allah, meskipun belum mengetahui seluruh hikmah di baliknya.
Jika hikmahnya diketahui, ia bersyukur dan mengakuinya. Jika belum diketahui, ia tetap tunduk dan tidak menjadikan pemahaman tersebut sebagai syarat untuk beriman.
Inilah sikap seorang hamba terhadap Rabb-nya.
BACA JUGA: Talbis Iblis terhadap Kaum Fakir
Belajar Bertanya dengan Adab
Islam tidak melarang manusia berpikir dan mencari hikmah. Bahkan, memahami hikmah syariat dapat memperkuat keimanan.
Namun, cara bertanya harus tetap menunjukkan pengagungan kepada Allah.
Kita boleh bertanya, “Apa hikmah yang dapat kita pelajari dari ketetapan Allah tentang Iblis?”
Tetapi jangan sampai pertanyaan berubah menjadi sikap seolah-olah keputusan Allah harus dipertanggungjawabkan kepada manusia.
Seorang hamba memiliki keterbatasan ilmu, sedangkan Allah Mahamengetahui segala sesuatu.
Karena itu, ketika belum memahami sebuah ketetapan, sikap terbaik adalah berkata dalam hati:
“Allah pasti memiliki hikmah yang sempurna, meskipun aku belum mampu memahaminya.”
Di situlah terlihat kesempurnaan iman: berusaha memahami dengan akal, tetapi tetap tunduk dengan hati.
Wallahu a’lam. []
RUJUKAN: ISLAMQA
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

