Home Tanya JawabBerlindung dari Neraka

Berlindung dari Neraka

Seorang mukmin hendaknya senantiasa berhati-hati terhadap dosa sekaligus memperbanyak istighfar dan taubat.

by Abu Umar
0 comments 8 views

Pertanyaan: Ketika seseorang berlindung dari siksa Jahannam, apakah yang dimaksud adalah berlindung kepada Allah dari perbuatan maksiat yang bisa menyeretnya ke Neraka Jahannam, atau berlindung kepada Allah dari Jahannam itu sendiri?

Jawaban:

Beliau menjawab bahwa ucapan tersebut mencakup perlindungan dari dua perkara.

Pertama, berlindung kepada Allah dari adzab Jahannam, yakni berlindung dari perbuatan-perbuatan yang dapat menyebabkan seseorang terseret ke dalam adzab Jahannam.

Kedua, berlindung kepada Allah dari adzab Jahannam itu sendiri, yakni memohon perlindungan dari siksaan Jahannam apabila seseorang telah mengerjakan sebab-sebab yang mengharuskannya mendapatkan azab tersebut.

BACA JUGA: Jika Seorang Wanita Memiliki 2 Suami di Dunia, Siapakah Suaminya di Surga?

Manusia berada di antara dua keadaan.

Mungkin dia terjaga dari dosa. Inilah yang dimaksud dengan berlindung dari mengerjakan sebab-sebab yang dapat menyeretnya kepada azab.

Atau mungkin dia melakukan dosa, kemudian memohon ampun kepada Allah. Inilah yang dimaksud dengan memohon perlindungan dari adzab.

Namun, perkataan “terjaga dari dosa” bukan berarti seseorang ma’shum secara mutlak. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Setiap Bani Adam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang bertaubat.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, Shahihul Jami’: 4515)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Seandainya kalian tidak berdosa, sungguh Allah akan menghilangkan kalian dan pasti akan mendatangkan suatu kaum yang berdosa, lalu mereka meminta ampun kepada Allah, kemudian Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim)

BACA JUGA: Bagaimana Terjadinya Hisab pada Hari Kiamat?

Dengan demikian, berlindung dari neraka bukan hanya berarti meminta agar Allah menyelamatkan kita dari api Jahannam.

Di dalamnya juga terkandung permohonan agar Allah menjaga kita dari perbuatan-perbuatan dosa yang dapat menjadi sebab seseorang masuk ke dalamnya.

Karena manusia tidak luput dari kesalahan, maka seorang mukmin hendaknya senantiasa berhati-hati terhadap dosa sekaligus memperbanyak istighfar dan taubat.

Inilah keseimbangan seorang hamba: berusaha menjauhi dosa, dan ketika terjatuh dalam kesalahan, segera kembali kepada Allah dengan taubat dan memohon ampunan-Nya.

(Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh, 2/61)  []

Sumber: Al-Fatawa Al-Muhimmah (Fatwa-fatwa Penting dalam Sehari-hari jilid 1) / Penulis: Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin / Penerbit: Pustaka as-Sunnah / Cetakan 2, Maret 2012

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119