Home SirahKhadijah Memilih Rasulullah ﷺ

Khadijah Memilih Rasulullah ﷺ

Akad nikah pun dilangsungkan, hewan-hewan yang telah disiapkan disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada kaum fakir.

by Abu Umar
0 comments 6 views

Khadijah terenyak dari alam khayalannya dan beralih kepada kehidupan nyata yang dialaminya. Ia merenungkan dan memikirkan perihal Muhammad. Alhasil, ia menyimpulkan bahwa Muhammad adalah sosok laki-laki yang cocok dan menjadi idamannya selama ini.

Berbagai bukti dan fakta menunjukkan bahwa Muhammad adalah orang yang paling pantas menyandang risalah sebagai nabi terakhir. Sejak itu, Khadijah berharap dapat menjadi istri Muhammad. Akan tetapi, bagaimana caranya?

Khadijah sadar bahwa dirinya adalah seorang wanita yang memiliki garis keturunan terhormat dan kaya raya, pikirannya matang dan cerdas.

Wanita seperti dia banyak didambakan oleh tokoh-tokoh terkemuka Quraisy. Hanya saja, kebanyakan di antara mereka dipandang terlalu rendah oleh Khadijah, ketika tahu bahwa ketertarikan mereka kepadanya lebih didorong oleh hasrat menguasai harta daripada jiwanya. Mereka lebih menghendaki kekayaan, dan menjadikan pernikahan sebagai batu loncatan.

Akan tetapi, ketika mengenal Muhammad, Khadijah menemukan potret laki-laki yang berbeda. Ia menemukan sosok lelaki yang tidak diperbudak oleh harta. Barangkali, ketika mengevaluasi orang-orang yang pernah mengendalikan perniagaannya, ia menemukan sifat kikir dan mencari-cari celah untuk mendapat penghasilan tambahan.

BACA JUGA:  Hikmah Nabi Menikah dengan Khadijah

Berbeda dengan Muhammad, ia adalah orang yang dengan kehormatannya telah menunjukkan perbuatan yang mulia dan mau berkorban. Muhammad tidak tergiur dengan hartanya dan tidak pula tergoda dengan kecantikannya. Hal ini terbukti ketika setelah menyelesaikan tugas dan menyerahkan barang-barang dagangan kepada Khadijah, ia langsung pergi dengan perasaan puas atas imbalan yang diterimanya.

Kali ini, Khadijah seakan-akan telah menemukan kembali barang berharganya yang telah lama hilang.

Di tengah kebingungan dan kerisauannya, datanglah seorang sahabat karib Khadijah yang bernama Nafisah binti Munabbih. Ia duduk di samping Khadijah dan mulai terlibat perbincangan yang sangat hangat.

Setelah sekian lama berbicara, Nafisah berhasil menangkap hasrat tersembunyi di balik nada bicara dan raut muka Khadijah. Nafisah berhasil mengungkapkan kerisauan Khadijah.

Nafisah berusaha meredakan kegelisahan Khadijah dan menenangkan perasaannya. Ia menyatakan bahwa Khadijah tidak pantas memiliki perasaan seperti itu, karena ia adalah seorang wanita yang terhormat, berasal dari keturunan yang terpandang, kaya raya, dan cantik jelita. Buktinya, sudah banyak tokoh-tokoh Quraisy yang berusaha mempersuntingnya.

Setelah keluar dari rumah Khadijah, Nafisah langsung bergegas menjumpai Muhammad dan membujuknya agar mau menikah dengan Khadijah. Nafisah berkata, “Wahai Muhammad, apa yang menghalangimu untuk segera menikah?” Muhammad menjawab, “Aku tidak memiliki bekal (harta) untuk menikah.”

Nafisah berkata, “Bagaimana jika masalah harta tidak dianggap menjadi masalah dan ada yang menawarkan kepadamu kekayaan, kecantikan, kemuliaan, dan kesetaraan. Apakah engkau mau menikahinya?” Dengan penuh keheranan, Muhammad bertanya, “Siapa dia?” Nafisah langsung menjawab, “Khadijah binti Khuwailid.” Muhammad berkata, “Seandainya dia benar-benar menawarkan hal itu kepadaku, tentu aku akan menerimanya.”

Dengan sangat girang, Nafisah segera menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut. Sedangkan Nabi saw. menemui paman-pamannya untuk menyampaikan keinginannya menikah dengan Khadijah.

Singkat cerita, Abu Thalib, Hamzah, dan paman-paman Nabi saw. lainnya menemui paman Khadijah, ‘Amr bin Asad untuk menyampaikan pinangan Muhammad kepada Khadijah sambil membawa shadaaq (mahar).

Dalam pertemuan yang sederhana tersebut, Abu Thalib menyampaikan pidatonya. Abul Abbas Al-Mubarrid rahimahullah, dan perawi lainnya menyatakan bahwa Abu Thalib menyampaikan pidato pinangan seperti berikut:

“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita semua sebagai keturunan Ibrahim, keturunan Ismail, berasal dari darah Ma’ad dan unsur keturunan Mudhar. Kita telah dijadikan sebagai pemelihara rumah-Nya (Ka’bah, penj.) dan pengatur tanah suci-Nya.

Dia telah memberi kita rumah (Ka’bah) yang terjaga, tanah suci yang aman sejahtera, dan kita menjadi pemimpin manusia.

Saya harus menyampaikan bahwa sesungguhnya keponakanku ini, Muhammad bin Abdullah, jika dibandingkan dengan lelaki mana pun, maka dia akan lebih unggul darinya, baik dalam kebaikan, keutamaan, kemuliaan, kematangan berpikir, keagungan, dan kehebatan.

Meskipun jika dilihat dari segi harta dan kekayaan, maka dia tidaklah berarti apa-apa. Akan tetapi, harta hanyalah bayangan yang akan sirna, benda yang akan hilang, dan pinjaman yang akan dikembalikan kepada pemilik sebenarnya.

BACA JUGA:  6 Anak dari Khadijah

Muhammad adalah seorang lelaki yang telah kalian ketahui latar belakang keluarganya. Ia bermaksud hendak meminang Khadijah binti Khuwailid. Untuk itu, ia memberikan mahar sebesar 20 ekor unta yang dipinjam dari hartaku dan akan dikembalikan sebatas kemampuannya, cepat ataupun lambat.”

Dalam sebuah riwayat dinyatakan, “Dia telah menyerahkan mahar perkawinannya sebesar 12,5 uqiyah emas.”

Abu Thalib menutup pidatonya dengan mengatakan, “Demi Allah, dia (Muhammad) akan memiliki peran yang sangat besar dan kedudukan yang agung di masa yang akan datang, maka terimalah pinangannya untuk menikah dengan Khadijah.”

Akad nikah pun dilangsungkan, hewan-hewan yang telah disiapkan disembelih dan dagingnya dibagi-bagikan kepada kaum fakir. Rumah Khadijah dibuka untuk menerima ucapan selamat dari segenap keluarga dan kerabat.

Saat itu, sang wanita suci, Khadijah ra., berusia 40 tahun yang merupakan usia matang seorang ibu, sedangkan Muhammad saw. berusia 25 tahun yang merupakan usia matang seorang pemuda.

Setelah melangsungkan pernikahan yang penuh berkah tersebut, Khadijah ra. menunjukkan dirinya sebagai seorang istri yang sangat mencintai suami sekaligus sebagai ibu yang sangat penyayang, lembut, dan baik terhadap anak-anaknya, semoga Allah meridhainya. []

Sumber: 35 Sirah Shahabiyah (35 Sahabat Wanita) Rasulullah ﷺ, Jlid 1, Karya: Mahmud Al Misri, Penerbit:Al I’tishom Cahaya Umat, Cetakan ke-11 November 2018  

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119