Wudhu bukan sekadar cara untuk menyucikan anggota tubuh sebelum melaksanakan ibadah. Di dalamnya terdapat keutamaan yang besar bagi seorang muslim. Wudhu menjadi bagian dari kesempurnaan bersuci, sebab dengannya seorang hamba mempersiapkan diri untuk menghadap Allah dalam keadaan bersih dan suci.
Selain menjadi syarat bagi ibadah tertentu, wudhu juga memiliki banyak keutamaan sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits Rasulullah Muhammad ﷺ. Wudhu dapat menjadi sebab terhapusnya dosa, terangkatnya derajat, terbukanya jalan menuju surga, hingga menjadi cahaya bagi seorang hamba pada hari kiamat. Berikut di antara keutamaan wudhu yang disebutkan dalam hadits.
1. Bersuci adalah Setengah dari Iman
Diriwayatkan oleh Abu Malik Al-Asy’ari, ia menuturkan bahwa Nabi bersabda:
الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيْمَانِ
“Bersuci (wudhu’) adalah separuh iman.”
2. Menghapus Dosa-Dosa Kecil
Dari Abu Hurairah, ia menuturkan bahwa Nabi bersabda, “Jika seorang muslim-mukmin-berwudhu, ketika membasuh wajahnya, maka keluar dari wajahnya kesalahan yang dilakukan oleh pandangan mata pada tiap tetesannya atau akhir tetesannya. Apabila ia membasuh tangannya, maka keluar darinya setiap kesalahan yang dilakukan oleh tangannya pada tiap tetesan atau pada tetesan terakhir. Apabila ia membasuh kedua kakinya, maka keluar darinya setiap kesalahan kedua kakinya dalam melangkah, pada tiap tetesan air atau akhir tetesannya. Demikian itu sampai hamba tersebut keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.”
BACA JUGA: Tata Cara Wudhu Rasulullah ﷺ
Dari Aisyah, menuturkan bahwa Nabi bersabda:
مَنْ تَوَضَّأَ هَكَذَا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ، وَكَانَتْ صَلَاتُهُ وَ مَشْيُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ نَافِلَةٌ
“Barang siapa berwudhu seperti ini niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Sedangkan shalat dan berjalannya ke masjid dihitung sebagai amalan sunnah.”
Dalam hadits Utsman tentang sifat wudhu Nabi, ia menuturkan bahwa Nabi bersabda:
مَنْ تَوَضَّأَ مِثْلَ وُضُونِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يَحْدُثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian mengerjakan shalat dua raka’at dan menjalankannya dengan penuh kekhusyukan, maka Allah akan mengampuni seluruh dosanya yang telah lalu.”
3. Mengangkat Derajat Seorang Hamba
Dari Abu Hurairah, ia menuturkan bahwa Nabi bersabda:
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ خَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِهِ إِسْبَاغُ الْوُضُوْءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الخُطا إِلَى الْمَسْجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاط
“Maukah kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang dengannya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?” Para shahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda. “Menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang dibenci (seperti pada keadaan yang sangat dingin), banyak berjalan ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Maka itulah ribath, itulah ribath.”
4. Jalan ke Surga
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda kepada Bilal:
يَا بِلَالُ، حَدَّثَنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ، إِنِّي سَمِعْتُ دُفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ
“Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau harapkan yang pernah engkau amalkan dalam Islam. Sungguh aku telah mendengarkan suara kedua sandalmu di depanku dalam surga.”
Bilal berkata, “Aku tidaklah mengamalkan amalan yang paling aku harapkan di sisiku. Hanyasanya aku tidaklah bersuci di waktu malam atau siang, kecuali aku shalat bersama wudhu itu sebagaimana yang telah ditetapkan bagiku.”
Dari Uqbah bin Amir, ia menuturkan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda:
مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، يُقْبِلُ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ، وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Barang siapa berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya, lantas mengerjakan shalat dua raka’at dengan segenap hatinya dan mengharap ridha-Nya, maka surga wajib untuknya.”
5. Tanda Keistimewaan Umat Ini Ketika Mereka Mendatangi Telaga
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah pernah mendatangi kuburan dan bersabda, “Semoga keselamatan bagi kalian wahai rumah kaum mukminin dan Insya Allah kami akan segera menyusul kalian. Aku sangat ingin melihat saudara-saudara kami.”
Mereka (para shahabat) berkata, “Bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Kalian adalah para shahabatku. Sedang saudara kami adalah orang-orang yang belum datang berikutnya.”
Mereka berkata, “Bagaimana Anda mengenal orang-orang yang belum datang berikutnya dari kalangan umatmu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagaimana pandanganmu jika seseorang memiliki seekor kuda yang putih wajah, dan kakinya di antara kuda yang hitam pekat. Bukankah ia bisa mengenal kudanya?”
Mereka berkata, “Betul, wahai Rasulullah.”
Beliau melanjutkan, “Sesungguhnya mereka akan datang dalam keadaan putih wajah dan kakinya karena wudhu. Sedang aku akan mendahului mereka menuju telaga. Ingatlah, sungguh akan terusir beberapa orang dari telagaku sebagaimana unta yang tersesat dan terusir. Aku memanggil mereka. “Ingat, kemarilah.” Lalu dikatakan (kepadaku), “Sesungguhnya mereka melakukan perubahan setelahmu.” Lalu aku katakan, “Semoga Allah menjauhkan mereka.”
Lafadz Al-Ghurrah adalah tanda putih yang ada pada jidat seekor kuda. Maksudnya dalam hadits ini adalah cahaya yang ada pada wajah umat Nabi Muhammad. Adapun At-Tahjil adalah warna putih yang berada di tiga kaki kuda, dan ini artinya juga adalah cahaya.
BACA JUGA: Hukum Menyentuh Kemaluan Setelah Wudhu
6. Cahaya bagi Seorang Hamba di Hari Kiamat
Dari Abu Hurairah, ia menuturkan, “Aku mendengar kekasihku Muhammad bersabda:
تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنَ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوُضُوءُ
“Perhiasan seorang mukmin pada hari kiamat sebagaimana bagian yang terkena basuhan air wudhu.”
Al-Hilyah artinya cahaya pada hari kiamat.
7. Sebagai Pembuka Ikatan Setan
Dari Abu Hurairah ia menuturkan bahwa Nabi bersabda, “Setan membuat tiga ikatan pada tengkuk seseorang di antara kalian jika ia tidur. Setan akan memukul setiap ikatan itu (seraya membisikkan), “Bagimu malam yang panjang, maka tidurlah.”
Jika ia bangun seraya menyebut Allah (berdzikir), maka terlepaslah sebuah ikatan. Jika ia berwudhu, maka sebuah ikatan yang lain terlepas. Jika ia shalat, maka sebuah ikatan akan terlepas lagi.
Lantaran itu, ia akan menjadi bersemangat lagi baik jiwanya. Jika tidak demikian, maka ia akan jelek jiwanya lagi malas. []
Sumber: Shahih Fiqhu As-Sunnah (Shahih Fiqih Sunnah (Jilid 1)/ Penulis: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim / Penerbit: Insan Kamil / Cetakan: Cet. 1: Nopember 2021 / Rabiul Akhir 1443 H
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

