Lisan adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia. Dengannya kita dapat berzikir, membaca Al-Qur’an, mengajarkan ilmu, menasihati, dan menyenangkan hati orang lain.
Namun, lisan juga dapat menjadi sumber penyesalan.
Satu kalimat yang keluar tanpa dipikirkan dapat melukai hati seseorang. Satu ucapan yang kasar dapat merusak persaudaraan. Dan terkadang, seseorang baru menyadari kesalahannya setelah perkataannya tidak mungkin ditarik kembali.
Karena itu, Rasulullah ﷺ memberikan nasihat:
وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا
“Janganlah engkau mengatakan suatu perkataan yang membuatmu harus meminta maaf karenanya di kemudian hari.” (HR. Ahmad no. 23498 dan Ibnu Majah no. 4171; dinilai hasan)
BACA JUGA: Sesama Muslim, Saling Memaafkan
Nasihat ini mengajarkan kepada kita agar berhati-hati sebelum berbicara.
Sebelum lisan mengucapkan sesuatu, sebaiknya kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah perkataan ini benar?
Apakah perkataan ini bermanfaat?
Apakah perkataan ini perlu disampaikan?
Apakah perkataan ini akan menyakiti seseorang?
Jika tidak ada kebaikan di dalamnya, diam sering kali menjadi pilihan yang lebih selamat.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa banyak perselisihan bermula dari perkataan yang dianggap sepele.
Suami dan istri bertengkar karena ucapan yang kasar.
Orang tua dan anak saling menjauh karena perkataan yang menyakitkan.
Sahabat menjadi musuh karena kalimat yang tidak dipikirkan.
Persaudaraan rusak karena candaan yang melewati batas.
Bahkan ada ucapan yang membuat seseorang menyesal selama bertahun-tahun.
Karena itu, jangan biasakan berkata sesuka hati.
Jangan menjadikan emosi sebagai alasan untuk menyakiti.
Jangan menggunakan kebenaran sebagai pembenaran untuk berkata kasar.
Sebab, kebenaran yang disampaikan tanpa hikmah dapat melukai, sedangkan diam pada waktu tertentu justru dapat menjadi bentuk kebijaksanaan.
Namun, jika kita sudah terlanjur menyakiti seseorang, jangan gengsi untuk meminta maaf.
Mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan.
Meminta maaf bukan berarti merendahkan diri.
Justru orang yang berani mengatakan “Saya salah, maafkan saya” menunjukkan bahwa ia memiliki hati yang besar.
BACA JUGA: Keutamaan Menjadi Orang yang Mudah Memaafkan
Jangan menunggu esok untuk memperbaiki kesalahan yang bisa diperbaiki hari ini.
Jangan menunggu hubungan benar-benar retak untuk meminta maaf.
Dan jangan menunggu kematian seseorang untuk menyesali perkataan yang pernah kita ucapkan kepadanya.
Berpikirlah sebelum berbicara.
Jika salah, segera minta maaf.
Jika tidak perlu berbicara, diamlah.
Sebab, lebih baik menahan satu kalimat hari ini daripada menghabiskan hari esok dengan penyesalan karena ucapan yang tidak dapat ditarik kembali. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

