Home RenunganTidak Ada Takdir Allah yang Sia-Sia, Semua Mengandung Hikmah

Tidak Ada Takdir Allah yang Sia-Sia, Semua Mengandung Hikmah

Kita mungkin tidak memahami semua ketetapan Allah, tetapi kita harus yakin bahwa semua ketetapan Allah penuh dengan hikmah.

by Abu Umar
0 comments 9 views

Salah satu konsekuensi keimanan yang wajib diyakini oleh seorang Muslim adalah bahwa Allah Ta’ala tidak melakukan sesuatu dan tidak menciptakan sesuatu tanpa hikmah.

Setiap perbuatan dan ketetapan Allah pasti mengandung kebaikan dan tujuan yang agung.

Hanya saja, terkadang hikmah tersebut dapat kita pahami dan terkadang tidak.

Keterbatasan manusia dalam memahami hikmah bukan berarti tidak ada hikmah di balik ketetapan Allah.

Allah Tidak Pernah Berbuat Sia-Sia

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa akal yang sehat dan naluri manusia yang lurus menunjukkan hal yang sama sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Mahabijaksana.

Dia tidak melakukan sesuatu dengan sia-sia.

Allah tidak menciptakan sesuatu tanpa tujuan.

BACA JUGA: Doa Memohon Surga, Berlindung dari Neraka, dan Memohon Takdir yang Baik

Tidak pula Dia melakukan sesuatu tanpa adanya kemaslahatan dan hikmah yang menjadi tujuan dari perbuatan-Nya.

Sebaliknya, seluruh perbuatan Allah dibangun di atas hikmah yang agung.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Akal yang sehat dan naluri yang lurus menunjukkan sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah. Yaitu bahwa Allah Yang Mahasuci adalah Dzat Yang Mahabijaksana. Dia tidak melakukan sesuatu dengan sia-sia dan tanpa tujuan, serta tidak melakukan sesuatu tanpa adanya kemaslahatan atau hikmah yang menjadi tujuan dari perbuatan-Nya. Bahkan, seluruh perbuatan-Nya didasari oleh hikmah yang agung yang menjadi alasan Dia melakukan perbuatan tersebut.”

(Syifa’ al-‘Alil, 2/115)

Karena itu, ketika kita melihat suatu peristiwa yang tidak kita pahami, jangan tergesa-gesa menganggap bahwa peristiwa tersebut tidak memiliki tujuan.

Bisa jadi hikmahnya belum Allah bukakan kepada kita.

Kehendak Allah Selalu Mengandung Hikmah

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan bahwa perbuatan dan ketetapan Allah bukan sekadar terjadi karena Allah menghendakinya.

Di balik kehendak tersebut terdapat hikmah yang agung.

Beliau berkata:

“Perbuatan dan ketetapan Allah tidak terjadi semata-mata karena Dia menghendakinya. Akan tetapi, di baliknya terdapat hikmah yang agung yang menjadi alasan mengapa Dia menghendakinya.”

Beliau juga menjelaskan:

“Pahamilah bahwa segala sesuatu yang Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi kaitkan dengan kehendak-Nya, terjadi karena suatu alasan yang agung dan penuh hikmah. Bukan semata-mata karena Dia menghendakinya. Namun, kita terkadang mengetahui hikmah tersebut dan terkadang tidak mengetahuinya.”

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan kamu tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Insan: 30)

(Tafsir Al-‘Utsaimin: Al-Fatihah wal-Baqarah, 1/295 dan 3/352)

Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa kehendak Allah tidak pernah terlepas dari ilmu dan hikmah-Nya.

Allah Maha Mengetahui.

Allah juga Mahabijaksana.

Karena itu, seorang hamba hendaknya yakin bahwa apa pun yang Allah tetapkan pasti memiliki hikmah, meskipun dirinya belum mampu memahaminya.

Jangan Mempertanyakan Allah dengan Sikap Menentang

Keimanan yang kuat dan adab yang benar kepada Allah juga menuntut seorang Muslim untuk tidak mempertanyakan keputusan Allah dengan sikap keberatan atau penentangan.

Allah Ta’ala berfirman:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya’: 23)

Karena itu, pertanyaan seperti:

“Kenapa Allah membiarkan Iblis tetap hidup di muka bumi untuk menyesatkan manusia?”

tidak sepatutnya diajukan dengan maksud mempertanyakan atau menyalahkan ketetapan Allah.

Seorang Muslim boleh berusaha mencari hikmah dari suatu ketetapan Allah. Namun, ia tidak boleh menjadikan ketidaktahuannya sebagai alasan untuk meragukan kebijaksanaan Allah.

Ada perbedaan besar antara bertanya untuk memahami hikmah dengan bertanya dalam rangka memprotes ketetapan Allah.

Semua Makhluk Berada di Bawah Kekuasaan Allah

Imam Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa tidak selayaknya seseorang mempertanyakan kepada Rabb Pemilik ‘Arsy tentang apa yang Dia lakukan terhadap makhluk-Nya.

Allah mengatur kehidupan dan kematian mereka.

Allah memuliakan dan menghinakan siapa yang Dia kehendaki.

Allah menetapkan berbagai perkara atas mereka sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya.

Sebab, mereka adalah ciptaan-Nya dan hamba-hamba-Nya.

Semuanya berada di bawah kekuasaan dan kerajaan Allah.

Allah-lah yang memiliki hukum.

Allah-lah yang memiliki ketetapan.

Tidak ada sesuatu pun yang berada di atas Allah sehingga dapat mempertanyakan perbuatan-Nya dengan mengatakan:

“Mengapa Engkau melakukan ini?”

“Mengapa Engkau tidak melakukan itu?”

(Tafsir Ath-Thabari, 18/425)

Ini merupakan adab yang sangat penting dalam beriman kepada Allah.

Kita adalah hamba.

Allah adalah Rabb kita.

Kita memiliki keterbatasan dalam ilmu.

Sedangkan ilmu Allah meliputi segala sesuatu.

Karena itu, ketika Allah menetapkan sesuatu yang tidak kita pahami, sikap seorang mukmin bukanlah memberontak dengan hatinya.

Sikap seorang mukmin adalah tunduk, percaya, dan berusaha memahami hikmahnya dengan tetap menjaga adab kepada Allah.

Hakikat Penghambaan adalah Tunduk kepada Allah

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa fondasi penghambaan kepada Allah dan keimanan kepada Allah, kitab-kitab-Nya, serta para rasul-Nya adalah ketundukan.

Bukan menjadikan pemahaman kita terhadap setiap hikmah sebagai syarat untuk taat.

Beliau menjelaskan bahwa Allah tidak pernah menceritakan tentang suatu umat yang beriman kepada rasul mereka kemudian mereka menuntut penjelasan secara rinci mengenai hikmah di balik setiap perintah dan larangan yang disampaikan rasul tersebut.

Seandainya mereka melakukan hal itu sebagai bentuk penolakan, tentu mereka tidak akan menjadi orang-orang yang beriman kepada rasul mereka.

Yang mereka lakukan adalah mengikuti, tunduk, dan menerima.

Jika mereka mengetahui hikmah di balik suatu ajaran, mereka mengakuinya.

Jika hikmahnya tersembunyi dari mereka, mereka tidak menjadikan ketidaktahuan tersebut sebagai alasan untuk berhenti tunduk, beriman, dan mengikuti rasul.

Bahkan, mereka tidak menjadikan pencarian terhadap seluruh hikmah tersebut sebagai sesuatu yang harus selalu mereka ketahui.

Ibnul Qayyim rahimahullah bahkan mengutip sebuah ungkapan dalam Injil:

“Wahai Bani Israil, janganlah kalian mengatakan: ‘Mengapa Rabb kami memerintahkan kami melakukan ini dan itu?’ Tetapi katakanlah: ‘Apa yang diperintahkan Rabb kami kepada kami?’”

Inilah hakikat penghambaan.

Seorang hamba tidak menjadikan pemahamannya terhadap hikmah sebagai syarat untuk taat kepada Rabb-nya.

Beriman Dahulu, Memahami Hikmah Kemudian

Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan bahwa umat Islam adalah umat yang paling sempurna dalam akalnya dan paling luas ilmunya.

Namun, mereka tidak bertanya kepada Rasul mereka:

“Mengapa Allah memerintahkan ini?”

“Mengapa Allah melarang itu?”

“Mengapa Allah menetapkan hal tersebut?”

“Mengapa Allah melakukan perkara tersebut?”

Sebab, mereka memahami bahwa menjadikan pertanyaan semacam itu sebagai bentuk keberatan terhadap syariat bertentangan dengan kesempurnaan iman dan ketundukan.

Seorang Muslim tidak akan mampu istiqamah sampai ia benar-benar tunduk kepada Allah.

Ia harus menyadari betapa agungnya Allah.

Ia harus menyadari betapa agung pula perintah dan larangan-Nya.

Sebab, iman tidak akan sempurna kecuali dengan menyadari keagungan Allah.

(As-Sawa’iq al-Mursalah, 4/1560)

BACA JUGA: Hidup Ini Hanya Menunggu Tiga Tamu: Rezeki, Takdir, dan Kematian

Maka, ketika sesuatu terjadi dalam kehidupan kita dan kita tidak memahami alasannya, jangan buru-buru berburuk sangka kepada Allah.

Bisa jadi kita belum memahami hikmahnya.

Bisa jadi hikmah tersebut baru akan terlihat setelah bertahun-tahun.

Bahkan, bisa jadi hikmahnya baru akan kita ketahui di akhirat.

Yang pasti, Allah tidak pernah sia-sia dalam menciptakan sesuatu dan tidak pernah salah dalam menetapkan sesuatu.

Allah Mahabijaksana.

Allah Maha Mengetahui.

Dan seorang mukmin akan merasa tenang ketika ia menyerahkan sesuatu yang tidak mampu dipahaminya kepada ilmu dan hikmah Allah.

Kita mungkin tidak memahami semua ketetapan Allah, tetapi kita harus yakin bahwa semua ketetapan Allah penuh dengan hikmah.

Wallahu a’lam. []

SUMBER: ISLAMQA

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119