Dunia sering kali memikat hati manusia dengan segala keindahan dan kenikmatannya. Harta, makanan, pakaian, jabatan, serta berbagai kesenangan seolah menjadi tujuan utama kehidupan. Banyak orang rela menghabiskan umur, tenaga, bahkan mengorbankan agama demi mengejarnya. Padahal, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan bahwa hakikat dunia sangatlah hina dan tidak layak menjadi tujuan hidup seorang mukmin.
Dalam sebuah hadits, Dhahhak bin Sufyan Al-Kullabi radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,
يَا ضَحَّاكُ! مَا طَعَامُكَ؟
“Wahai Dhahhak, apa yang biasanya kamu makan?”
Dhahhak menjawab, “Daging dan susu, wahai Rasulullah.”
BACA JUGA: Saudaraku, Beda Cara Cari Dunia dan Akhirat
Lalu Rasulullah bertanya kembali,
ثُمَّ يَصِيرُ إِلَى مَاذَا؟
“Setelah dimakan menjadi apa?”
Dhahhak menjawab, “Menjadi sesuatu yang engkau ketahui.”
Kemudian Rasulullah bersabda,
فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى ضَرَبَ مَا يَخْرُجُ مِنِ ابْنِ آدَمَ مَثَلًا لِلدُّنْيَا
“Sesungguhnya Allah Ta’ala mempermisalkan dunia seperti sesuatu yang keluar dari manusia itu.” (HR. Ahmad no. 15747, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Perumpamaan ini sangat mendalam. Daging dan susu sebelum dimakan tampak lezat, harum, dan menggugah selera. Banyak orang rela mengeluarkan biaya mahal untuk mendapatkannya. Namun, setelah masuk ke dalam tubuh, semua kenikmatan itu berubah menjadi kotoran yang menjijikkan dan dibuang tanpa ada seorang pun yang ingin menyimpannya.
Begitulah hakikat dunia. Sesuatu yang tampak indah di mata manusia pada akhirnya akan sirna. Rumah megah akan lapuk, kendaraan akan rusak, pakaian akan usang, dan harta akan ditinggalkan. Bahkan pemiliknya sendiri akan kembali kepada Allah dengan membawa amalnya, bukan membawa kekayaannya.
BACA JUGA:
Empat Cara Agar Hati Lebih Mengutamakan Akhirat daripada Dunia
Hadits ini bukanlah larangan untuk bekerja, mencari rezeki, atau menikmati nikmat yang Allah halalkan. Islam justru memerintahkan umatnya untuk mencari rezeki yang halal. Akan tetapi, seorang muslim tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan akhir kehidupannya. Dunia hanyalah sarana untuk beribadah dan mengumpulkan bekal menuju akhirat.
Orang yang memahami hakikat dunia tidak akan tertipu oleh gemerlapnya. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur. Ketika kehilangan harta, ia tetap bersabar. Hatinya tidak bergantung kepada dunia, karena ia yakin bahwa seluruh kenikmatan dunia hanyalah sementara. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

