Home Yaumul HisabEmpat Cara Agar Hati Lebih Mengutamakan Akhirat daripada Dunia

Empat Cara Agar Hati Lebih Mengutamakan Akhirat daripada Dunia

Seorang muslim tetap bekerja, mencari rezeki, membangun keluarga, dan memanfaatkan berbagai nikmat Allah.

by Abu Umar
0 comments 7 views

Setiap muslim tentu menginginkan hatinya lebih dekat kepada Allah daripada kepada dunia. Namun, kenyataannya tidak sedikit yang merasa sulit melepaskan diri dari pesona harta, kemewahan, dan berbagai kenikmatan duniawi. Padahal, dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah negeri yang kekal.

Syariat Islam mengajarkan beberapa langkah yang dapat membantu seorang hamba agar orientasi hidupnya tetap tertuju kepada akhirat. Di antara langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.

1. Memohon Pertolongan Allah dan Bertawakal kepada-Nya

Tidak ada seorang pun yang mampu membersihkan hatinya tanpa pertolongan Allah. Karena itu, langkah pertama adalah bertawakal kepada-Nya dan memohon agar Dia memudahkan kita menjadikan akhirat sebagai tujuan utama.

Allah Ta’ala berfirman,

“Apa saja yang diberikan kepadamu, maka itu hanyalah kenikmatan hidup di dunia. Sedangkan apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. Asy-Syura: 36)

BACA JUGA: Jika Akhirat Menjadi Tujuanmu, Dunia akan Datang Menghampirimu

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa apa pun yang dimiliki seseorang di dunia tidak lebih dari kesenangan yang sementara. Dunia pasti akan berakhir, sedangkan pahala yang Allah sediakan adalah kekal selama-lamanya.

Karena itu, seorang mukmin tidak pantas mendahulukan sesuatu yang akan sirna daripada sesuatu yang abadi. Orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah akan diberi kekuatan untuk bersabar dalam menjalankan kewajiban dan meninggalkan segala yang diharamkan.

2. Jangan Terpikat oleh Kemewahan Orang-Orang Kaya

Salah satu sebab hati menjadi cinta dunia adalah terlalu sering memandangi kehidupan orang-orang yang bergelimang harta. Rumah-rumah megah, kendaraan mewah, pakaian bermerek, serta berbagai kemewahan yang dipamerkan dapat menumbuhkan rasa iri dan keinginan untuk memiliki semuanya.

Karena itulah Allah memperingatkan,

“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Karunia Rabbmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)

Abu Hayyan Al-Andalusi rahimahullah menjelaskan bahwa larangan ini bukan sekadar tidak melihat, tetapi tidak memandang dengan penuh kekaguman dan keinginan. Sekilas melihat sesuatu yang indah adalah fitrah manusia, tetapi terus memandanginya hingga hati terpaut kepadanya adalah perkara yang berbahaya.

Beliau juga menerangkan bahwa orang-orang yang gemar memamerkan hartanya memang menginginkan perhatian manusia. Ketika seseorang terus mengagumi kemewahan mereka, secara tidak langsung ia telah memenuhi tujuan mereka, yaitu mendapatkan pujian dan kebanggaan.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menambahkan bahwa seluruh kenikmatan dunia hanyalah seperti bunga yang indah sesaat, lalu layu dan hilang. Allah menguji manusia melalui kekayaan itu untuk melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang lalai.

Larangan ini menjadi lebih penting lagi apabila kekayaan tersebut dimiliki oleh orang-orang kafir atau pelaku maksiat. Kekaguman kepada mereka dapat menyeret hati untuk mencintai jalan hidup mereka.

Allah mengisahkan tentang Qarun,

“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ‘Seandainya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sungguh, ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’ Tetapi orang-orang yang diberi ilmu berkata, ‘Celakalah kalian! Pahala Allah lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal saleh, dan itu tidak diperoleh kecuali oleh orang-orang yang sabar.'” (QS. Al-Qashash: 79–80)

Kisah ini mengajarkan bahwa ukuran keberuntungan bukanlah banyaknya harta, melainkan besarnya pahala di sisi Allah.

3. Pilih Lingkungan yang Mengingatkan kepada Akhirat

Lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap hati seseorang. Bila seseorang lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang seluruh pembicaraannya hanya berkisar pada bisnis, kekayaan, dan kenikmatan dunia, lambat laun orientasi hidupnya pun akan berubah.

Sebaliknya, berkumpul bersama orang-orang saleh akan membuat hati semakin dekat kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman, “Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Rabb mereka pada pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, yang mengikuti hawa nafsunya, dan keadaannya telah melampaui batas.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan agar seorang mukmin merasa cukup dan bahagia bersama orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah, meskipun mereka miskin dan sederhana.

Sebaliknya, mengejar majelis orang-orang yang hanya mengejar dunia akan membuat hati semakin terpikat kepada kehidupan fana. Akibatnya, seseorang lalai dari mengingat Allah, waktunya terbuang sia-sia, urusannya menjadi berantakan, bahkan dapat berakhir dengan penyesalan yang kekal di akhirat.

4. Sering Berziarah Kubur dan Mengingat Kematian

Tidak ada nasihat yang lebih mampu melembutkan hati selain mengingat kematian.

Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Berziarahlah ke kubur, karena ziarah kubur akan mengingatkan kalian kepada kematian.” (HR. Muslim no. 976)

Dalam riwayat lain beliau bersabda,

“Berziarahlah ke kubur, karena ia akan mengingatkan kalian kepada akhirat.” (HR. At-Tirmidzi; dinilai hasan sahih)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa tidak ada waktu khusus untuk berziarah kubur. Seseorang boleh melakukannya pada pagi atau sore hari, siang atau malam, hari Jumat maupun hari-hari lainnya.

Beliau bahkan memberikan nasihat yang sangat menyentuh: apabila seseorang mulai merasa lalai dan tenggelam dalam urusan dunia, hendaknya ia segera mendatangi kuburan. Di sana ia akan menyaksikan bahwa seluruh manusia, kaya maupun miskin, penguasa maupun rakyat, pada akhirnya akan kembali ke tempat yang sama.

Kuburan adalah pengingat bahwa seluruh kemewahan dunia akan ditinggalkan. Yang menemani seseorang hanyalah iman dan amal salehnya.

BACA JUGA: Sunnah: Jalan Keselamatan di Dunia dan Akhirat

Penutup

Mengutamakan akhirat bukan berarti meninggalkan dunia sama sekali. Seorang muslim tetap bekerja, mencari rezeki, membangun keluarga, dan memanfaatkan berbagai nikmat Allah. Namun, semua itu dilakukan sebagai sarana untuk meraih ridha-Nya, bukan sebagai tujuan hidup.

Semakin hati bergantung kepada Allah, semakin kecil dunia di matanya. Sebaliknya, semakin hati terpaut kepada dunia, semakin jauh ia dari ketenangan yang hakiki.

Maka, marilah kita melatih hati dengan bertawakal kepada Allah, tidak terpikat oleh kemewahan dunia, memilih lingkungan yang saleh, serta sering mengingat kematian. Semoga dengan itu Allah menjadikan akhirat sebagai tujuan terbesar dalam hidup kita dan menganugerahkan kepada kita husnul khatimah. []

SUMBER: ISLAMQA

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119