Sifat bakhil atau pelit merupakan akhlak tercela yang sangat dibenci dalam Islam. Kebanyakan orang memahami bahwa pelit adalah enggan mengeluarkan harta untuk membantu orang lain. Namun, ada bentuk pelit yang lebih buruk daripada itu, yaitu pelit terhadap diri sendiri. Seseorang memiliki harta yang cukup, tetapi ia enggan menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan yang sebenarnya diperlukan.
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah berkata:
ﻭﺃﺷﺪ ﺩﺭﺟﺎﺕ ﺍﻟﺒﺨﻞ ﺃﻥ ﻳﺒﺨﻞ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ ﻣﻊ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ، ﻓﻜﻢ ﻣﻦ ﺑﺨﻴﻞٍ ﻳﻤﺴﻚ ﺍﻟﻤﺎﻝ، ﻭﻳﻤﺮﺽ ﻓﻼ ﻳﺘﺪﺍﻭﻯ، ﻭﻳﺸﺘﻬﻲ ﺍﻟﺸﻬﻮﺓ ﻓﻴﻤﻨﻌﻪ ﻣﻨﻬﺎ ﺍﻟﺒﺨﻞ
“Derajat pelit yang paling parah adalah pelit terhadap diri sendiri, padahal ia sedang membutuhkan. Betapa banyak manusia yang menahan hartanya, lalu ketika sakit ia tidak berobat. Ia memiliki kebutuhan terhadap sesuatu, tetapi ia menahannya karena sifat pelit.”
📖 Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin, hlm. 205.
BACA JUGA: Janganlah Pelit, Allah Akan Mempersempit Rezekimu
Perkataan ini menunjukkan bahwa harta pada hakikatnya adalah sarana untuk mendukung kehidupan dan ketaatan kepada Allah. Ketika seseorang enggan menggunakan hartanya untuk kebutuhan yang bermanfaat, maka ia telah menyalahgunakan nikmat yang Allah berikan kepadanya.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ
“Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (terlalu kikir), dan jangan pula engkau terlalu mengulurkannya (terlalu boros).” (QS. Al-Isra’: 29)
Islam mengajarkan sikap pertengahan. Seorang muslim tidak boleh boros, tetapi juga tidak boleh terlalu menahan hartanya hingga merugikan dirinya sendiri. Apabila sakit, ia dianjurkan berobat. Apabila membutuhkan makanan yang layak, pakaian yang pantas, atau sarana yang menunjang ibadah dan pekerjaannya, maka tidak mengapa menggunakan hartanya untuk tujuan tersebut.
Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
إِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“Sesungguhnya dirimu mempunyai hak yang harus engkau penuhi.” (HR. Al-Bukhari)
Hadis ini mengajarkan bahwa tubuh, kesehatan, dan kebutuhan diri memiliki hak yang wajib diperhatikan. Menelantarkan diri karena terlalu mencintai harta bukanlah bentuk kezuhudan, melainkan kekeliruan dalam memahami nikmat Allah.
BACA JUGA:
Betapa Pelitnya Kita untuk Akhirat
Seseorang yang menumpuk harta tetapi enggan memanfaatkannya untuk kebaikan sejatinya tidak menikmati hartanya. Bahkan, bisa jadi hartanya hanya menjadi warisan bagi orang lain, sementara dirinya hidup dalam kesempitan yang ia ciptakan sendiri.
Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya bersyukur atas rezeki yang Allah berikan dengan memanfaatkannya secara bijak. Gunakan harta untuk beribadah, membantu sesama, menafkahi keluarga, dan memenuhi kebutuhan yang dibenarkan syariat. Jangan sampai sifat bakhil membuat kita sengsara di dunia dan kehilangan pahala di akhirat. Sebab salah satu bentuk pelit yang paling buruk adalah ketika seseorang menjadi pelit terhadap dirinya sendiri. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

