Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:
يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبِ
“Hari Arafah, hari menyembelih hewan kurban, dan hari-hari tasyrik adalah hari ied kami umat Islam. Dan hari-hari tersebut (selain hari Arafah) adalah hari-hari makan dan minum.” [HR. Abu Daud: 2419, hadits shahih]
Hadits yang mulia ini menunjukkan besarnya syariat Islam yang penuh keseimbangan. Islam bukan agama yang hanya berisi ibadah ritual semata, tetapi juga agama yang memberikan ruang bagi umatnya untuk bergembira dan menikmati nikmat Allah ta’ala dengan cara yang halal dan penuh syukur.
BACA JUGA: Susu, Minuman yang Disukai Nabi ﷺ
Hari Nahr, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah, serta hari-hari tasyrik pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah merupakan hari raya bagi kaum muslimin. Pada hari-hari tersebut, kaum muslimin dianjurkan untuk makan, minum, dan menampakkan rasa syukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas berbagai nikmat-Nya. Karena itu, Rasulullah Muhammad ﷺ melarang berpuasa pada hari-hari tasyrik bagi orang yang tidak memiliki udzur syar’i.
Disebut sebagai hari-hari makan dan minum karena pada waktu itu kaum muslimin menikmati daging hewan kurban dan saling berbagi makanan dengan keluarga, kerabat, tetangga, serta orang-orang yang membutuhkan. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kebersamaan, kasih sayang, dan kepedulian sosial.
Namun perlu dipahami, makan dan minum yang dimaksud bukanlah untuk berlebih-lebihan atau bermewah-mewahan hingga melalaikan ibadah. Seorang muslim tetap diperintahkan untuk menjaga adab, menjauhi pemborosan, dan menggunakan nikmat Allah dalam ketaatan. Hari raya hendaknya diisi dengan takbir, dzikir, silaturahmi, dan memperbanyak rasa syukur kepada Allah ta’ala.
BACA JUGA: Hukum Makanan yang Tidak Ditutup Semalaman
Adapun Hari Arafah memiliki keutamaan tersendiri. Bagi jamaah haji, hari tersebut adalah waktu untuk berwuquf di Arafah. Sedangkan bagi kaum muslimin yang tidak berhaji, disunnahkan berpuasa Arafah karena memiliki pahala yang besar, yaitu menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dengan izin Allah ta’ala.
Hadits ini juga mengajarkan bahwa Islam memiliki hari raya yang agung dan penuh makna. Kaum muslimin tidak perlu meniru perayaan agama lain, karena Allah telah memberikan kepada umat ini hari-hari mulia yang dipenuhi ibadah, syukur, dan kebahagiaan.
Semoga Allah ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mampu mensyukuri nikmat-Nya, menghidupkan sunnah Rasulullah Muhammad ﷺ, dan memanfaatkan hari-hari mulia ini dalam ketaatan kepada-Nya. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

