Banyak manusia mengira bahwa ujian hanya berupa kesedihan, kemiskinan, sakit, atau musibah. Padahal dalam ajaran Islam, kenikmatan juga termasuk ujian dari Allah. Harta, kesehatan, jabatan, kemudahan hidup, dan berbagai kesenangan dunia dapat menjadi ujian yang lebih berat daripada kesulitan. Karena itu, seorang muslim hendaknya memahami bahwa seluruh keadaan hidup adalah bentuk ujian dari Allah Ta’ala.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
“Dan Kami akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” QS. Al-Anbiya’: 35.
BACA JUGA: Mengapa Ujian Nikmat Lebih Berat daripada Ujian Derita?
Ayat ini mengajarkan bahwa manusia akan diuji dengan dua keadaan sekaligus: kejelekan dan kebaikan. Kejelekan bisa berupa musibah, kesedihan, kehilangan, penyakit, atau kesempitan hidup. Adapun kebaikan bisa berupa kesehatan, kekayaan, kemudahan, pujian manusia, dan berbagai nikmat lainnya.
Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan:
نَخْتَبِرُكُمْ بِالْمَصَائِبِ تَارَةً وَبِالنِّعَمِ أُخْرَى لِنَنْظُرَ مَنْ يَشْكُرُ وَمَنْ يَكْفُرُ وَمَنْ يَصْبِرُ وَمَنْ يَقْنَطُ
“Kami akan menguji kalian adakalanya dengan musibah, adakalanya dengan kenikmatan, sehingga Kami melihat siapakah di antara kalian yang bersyukur dan siapakah yang kufur, dan siapakah yang bersabar serta siapakah yang berputus asa.” Tafsirul Qur’anil ‘Azhim 3/93.
Ketika seseorang ditimpa musibah, Allah melihat apakah ia bersabar atau malah berputus asa. Sebaliknya, ketika seseorang diberi kenikmatan, Allah melihat apakah ia bersyukur atau justru lalai dan sombong.
Tidak sedikit manusia yang mampu bersabar ketika miskin, namun berubah lalai ketika kaya. Ada pula yang tampak rajin beribadah saat susah, namun mulai jauh dari Allah ketika hidupnya dipenuhi kemudahan. Karena itulah nikmat terkadang menjadi ujian yang lebih berat daripada kesulitan.
BACA JUGA:
Seorang muslim yang memahami hakikat ini akan berusaha menjaga dirinya dalam setiap keadaan. Ketika mendapat musibah, ia bersabar dan berharap pahala dari Allah. Ketika mendapat kenikmatan, ia bersyukur dan menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan.
Dunia ini bukan tempat balasan akhir, melainkan tempat ujian. Ada orang diuji dengan kekurangan, ada pula yang diuji dengan kelapangan. Maka jangan melihat hidup orang lain hanya dari lahiriah semata, karena setiap orang sedang menghadapi ujian masing-masing.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mampu bersabar ketika diuji dengan kesulitan dan mampu bersyukur ketika diberi kenikmatan. Sebab kebahagiaan sejati bukan terletak pada sedikit atau banyaknya dunia, tetapi pada keberhasilan melewati ujian hidup dengan iman dan ketakwaan. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

