Home KajianHakikat Umat yang Layak Mendapatkan Kemenangan dan Kemuliaan

Hakikat Umat yang Layak Mendapatkan Kemenangan dan Kemuliaan

Ketika sebuah umat memusuhi orang-orang yang mengingatkan mereka kepada Allah, pada hakikatnya mereka sedang mencabut sendiri sebab-sebab keselamatan dari diri mereka.

by Abu Umar
0 comments 7 views

Amar makruf nahi mungkar bukanlah perkara pinggiran dalam agama ini. Ia juga bukan sikap “terlalu keras” sebagaimana sering dituduhkan sebagian orang. Justru, amar makruf nahi mungkar adalah katup pengaman umat. Dengannya agama terjaga, akhlak terlindungi, persatuan dipelihara, dan identitas Islam tetap kokoh.

Allah Ta’ala menggambarkan ciri umat yang layak mendapatkan pertolongan dan kekuasaan dalam firman-Nya:

{الَّذينَ إِن مَكَّنّاهُم فِي الأَرضِ أَقامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكاةَ وَأَمَروا بِالمَعروفِ وَنَهَوا عَنِ المُنكَرِ وَلِلَّهِ عاقِبَةُ الأُمورِ}

“(Yaitu) orang-orang yang apabila Kami beri kedudukan di muka bumi, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj: 41)

Ayat ini menunjukkan bahwa kemenangan umat bukan hanya diukur dengan kekuatan politik atau militer. Hakikat kemenangan adalah ketika umat menegakkan shalat, menunaikan zakat, serta menjaga masyarakat dengan amar makruf nahi mungkar.

Ketika Kemungkaran Dibiarkan

Allah سبحانه وتعالى mencela Bani Israil karena mereka membiarkan kemungkaran merajalela:

{كانوا لا يَتَناهَونَ عَن مُنكَرٍ فَعَلوهُ لَبِئسَ ما كانوا يَفعَلونَ}

“Mereka tidak saling melarang kemungkaran yang mereka lakukan. Sungguh buruk apa yang mereka perbuat.” (QS. Al-Ma’idah: 79)

Sebuah umat, ketika mulai diam terhadap kebatilan, lalu kemungkaran menjadi sesuatu yang biasa, maka keberkahan akan dicabut. Kelemahan pun datang silih berganti. Hukuman Allah turun dalam berbagai bentuk.

BACA JUGA: 3 Tanda Kemuliaan Seseorang Menurut Imam Asy-Syafi’i

Musibah besar di zaman ini adalah ketika sebagian orang yang mengaku Muslim justru merasa sempit dada terhadap orang-orang yang mengajak kepada kebaikan. Para dai dicemooh. Orang yang berpegang teguh pada agama dituduh kolot, ekstrem, atau menghambat zaman. Seolah masalah terbesar bukan tersebarnya kemaksiatan, tetapi orang yang mengingatkan manusia kepada Allah.

Padahal, sikap seperti ini sangat berbahaya. Allah Ta’ala berfirman:

{إِنَّ الَّذينَ يُحادّونَ اللَّهَ وَرَسولَهُ كُبِتوا كَما كُبِتَ الَّذينَ مِن قَبلِهِم}

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya pasti akan hina sebagaimana orang-orang sebelum mereka telah dihinakan.” (QS. Al-Mujadilah: 5)

Dan firman-Nya:

banner

{ذلِكَ بِأَنَّهُم كَرِهوا ما أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحبَطَ أَعمالَهُم}

“Yang demikian itu karena mereka membenci apa yang diturunkan Allah, maka Allah menghapus amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 9)

Tanda Hidupnya Iman

Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:

«من رأى منكم منكرًا فليغيّره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان»

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa mengingkari kemungkaran adalah tanda hidupnya iman dalam hati. Ketika hati mulai terbiasa dengan maksiat, diam terhadap kebatilan, bahkan membenci orang-orang saleh, maka hati itu sedang berada di ambang kegelapan.

Mengejek orang yang menyeru kepada kebaikan bukan sekadar beda pendapat. Itu adalah penyakit hati yang berbahaya. Sampai-sampai ukuran kebenaran menjadi terbalik: orang yang menjaga agamanya dianggap aneh, sementara pelaku kemaksiatan justru dipuji dan dipopulerkan.

Jalan Para Nabi

Dalam suasana seperti ini, para dai dan orang-orang yang ingin memperbaiki umat harus tetap teguh. Jangan lemah karena ejekan manusia. Inilah jalan para nabi.

Namun keteguhan harus dibarengi hikmah. Menyampaikan kebenaran tidak berarti kasar dan menyakitkan. Sebaliknya, kelembutan juga tidak berarti mengorbankan prinsip agama demi diterima manusia.

Umat Islam harus waspada terhadap budaya yang ingin mencairkan nilai-nilai agama atas nama “modernitas” atau “mengikuti perkembangan zaman”. Hikmah bukan berarti meninggalkan kebenaran. Metode boleh berubah, tetapi kewajiban amar makruf nahi mungkar tetap ada sampai akhir zaman.

Kemenangan Tidak Datang dari Kemaksiatan

Umat yang ingin membebaskan Masjid Al-Aqsa tidak akan berhasil jika pada saat yang sama mereka memerangi syariat Allah di dalam tubuh mereka sendiri. Tidak mungkin kemenangan datang sementara dakwah dicemooh, shalat diremehkan, dan nasihat dianggap gangguan.

Pertempuran terbesar umat sebenarnya bukan hanya melawan musuh yang menduduki tanah kaum Muslimin. Musuh terbesar juga ada di dalam hati: cinta dunia, perpecahan, jauh dari Al-Qur’an, serta memusuhi para penyeru kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman:

{وَلا تَنازَعوا فَتَفشَلوا وَتَذهَبَ ريحُكُم}

“Janganlah kalian berselisih, karena nanti kalian akan gagal dan hilang kekuatan kalian.” (QS. Al-Anfal: 46)

BACA JUGA:  Apakah Umat-umat Terdahulu Ditanya dalam Kubur?

Dan firman-Nya:

{إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ ما بِقَومٍ حَتّى يُغَيِّروا ما بِأَنفُسِهِم}

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Karena itu, sulit berharap kemuliaan datang kepada umat yang membungkam para penyeru kebenaran, membuka pintu kemungkaran, lalu marah kepada orang-orang yang menasihati.

Menjaga Kemenangan dengan Ketaatan

Hari ini umat Islam sedang menghadapi berbagai ujian, kemenangan, dan cobaan. Semua itu harus menyadarkan bahwa kemenangan bukan sekadar momen sesaat. Ia adalah amanah besar yang hanya bisa dijaga dengan ketaatan kepada Allah dan keteguhan di atas agama-Nya.

Jika Allah memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin di berbagai tempat, maka kewajiban terbesar setelah itu adalah menjaga kemenangan tersebut agar tidak hilang. Caranya adalah dengan menghidupkan kembali kemuliaan Islam, memuliakan syiar-syiar Allah, dan menghormati para dai serta orang-orang yang melakukan perbaikan.

Sebab ketika sebuah umat memusuhi orang-orang yang mengingatkan mereka kepada Allah, pada hakikatnya mereka sedang mencabut sendiri sebab-sebab keselamatan dari diri mereka.

Sebaliknya, jika umat mendukung kebaikan, membenci kemungkaran, dan memuliakan orang-orang saleh, maka Allah akan memberkahi kemenangan mereka dan membukakan pintu-pintu kemuliaan.

Semoga Allah memuliakan kita dengan Islam, memuliakan Islam melalui diri kita, menjadikan kita termasuk orang-orang yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan hikmah dan nasihat yang baik, serta mempersatukan umat Islam di atas kebenaran. Aamiin. []

SUMBER: AR-ISLAMWAY.NET

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119