Home Baiti JannatiImam Syafi’i: Durhaka, Anak yang Berselisih dengan Orangtuanya

Imam Syafi’i: Durhaka, Anak yang Berselisih dengan Orangtuanya

Orang tua yang dahulu membesarkan dengan penuh cinta, kini merasa tertekan di hadapan anaknya sendiri.

by Abu Umar
0 comments 46 views

Nasihat para ulama sering kali sederhana, namun menghunjam ke dalam hati. Salah satunya dinisbatkan kepada Muhammad ibn Idris al-Shafi’i rahimahullah ketika beliau ditanya tentang bolehkah seorang anak berselisih dengan orang tuanya.

Dikatakan:

“Tidak boleh, walau hanya mendebat sendalnya. Mendebat orang tua adalah terlarang walaupun engkau dalam keadaan benar.”

Ungkapan ini bukan sekadar larangan berdebat, tetapi peringatan tentang adab yang sangat tinggi dalam Islam terhadap kedua orang tua. Seorang anak mungkin memiliki pengetahuan, logika, atau bahkan kebenaran dalam suatu perkara. Namun, cara menyampaikan dan sikap kepada orang tua tetap harus dijaga. Kebenaran tidak boleh disampaikan dengan kesombongan atau merendahkan mereka.

BACA JUGA:  Kisah Anak Durhaka: Mengambil Uang Ayahnya

Islam menempatkan bakti kepada orang tua setelah tauhid. Bahkan dalam banyak ayat, Allah menggandengkan perintah menyembah-Nya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua. Ini menunjukkan bahwa kedudukan mereka sangat agung, sehingga kesalahan dalam adab bisa menjadi sebab dosa besar.

Kalimat “walau hanya mendebat sendalnya” menggambarkan betapa hal kecil pun tidak pantas dijadikan ajang perdebatan dengan orang tua. Bukan berarti seorang anak tidak boleh berbicara atau memberi pendapat, tetapi harus dengan penuh kelembutan, hormat, dan tanpa meninggikan suara.

Kemudian datang peringatan yang sangat menyentuh: ketika orang tua mulai merendahkan suara mereka karena takut kepada anaknya, maka itu tanda bahaya. Hubungan yang seharusnya dipenuhi kasih sayang berubah menjadi ketakutan. Orang tua yang dahulu membesarkan dengan penuh cinta, kini merasa tertekan di hadapan anaknya sendiri.

BACA JUGA:  Ketika Anak Durhaka, Luka Orang Tua Tak Selalu Terlihat

Dalam keadaan seperti ini, seorang anak perlu segera bermuhasabah. Bisa jadi tanpa disadari, sikap keras, nada tinggi, atau cara berbicara telah melukai hati mereka. Durhaka tidak selalu dalam bentuk meninggalkan atau menyakiti secara fisik, tetapi juga bisa hadir melalui ucapan dan sikap yang menyakitkan.

Maka, menjaga lisan, merendahkan suara, dan menghormati orang tua adalah kewajiban yang tidak boleh diremehkan. Karena ridha Allah bergantung pada ridha orang tua, dan murka-Nya pun terkait dengan murka mereka. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119