Siapa di antara kita di zaman ini… yang mampu melakukan seperti yang dilakukan oleh
Urwah bin Zubair رحمه الله?
Beliau adalah sosok yang hatinya dipenuhi cinta kepada Allah, dan hidupnya dipenuhi dengan ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ—terutama dalam hal shalat.
Urwah dikenal sebagai orang yang sangat khusyuk dalam shalatnya. Ia menata seluruh hidupnya berdasarkan waktu-waktu shalat. Meski memiliki kebun yang luas, harta yang cukup, dan kesibukan perdagangan—ia tetap berlomba menuju masjid, mendahului panggilan adzan.
Allah ﷻ berfirman:
{إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا}
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)
Ketika beliau shalat, beliau seakan “hilang” dari dunia. Tidak peduli apa yang terjadi di sekitarnya. Inilah hakikat shalat—hadirnya hati sepenuhnya di hadapan Allah.
BACA JUGA: Mutiara Nasihat Urwah bin Zubair
Allah ﷻ berfirman:
{قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ}
“Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2)
Dari sinilah lahir keberkahan dalam hidupnya: harta, keluarga, dan manfaat bagi orang lain. Ia dikenal dermawan, memberi makan penduduk Makkah dari hasil kebunnya.
Namun suatu hari, beliau diuji.
Kakinya terserang penyakit parah hingga harus diamputasi.
Ketika kabar itu disampaikan, beliau tidak marah… tidak pula mengeluh.
Beliau hanya berkata: “Kita tidak menyambut takdir Allah kecuali dengan syukur.”
Para dokter menyarankan agar beliau diberi minuman keras agar tidak merasakan sakit. Tapi beliau menolak:
“Demi Allah, aku tidak pernah meminumnya, dan tidak akan pernah meminumnya.”
Lalu beliau berkata:
“Biarkan aku shalat. Jika aku telah tenggelam dalam shalatku, lakukanlah apa yang kalian kehendaki.”
Saat beliau sujud—saat seorang hamba paling dekat dengan Rabb-nya—mereka memotong kakinya…
Dan tidak terdengar darinya jeritan…
tidak pula keluhan…
Subhanallah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sujud.”
Inilah kekuatan shalat yang sebenarnya.
Ia bukan sekadar gerakan… bukan sekadar rutinitas…
Shalat menanamkan dalam hati:
✔ iman
✔ ketenangan
✔ tawakal
✔ kesabaran
✔ keyakinan
Hari ini, shalat kita sama seperti shalat mereka.
Rukunnya sama… gerakannya sama…
BACA JUGA: Urwah bin Az Zubair, Ahli ibadah yang Khusyuk
Namun yang berbeda adalah apa yang tertanam di dalam hati kita.
Jika kita belum mampu seperti mereka dalam kesabaran dan keteguhan,
maka mulailah dengan memperbaiki shalat kita.
Belajarlah khusyuk…
Belajarlah hadir di hadapan Allah…
Belajarlah jujur dalam bermunajat…
Karena dari situlah akan tumbuh kekuatan yang tidak pernah kita bayangkan.
Semoga Allah tidak menghalangi kita dari rahmat-Nya,
dan menjadikan shalat kita sebagai sumber kekuatan dalam hidup. []
SUMBER: AR-ISLAMWAY.NET
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

