Home SirahAbdul Muththalib, Kakek Rasulullah

Abdul Muththalib, Kakek Rasulullah

Di antara peristiwa penting yang terjadi di Baitul Haram semasa Abdul Muththalib adalah penggalian sumur Zamzam dan peristiwa Pasukan Gajah.

by Abu Umar
0 comments 107 views

Sebagaimana yang telah kita singgung pada bagian terdahulu bahwa penanganan air minum dan makanan sepeninggal Hasyim ada di tangan saudaranya, yaitu Al-Muththalib bin Abdu Manaf, seorang laki-laki yang rerpandang, dipatuhi dan dihormati di tengah kaumnya, yang dijuluki orang-orang Quraisy dengan sebutan Al-Fayyadh (Sang Dermawan), karena memang dia adalah seorang yang dermawan.

Tatkala Al-Muththalib mendengar bahwa Syaibah (Abdul Muththalib) sudah tumbuh menjadi seorang pemuda, maka dia mencarinya. Setelah keduanya saling berhadapan, kedua mata Al-Muththalib meneteskan air mata haru, lalu dia pun memeluknya dan dia bermaksud membawanya. Namun, Abdul Muththalib menolak ajakan itu, kecuali jika ibunya. mengizinkannya. Kemudian Al-Muththalib memohon kepada ibu Abdul Muththalib, tetapi permohonannya itu juga ditolak.

Al-Muththalib berkata. “Sesungguhnya dia akan pergi ke tengah kerajaan bapaknya dan Tanah Suci Allah Ta’ala.”

BACA JUGA: Kesabaran Rasulullah terhadap Tetangga-tetangganya

Akhirnya ibunya mengizinkan. Abdul Muththalib pun dibawa ke Mekkah dengan dibonceng di atas untanya. Sesampai di Mekkah, orang-orang berkata, “Inilah dia Abdul Muththalib.”

Al-Muththalib berkata, “Celakalah kalian. Dia adalah anak saudaraku, Hasyim.”

Abdul Muththalib menetap di rumah Al-Muththalib hingga menjadi besar. Kemudian Al-Muththalib meninggal dunia di Yaman maka Abdul Muththalib menggantikan kedudukannya. Dia hidup di tengah kaumnya dan memimpin mereka seperti yang dilakukan oleh bapak-bapaknya terdahulu. Dia mendapatkan kehormatan yang tinggi dan dicintai di tengah kaumnya, yang tidak pernah didapatkan oleh bapak-bapaknya.

Namun. Naufal-adik bapak Abdul Muththalib atau pamannya sendiri-merebut sebagian wilayah kekuasaannya, yang membuat Abdul Muththalib marah, sehingga dia meminta dukungan kepada beberapa pimpinan Quraisy untuk menghadapi pamannya.

Namun, mereka berkata, “Kami tidak ingin mencampuri urusan antara dirimu dengan pamanmu. Maka dia menulis surat yang ditujukan kepada paman-paman dari pihak ibunya, yaitu Bani An-Najjar yang berisikan beberapa bait syair yang intinya meminta pertolongan kepada mereka. Salah seorang pamannya, yaitu Abu Sa’ad bin Adi membawa delapan puluh pasukan berkuda, lalu singgah di pinggiran Mekkah. Kemudian Abdul Muththalib menemui pamannya di sana dan berkata, “Mari singgah ke rumahku, wahai pamanku.”

Pamannya berkata, “Tidak, demi Allah, kecuali setelah aku bertemu Naufal. Lalu Abu Sa’ad mencari Naufal yang saat itu sedang duduk di Hijir bersama beberapa pemuka Quraisy. Abu Sa’ad langsung menghunus pedang dan berkata. “Demi Rabbnya Ka’bah, jika engkau tidak mengembalikan wilayah kekuasaan anak saudariku, maka aku akan menebaskan pedang ini ke batang lehermu.”

BACA JUGA:  Amul Huzni, Tahun Kesedihan Nabi

Naufal berkata. “Aku sudah mengembalikannya.” Pengembalian ini dipersaksikan oleh para pemuka Quraisy, baru setelah itu Abu Sa’ad bin Adi mau singgah ke rumah Abdul Muththalib dan menetap di sana selama tiga hari. Setelah itu dia melaksanakan umrah lalu pulang ke Madinah.

Melihat perkembangan ini, maka Naufal mengadakan perjanjian persahabatan dengan Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf untuk menghadapi Bani Hasyim. Bani Khuza ah yang melihat dukungan Bani An-Najjar terhadap Abdul Muththalib berkata, “Kami juga melahirkannya sebagaimana kalian melahirkannya. Oleh karena itu, kami juga lebih berhak mendukungnya.”

Hal di atas bisa dimaklumi, karena ibu Abdu Manaf berasal dari keturunan mereka, sehingga mereka memasuki Darun Nadwah dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Bani Hasyim untuk menghadapi Bani Abdu Syams yang sudah bersekutu dengan Naufal. Perjanjian persahabatan inilah yang kemudian menjadi sebab penaklukan Mekkah.

Di antara peristiwa penting yang terjadi di Baitul Haram semasa Abdul Muththalib adalah penggalian sumur Zamzam dan peristiwa Pasukan Gajah. []

Sumber: Ar-Rahiq Al-Makhtum Bahtsun fis Siratin Nabawiyyati ‘ala Shahibiha Afdhalush Shalati was Sallam (Sirah Rasulullah, Sejarah Hidup Nabi Muhammad ﷺ / Penulis: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri / Penerbit: Ummul Qura / Cetakan 1: Oktober 2021 M/Rabiul Awwal 1443 H

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119