Allah Ta’ala berfirman:
{حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ}
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk dan taat.” (QS. Al-Baqarah: 238)
Ayat yang mulia ini adalah salah satu ayat agung tentang kedudukan shalat dalam Islam. Allah memerintahkan kaum mukminin agar senantiasa menjaga seluruh shalat, yaitu dengan menunaikannya tepat pada waktunya, menyempurnakan syarat, rukun, kewajiban, dan adab-adabnya.
Dalam Al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz, Al-Wahidi رحمه الله menjelaskan:
{حافظوا على الصلوات} بأدائها في أوقاتها
“Jagalah semua shalat dengan menunaikannya pada waktu-waktunya.”
Artinya, menjaga shalat bukan sekadar mengerjakannya, tetapi juga menaruh perhatian besar terhadap pelaksanaannya.
Apa yang Dimaksud dengan “Shalat Wustha”?
Dalam ayat ini, Allah menyebut secara khusus:
{وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى}
“dan (jagalah) shalat wustha”
Penyebutan ini menunjukkan bahwa shalat tersebut memiliki keutamaan dan perhatian khusus.
BACA JUGA:
Pendapat Pertama: Shalat Subuh
Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat wustha adalah shalat Subuh. Ini adalah pendapat yang dinukil dari:
Umar bin Al-Khaththab
Ibnu Umar
Ibnu Abbas
Mu’adz
Jabir
dan juga dipilih oleh:
‘Atha’
‘Ikrimah
Mujahid
serta menjadi salah satu pendapat yang dipegang oleh Imam Malik dan Imam Asy-Syafi’i رحمهما الله.
Mengapa Subuh disebut shalat wustha?
Para ulama menyebut beberapa alasan:
1. Karena letaknya di antara dua shalat malam dan dua shalat siang
Shalat Subuh berada di antara:
dua shalat malam: Maghrib dan Isya
dua shalat siang: Zhuhur dan Ashar
Karena itulah ia disebut sebagai “pertengahan”.
2. Karena shalat Subuh memiliki bacaan yang panjang
Allah berfirman dalam ayat lain:
{وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا}
“Dan (dirikanlah pula) shalat Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan.” (QS. Al-Isra’: 78)
Para ulama menjelaskan bahwa shalat Subuh disaksikan oleh malaikat malam dan malaikat siang, sehingga ia memiliki kemuliaan tersendiri.
3. Karena shalat Subuh sangat berat bagi banyak manusia
Shalat Subuh adalah shalat yang sering ditinggalkan, dilalaikan, atau dikerjakan dengan malas, sehingga penyebutannya secara khusus mengandung penekanan agar ia benar-benar dijaga.
Pendapat Kedua: Shalat Zhuhur
Sebagian sahabat dan ulama berpendapat bahwa shalat wustha adalah shalat Zhuhur. Ini adalah pendapat yang dinukil dari:
Zaid bin Tsabit
Abu Sa’id Al-Khudri
Usamah bin Zaid
Alasannya
Karena shalat Zhuhur berada di tengah hari, dan merupakan shalat siang yang berada di pertengahan.
Disebutkan pula bahwa dahulu Nabi ﷺ biasa melaksanakan shalat Zhuhur di waktu panas terik, dan itu termasuk shalat yang terasa berat bagi para sahabat. Maka sebagian ulama memandang bahwa inilah yang dimaksud dengan shalat wustha.
Pendapat Ketiga: Shalat Ashar (Pendapat yang Paling Kuat)
Mayoritas ulama berpendapat bahwa shalat wustha adalah shalat Ashar, dan ini adalah pendapat yang paling masyhur serta paling kuat berdasarkan hadits-hadits yang shahih.
Pendapat ini dinukil dari:
Ali bin Abi Thalib
Abdullah bin Mas’ud
Abu Ayyub
Abu Hurairah
Aisyah رضي الله عنهم
Juga dipilih oleh banyak tabi’in, seperti:
Ibrahim An-Nakha’i
Qatadah
Al-Hasan Al-Bashri
Dalil yang sangat tegas
Dari Ali رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda pada hari Khandaq:
«شَغَلُونَا عَنِ الصَّلَاةِ الْوُسْطَى، صَلَاةِ الْعَصْرِ، مَلَأَ اللَّهُ أَجْوَافَهُمْ وَقُبُورَهُمْ نَارًا»
“Mereka telah menyibukkan kami dari shalat wustha, yaitu shalat Ashar. Semoga Allah memenuhi perut dan kubur mereka dengan api.”
Hadits ini menjadi dalil paling jelas bahwa yang dimaksud dengan shalat wustha adalah shalat Ashar.
Mengapa Ashar begitu ditekankan?
Karena shalat Ashar sering menjadi shalat yang terlupakan oleh kesibukan dunia. Waktu Ashar adalah saat banyak orang sedang:
bekerja,
berdagang,
di jalan,
atau sibuk menyelesaikan urusan dunia.
Karena itu, syariat memberi peringatan yang keras agar shalat ini jangan sampai diremehkan.
Nabi ﷺ juga bersabda:
«مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ»
“Barang siapa meninggalkan shalat Ashar, maka gugurlah amalnya.” (HR. Al-Bukhari)
Ini menunjukkan betapa besar kedudukan shalat Ashar.
Pendapat-Pendapat Lain tentang Shalat Wustha
Selain tiga pendapat di atas, ada pula beberapa pendapat lain:
1. Shalat Maghrib
Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud adalah shalat Maghrib, karena jumlah rakaatnya berada di tengah: tidak paling sedikit dan tidak paling banyak.
2. Shalat Isya
Ada pula yang berpendapat bahwa itu adalah shalat Isya, tetapi penjelasan ini tidak memiliki sandaran kuat dari ulama salaf.
3. Salah satu dari lima shalat, tetapi tidak ditentukan
Sebagian ulama berpendapat bahwa Allah menyembunyikan secara pasti mana shalat wustha, agar hamba-hamba-Nya bersungguh-sungguh menjaga seluruh shalat.
Mereka mengqiyaskan hal ini dengan:
disembunyikannya Lailatul Qadar di bulan Ramadhan,
disembunyikannya waktu mustajab pada hari Jumat,
dan disembunyikannya nama Allah yang paling agung di antara nama-nama-Nya.
Namun, bila melihat keseluruhan dalil, maka pendapat yang paling kuat tetap bahwa shalat wustha adalah shalat Ashar.
Makna “Berdirilah untuk Allah dengan Qanit”
Allah kemudian berfirman:
{وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ}
“Dan berdirilah untuk Allah dengan qanit.”
Lalu apa makna qanitin dalam ayat ini?
Para ulama tafsir menyebutkan beberapa makna yang saling melengkapi. []
Pelajaran Penting dari Ayat Ini
Dari ayat agung ini, ada beberapa pelajaran yang sangat penting bagi setiap muslim:
1. Shalat harus dijaga, bukan sekadar dikerjakan
Banyak orang masih shalat, tetapi belum benar-benar menjaga shalat. Menjaga shalat berarti:
tepat waktu,
berjamaah bagi laki-laki,
khusyuk,
dan tidak meremehkannya.
2. Ada shalat tertentu yang perlu perhatian lebih
Walaupun semua shalat wajib dijaga, syariat mengajarkan bahwa ada waktu-waktu tertentu yang lebih berat dan lebih rawan dilalaikan, seperti:
Subuh, karena berat bangun,
Ashar, karena sering terganggu kesibukan dunia.
BACA JUGA: 4 Keutamaan Shalat Ashar
3. Shalat bukan hanya gerakan, tetapi ibadah hati
Makna qunut mengajarkan bahwa shalat yang benar adalah shalat yang dipenuhi:
ketaatan,
diam yang terjaga,
kekhusyukan,
dan pengagungan kepada Allah.
4. Kesibukan dunia sering menjadi penghalang terbesar
Karena itu, seorang muslim harus punya satu prinsip:
Jangan jadikan urusan dunia lebih penting daripada panggilan Allah.
Penutup
Ayat ini bukan hanya memerintahkan kita untuk shalat, tetapi juga mengajari kita bagaimana memperlakukan shalat dalam hidup.
Shalat bukan beban. Shalat adalah penjaga iman, penopang hati, dan tali penghubung antara hamba dengan Rabb-nya.
Maka siapa yang ingin hatinya baik, agamanya kokoh, dan hidupnya terarah, hendaklah ia benar-benar mengambil pesan ayat ini:
{حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ}
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah dengan penuh ketaatan.”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga shalat lahir dan batin. []
RUJUKAN: AR-ISLAM.NET
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

