Pada suatu siang yang terik di Madinah, para sahabat duduk melingkar di sekitar Rasulullah ﷺ. Mereka datang dengan wajah letih, membawa kegelisahan yang sederhana namun sering kita alami: rasa lapar yang tak kunjung hilang meski telah makan.
Seorang sahabat memberanikan diri bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan, tetapi kami tidak juga merasa kenyang.” Nabi ﷺ menatap mereka dengan penuh kasih sayang. Beliau tahu, bukan soal porsi yang kurang, tetapi ada keberkahan yang luput.
Beliau pun bersabda, “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Para sahabat menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Maka beliau pun menasihati dengan sabda yang sederhana namun menggetarkan: “Hendaklah kalian makan bersama-sama dan sebutlah nama Allah. Maka kalian akan diberi berkah padanya.” (HR. Abu Dawud).
BACA JUGA: Apakah Sunnah dan Bid’ah Itu?
Sejak saat itu, para sahabat pun mempraktikkan kebiasaan indah ini: makan secara berjamaah. Makanan yang sedikit, bila dimakan bersama dengan menyebut nama Allah, menjadi cukup bahkan lebih. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Makanan untuk dua orang cukup untuk tiga, makanan untuk tiga orang cukup untuk empat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Inilah ajaran Rasulullah ﷺ yang jarang disadari keindahannya. Dalam riwayat lain, Jabir bin Abdullah pernah menceritakan sebuah kisah yang menakjubkan. Saat Perang Khandaq, para sahabat dilanda kelaparan yang amat sangat. Jabir diam-diam menyiapkan makanan seadanya di rumahnya, lalu memanggil Rasulullah ﷺ untuk makan bersama beberapa orang sahabat.
Namun apa yang terjadi? Rasulullah ﷺ justru memanggil seluruh pasukan Khandaq! Jabir dan istrinya cemas, karena makanan di rumah hanya cukup untuk segelintir orang. Namun Rasulullah ﷺ tersenyum, meletakkan tangannya di atas adonan roti dan daging, lalu berdoa kepada Allah. Para sahabat pun makan secara bergiliran. Ajaib, roti dan daging itu tidak habis-habis sampai seluruh pasukan kenyang.
Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan, di antara keutamaan makan berjamaah adalah menumbuhkan kasih sayang, mengajarkan kebersamaan, dan menjauhkan diri dari sifat egois. Imam An-Nawawi menambahkan, sunnah makan bersama juga dapat melatih adab dan rasa syukur. Betapa sering kita merasa makanan kurang karena hati kita kering dari keberkahan.
BACA JUGA: Perintah Berpegang Teguh pada Sunnah Dan Tetap Berada dalam Jamaah
Dalam kehidupan modern, kita sering terburu-buru. Makan sendirian di depan layar, atau sambil berjalan. Padahal Rasulullah ﷺ telah menunjukkan adab makan: berkumpul, berbagi, menyebut nama Allah, dan menikmati kebersamaan. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menulis dalam Zadul Ma’ad, keberkahan makan bukan hanya pada jenis makanan, tetapi pada cara memakannya.
Dari sinilah kita belajar bahwa makan bersama bukan sekadar tradisi Arab, melainkan sunnah yang membawa keberkahan. Seorang sahabat pernah berkata, “Kami diajari adab makan sebagaimana kami diajari Al-Qur’an.” Begitu berharganya nilai kebersamaan di meja makan.
Kini, saat kita duduk bersama keluarga atau sahabat, mari hidupkan kembali sunnah ini. Letakkan gawai sejenak, kumpulkan hati, sebut nama Allah sebelum suapan pertama. InsyaAllah, dari remah roti yang sederhana pun, keberkahan akan melimpah—mengenyangkan tubuh dan menenangkan jiwa.
Wallahu a’lam. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

