Home Nasihat UlamaMenghadiri Shalat Subuh, atau Bersama Orang-orang Munafik?

Menghadiri Shalat Subuh, atau Bersama Orang-orang Munafik?

Betapa indahnya kaum muslimin jika sejak pagi mereka bersegera—baik tua maupun muda—menuju rumah-rumah Allah.

by Abu Umar
0 comments 90 views

Wahai umat Islam,
shalat Subuh adalah salah satu pembeda antara iman dan kemunafikan. Ia termasuk salah satu dari lima shalat wajib yang Allah tetapkan dalam sehari semalam, dan menjaga shalat ini merupakan salah satu sebab keselamatan. Maka mengapa shalat Subuh seakan mengeluhkan sedikitnya orang yang hadir menunaikannya?

Amma Ba’du

Aku berwasiat kepada kalian—wahai manusia—dan juga kepada diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah عز وجل:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kalian, kuatkanlah kesabaran kalian, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 200)

Wahai hamba-hamba Allah,

Jika kalian merasa heran, maka sungguh tidak ada yang lebih mengherankan daripada:

orang yang menginginkan surga tanpa iman,
orang yang mengaku beriman tanpa kesabaran,
dan orang yang berharap bisa sabar tanpa mujahadah, tanpa kesungguhan, dan tanpa keteguhan.

Apakah ketakwaan kepada Allah—yang dengannya seorang hamba akan selamat dan masuk surga—bisa diraih tanpa iman?

Tidak, demi Allah!
Tidak ada takwa kecuali dengan iman.

BACA JUGA: Keutamaan Shalat Shubuh dan Ashar

Dan antara iman dengan ketakwaan itu ada banyak tahapan yang harus dilalui:

sabar dalam ketaatan,
keteguhan dalam menghadapi ujian,
perjuangan melawan hawa nafsu,
muhasabah diri,
istiqamah di atas jalan yang lurus,
serta menunaikan kewajiban-kewajiban agama.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan taatilah Allah dan Rasul agar kalian diberi rahmat. Dan bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 132–133)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

“Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang bertakwa.” (QS. Maryam: 63)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman:

“Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dengan kemenangan mereka; mereka tidak disentuh oleh keburukan dan tidak pula mereka bersedih.” (QS. Az-Zumar: 61)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ pernah ditanya:

“Amalan apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga?”
Beliau menjawab:
“Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban; dinyatakan hasan oleh Al-Albani)

Dan Nabi ﷺ bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat Al-Bukhari, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wahai Bilal, bangkitlah lalu adzanlah: Tidak akan masuk surga kecuali seorang mukmin.”

Dan dalam riwayat Muslim:

“Wahai Ibnu Al-Khaththab, pergilah lalu serukan kepada manusia: Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang beriman.”

Surga Bukan Sekadar Angan-Angan

Masuk surga memang menjadi impian setiap muslim. Namun, surga bukan perkara ringan yang bisa diraih hanya dengan angan-angan.

Surga adalah tujuan yang mahal, tidak akan didapat kecuali oleh orang yang benar-benar menempuh jalannya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Itu bukanlah menurut angan-angan kalian dan bukan pula angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya dia akan dibalas dengannya, dan dia tidak akan mendapatkan pelindung maupun penolong selain Allah. Dan barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang dia beriman, maka mereka itulah yang akan masuk surga dan tidak dizalimi sedikit pun.” (QS. An-Nisa’: 123–124)

Allah telah mengutus para rasul dan menjelaskan jalan kebenaran agar manusia tidak punya alasan di hadapan-Nya:

“(Kami utus) para rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah diutusnya para rasul. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 165)

Dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Muslim, Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya itu semua adalah amal-amal kalian. Aku menghitungnya untuk kalian, lalu Aku akan membalasnya dengan sempurna. Maka barang siapa mendapati kebaikan, hendaklah dia memuji Allah. Dan barang siapa mendapati selain itu, maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri.”

Mengapa Shalat Subuh Begitu Banyak Ditinggalkan?

Wahai umat Islam,
shalat Subuh—yang merupakan pembeda antara iman dan nifak, serta salah satu shalat wajib yang Allah fardukan siang dan malam—mengapa begitu sedikit orang yang hadir menunaikannya?

Bahkan, mengapa jumlah orang yang meninggalkannya justru semakin bertambah dari tahun ke tahun?

Apakah hamba-hamba Allah di bumi rela meninggalkan satu shalat yang disaksikan oleh malaikat di langit?

Bukankah Allah telah berfirman:

“Sesungguhnya bacaan pada waktu Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra’: 78)

Yakni, shalat Subuh itu dihadiri oleh para malaikat, mereka menyaksikannya dan menjadi saksi bagi orang-orang yang mengerjakannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Malaikat malam dan malaikat siang bergantian mendatangi kalian, dan mereka berkumpul pada shalat Subuh dan shalat Ashar. Kemudian naiklah malaikat yang bermalam bersama kalian, lalu Rabb mereka bertanya—padahal Dia lebih mengetahui tentang mereka—: ‘Bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami datangi mereka juga dalam keadaan shalat.’” (Muttafaq ‘alaih)

Sampai Kapan Menyia-nyiakan Shalat Subuh?

Sampai kapan wahai orang-orang yang mengaku beriman dan menginginkan surga, kalian terus menyia-nyiakan perintah Allah?

Sampai kapan kalian terus meremehkan pahala dan kebaikan?

Sampai kapan kalian berpaling dari surga yang luasnya seluas langit dan bumi?

Sampai kapan kalian mengeluarkan diri kalian sendiri—karena lalai dari shalat ini—dari jaminan keselamatan Allah?

Tidakkah kalian mendengar sabda Nabi ﷺ:

“Lima shalat yang Allah wajibkan. Barang siapa menyempurnakan wudhunya, menunaikannya pada waktunya, menyempurnakan rukuk dan khusyuknya, maka dia memiliki janji dari Allah bahwa Allah akan mengampuninya. Dan barang siapa tidak melakukannya, maka dia tidak memiliki janji dari Allah. Jika Allah menghendaki, Dia mengampuninya; dan jika Dia menghendaki, Dia mengazabnya.” (HR. Abu Dawud dan lainnya; dishahihkan Al-Albani)

Shalat Subuh: Ujian Nyata Iman Seseorang

Wahai hamba-hamba Allah,
keluarkanlah diri kalian dari lingkaran kemunafikan, dan masuklah ke dalam jaminan Allah dengan menunaikan shalat Subuh bersama kaum mukminin.

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

Suatu hari Rasulullah ﷺ mengimami kami shalat Subuh. Setelah salam beliau bertanya:
“Apakah si fulan hadir?”
Mereka menjawab: “Tidak.”
Beliau bersabda:
“Sesungguhnya dua shalat ini (Isya dan Subuh) adalah shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik. Seandainya kalian mengetahui apa yang ada pada keduanya, niscaya kalian akan mendatanginya meskipun harus merangkak dengan lutut. Dan sesungguhnya shaf pertama itu seperti shaf para malaikat. Seandainya kalian mengetahui keutamaannya, niscaya kalian akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Dan shalat seseorang bersama satu orang lain lebih baik daripada shalat sendirian, dan shalatnya bersama dua orang lebih baik daripada bersama satu orang. Semakin banyak jamaah, semakin dicintai Allah.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i; dihasankan Al-Albani)

Dan Nabi ﷺ juga bersabda: “Barang siapa melaksanakan shalat Subuh, maka dia berada dalam jaminan Allah.” (HR. Muslim)

Sungguh, shalat Subuh adalah tolok ukur iman dan ujian nyata kejujuran seorang hamba.

Hasilnya sangat jelas:

apakah ia hadir berjamaah di masjid,
berdiri dalam shaf kaum mukminin,
dan masuk dalam perlindungan Allah,

atau justru:

malas,
absen,
terputus dari jamaah,
lalu keluar dari jaminan Allah
dan masuk ke dalam sifat-sifat orang munafik.

La haula wa la quwwata illa بالله.

Jangan Jadi Budak Hawa Nafsu

Bertakwalah kepada Allah, wahai kaum muslimin.

Wahai orang-orang yang merasa berat shalat Subuh di musim panas karena malam terasa pendek dan kalian terlalu larut begadang…

Wahai orang-orang yang merasa berat bangun Subuh di musim dingin karena ingin tetap hangat di atas kasur…

Sampai kapan kalian menjadi budak hawa nafsu, bukan hamba Allah?

Apakah kalian mengira bahwa dengan selalu menuruti keinginan jiwa, kalian akan mendapatkan kenyamanan?

Tidak, demi Allah.

Tidak ada kenyamanan yang sempurna di dunia ini.
Kenyamanan yang sempurna hanyalah di surga—bagi siapa yang memasukinya.

Dan surga itu tidak dimasuki kecuali oleh:

orang-orang beriman,
orang-orang bertakwa,
orang-orang yang beramal saleh,
dan orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sedangkan amal saleh yang paling utama adalah shalat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Beristiqamahlah kalian, meskipun kalian tidak akan mampu menghitung seluruhnya. Ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat. Dan tidak ada yang menjaga wudhu kecuali seorang mukmin.” (HR. Ahmad dan lainnya; dishahihkan Al-Albani)

Orang-Orang Saleh Terdahulu Sangat Menjaga Subuh

Maka bertakwalah kepada Allah.
Bersabarlah dalam ketaatan kepada-Nya dan dalam menjauhi maksiat kepada-Nya, sebagaimana orang-orang yang diberi taufik telah bersabar.

Mereka pun merasakan beratnya perjuangan, sebagaimana kalian juga merasakannya—bahkan mungkin lebih berat.

Namun mereka paham bahwa:

tidak ada rasa aman di akhirat dan tidak ada kenyamanan sejati, kecuali bagi orang yang takut kepada Rabb-nya di dunia dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ meriwayatkan dari Rabb-nya:

“Demi kemuliaan-Ku, Aku tidak akan mengumpulkan pada diri hamba-Ku dua rasa takut dan dua rasa aman. Jika dia takut kepada-Ku di dunia, Aku akan memberinya rasa aman pada hari Kiamat. Dan jika dia merasa aman dari-Ku di dunia, Aku akan membuatnya takut pada hari Kiamat.” (HR. Ibnu Hibban; dinilai hasan shahih oleh Al-Albani)

Semoga Allah merahmati generasi para ayah, kakek, dan salafus shalih yang dahulu:

berjalan ke masjid dalam gelapnya malam,
tidak terhalang oleh jauhnya masjid,
tidak takut oleh gangguan hewan,
ada di antara mereka yang dipapah oleh dua orang agar bisa berdiri di shaf,
ada yang sampai merangkak menuju masjid,
dan ada pula yang selama bertahun-tahun tidak pernah tertinggal takbiratul ihram.

Allah Ta’ala berfirman:

“Maka apabila datang malapetaka yang sangat besar (hari Kiamat), pada hari ketika manusia teringat akan apa yang telah dia usahakan, dan diperlihatkan neraka Jahim bagi siapa saja yang melihat. Maka adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh nerakalah tempat tinggalnya. Adapun orang yang takut akan kedudukan Rabb-nya dan menahan dirinya dari hawa nafsu, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 34–41)

Tanggung Jawab Ayah dan Orang Tua

Wahai hamba-hamba Allah,
betapa indahnya kaum muslimin jika sejak pagi mereka bersegera—baik tua maupun muda—menuju rumah-rumah Allah:

dalam keadaan bersuci,
memohon ampun,
mengharap pahala dari setiap langkah dan waktunya,
menjaga shalat mereka,
mengharap rahmat Rabb mereka,
dan takut akan azab-Nya.

Namun betapa buruk keadaan ketika:

orang tua tidak merasa memiliki tanggung jawab,
dan anak-anak tidak lagi melihat teladan di rumahnya.

BACA JUGA: Keutamaan-keutamaan Sedekah Shubuh

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai para orang tua, ayah, dan para kakak.

Jagalah amanah kalian.

Demi Allah, banyak pemuda dan remaja di zaman kita terbiasa meninggalkan shalat bukan semata karena diri mereka sendiri, tetapi karena mereka tumbuh dalam kondisi:

ayah yang rajin shalat untuk dirinya sendiri namun lalai terhadap anak-anaknya,
atau ayah yang bahkan tidak menjaga dirinya dari api neraka,
tidak memerintahkan kebaikan kepada keluarga dan anak-anaknya,
serta tidak menjaga amanah yang Allah titipkan kepadanya.

Maka bertakwalah kepada Allah dan tunaikanlah hak-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang keras dan kasar, yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6) []

Penulis: Syaikh Abdullah bin Muhammad Al-Bashri | Sumber: ar.islamway.net

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119