Sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah waktu yang paling dinanti oleh kaum muslimin, karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Namun, dalam praktiknya sering muncul pertanyaan ketika terjadi perbedaan awal Ramadhan antarnegara yang disebabkan oleh perbedaan rukyat hilal. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan: bagaimana menentukan malam ganjil di sepuluh malam terakhir, dan apakah mungkin seseorang mendapatkan Lailatul Qadar dua kali jika ia berpindah negara?
BACA JUGA: Amalan yang Dianjurkan unttuk Mendapatkan Lailatul Qadar
Perbedaan awal bulan memang dapat menyebabkan perbedaan penentuan malam ganjil dan genap. Misalnya, suatu negara memulai Ramadhan lebih dahulu dibanding negara lain, maka malam yang dianggap ganjil di satu negara bisa saja bertepatan dengan malam genap di negara lain. Namun para ulama menjelaskan bahwa hal tersebut bukan berarti ada dua malam yang berbeda.
Pada hakikatnya, malam tersebut tetap satu malam yang sama, hanya saja perhitungannya berbeda sesuai dengan awal Ramadhan di masing-masing negeri.
Karena itu, apabila seseorang beribadah di satu negara kemudian berpindah ke negara lain yang berbeda awal Ramadhannya, maka ia tetap berada dalam malam yang sama secara hakikat, meskipun secara hitungan di kedua negara berbeda. Dengan demikian, hal itu tidak berarti seseorang mendapatkan dua Lailatul Qadar dalam satu Ramadhan.
BACA JUGA: Apa yang Dilakukan Wanita Haid pada Malam Lailatul Qadar?
Namun ada gambaran lain yang secara teori memungkinkan seseorang mengalami sebagian malam dua kali. Misalnya seseorang berada di suatu negeri pada malam tertentu, kemudian ia melakukan perjalanan ke arah barat. Karena arah barat mengalami malam lebih lambat dibanding timur, orang tersebut dapat menjumpai bagian malam lagi di tempat yang baru.
Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa Lailatul Qadar tetap satu malam dalam satu Ramadhan. Perbedaan waktu dan perjalanan hanya membuat seseorang mengalami rentang malam yang lebih panjang, bukan mendapatkan dua Lailatul Qadar. Oleh sebab itu, sikap terbaik adalah menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir dengan ibadah, agar tidak melewatkan keutamaan malam yang agung tersebut. []
RUJUKAN: ISLAMQA
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

