Home IbrahAr Robi’ bin Khutsaim Menggali Kubur di Rumahnya Sendiri

Ar Robi’ bin Khutsaim Menggali Kubur di Rumahnya Sendiri

Demikian Ar-Rabi’ bin Khutsaim. Takut pada dosa. Takut pada kematian. Takut pada penyesalan.

by Abu Umar
0 comments 58 views

Ar-Rabi’ bin Khutsaim
pernah menggali sebuah kubur
di dalam rumahnya sendiri.
Lubang sunyi itu
bukan untuk mati,
tetapi untuk mengingat kematian.
Saat ia merasa kotor oleh dosa,
hatinya gelisah,
jiwanya berat.
Ia segera masuk ke liang itu.
Berbaring.
Diam.
Sendiri.
Di sana ia melantunkan firman Allah Ta’ala:

“Wahai Tuhanku, kembalikanlah aku,
agar aku dapat beramal saleh
terhadap apa yang telah aku tinggalkan.”

BACA JUGA: Taubatnya Seorang Pembunuh 100 Orang

Ayat itu diulanginya.
Berulang-ulang.
Dengan suara yang gemetar.
Lalu ia menegur dirinya sendiri,
“Wahai Rabi’,
mungkinkah engkau kembali
jika telah mati?”
“Maka beramallah…”

Ar-Rabi’ bin Khutsaim
adalah seorang ulama besar dari kalangan tabi’in.
Ia murid kesayangan
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
Ia bukan sekadar murid.
Ia peneladan.
Akhlaknya mirip.
Ibadahnya kuat.
Zuhudnya nyata.
Abu ‘Ubaidah bin Abdullah bin Mas’ud berkata,
“Jika Ar-Rabi’ masuk menemui Ibnu Mas’ud,
tak seorang pun diizinkan masuk
hingga urusannya selesai.”
Ibnu Mas’ud pun pernah berkata kepadanya,
“Wahai Abu Yazid,
seandainya Rasulullah ﷺ melihatmu,
niscaya beliau akan mencintaimu.”
“Setiap kali aku melihatmu,
aku teringat kepada orang-orang yang tunduk
dan khusyuk kepada Allah.”
Adz-Dzahabi berkata,
“Pengakuan ini
adalah keutamaan besar
bagi Ar-Rabi’ bin Khutsaim.”

Ia dikenal sangat bertakwa.
Hidupnya sederhana.
Jiwanya bersih.
Di zamannya,
ia termasuk delapan ulama
yang paling zuhud.
Namanya lengkap:
Ar-Rabi’ bin Khutsaim bin ‘Aidz.
Kunyahnya Abu Yazid.
Ia berasal dari kabilah Mudhar.
Nasabnya bertemu dengan Nabi ﷺ
pada Ilyas bin Mudhar.
Sejak kecil
ia tumbuh dalam ketaatan.
Sebuah karunia
yang jarang dimiliki.
Ia menjadi imam.
Menjadi teladan.
Dalam ibadah.
Dalam kezuhudan.

Suatu hari,
azan Zhuhur berkumandang.
Saat itu Ar-Rabi’ sedang sakit parah.
Tubuhnya lemah.
Napasnya berat.
Namun ia berkata kepada putranya,
“Mari kita sambut panggilan Allah.”

BACA JUGA: Masruq bin Al-Ajda, Ahli Ibadah yang Takut kepada Allah

Ia dipapah menuju masjid.
Dengan langkah tertatih.
Orang-orang berkata kepadanya,
“Engkau punya keringanan
untuk shalat di rumah.”
Ia menjawab dengan tenang,
“Aku memang punya keringanan.”
“Tapi aku mendengar seruan
hayya ‘alash shalah.”
“Barang siapa mendengarnya,
hendaklah ia mendatanginya
jika mampu,
meski harus merangkak.”

Demikian Ar-Rabi’ bin Khutsaim.
Takut pada dosa.
Takut pada kematian.
Takut pada penyesalan.
Ia mengingat akhir
sebelum tiba akhir.
Ia beramal
sebelum tak ada lagi kesempatan. []

RUJUKAN: RUMAYSHO | ISMAIL IBNU ISA

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119