Kematian bukan sekadar perpisahan.
Ia adalah penutupan.
Penutupan lembar amal.
Penutupan kesempatan.
Abu Sa‘id Al-Ma‘la berkata,
ketika seseorang wafat,
buku catatan amalnya telah ditutup.
Ia tidak lagi bisa menambah kebaikan.
Bahkan untuk menjawab salam pun
tidak bernilai pahala sebagai ibadah.
Kesempatan telah lewat.
Waktu telah habis.
Yang tersisa hanyalah penantian.
BACA JUGA: Penyesalan di Akhirat
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga:
sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Hadits ini jelas.
Amal berhenti.
Kecuali yang telah ditanam sebelumnya.
Penyesalan Para Mayit
Mutharif bin Asy-Syakhir meriwayatkan sebuah kisah yang mengguncang hati.
Ia bertemu dengan para mayit.
Mereka mengenalnya.
Namun tidak mampu menjawab salamnya.
Bukan karena tidak mendengar.
Tetapi karena amal telah terhenti.
Mereka berkata,
“Seandainya kami bisa menjawab salam sebagai ibadah,
niscaya akan kami tebus dengan seluruh isi dunia.”
Inilah penyesalan sejati.
Bukan karena harta.
Bukan karena jabatan.
Tetapi karena hilangnya kesempatan beramal.
Allah Ta‘ala berfirman,
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata:
‘Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau menangguhkan kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih.’”
(QS. Al-Munafiqun: 10)
Penyesalan itu nyata.
Namun datang terlambat.
Menanti Kiriman Amal
Para mayit itu juga berkata,
mereka keluar pada malam Jumat.
Menanti.
Bukan dunia.
Tetapi sedekah dan doa.
Mereka berharap ada keluarga yang ingat.
Ada yang bersedekah.
Ada yang mengirim pahala.
Inilah bukti kasih sayang Islam.
Amal orang hidup
masih bisa bermanfaat
bagi yang telah wafat.
Imam Ahmad rahimahullah berkata,
“Setiap kebaikan yang dihadiahkan kepada mayit,
akan sampai kepadanya.”
Sedekah.
Doa.
Istighfar.
Bacaan Al-Qur’an menurut banyak ulama.
Semuanya adalah hadiah berharga
bagi penghuni kubur.
Tubuh Hancur, Amal yang Dicari
Para mayit itu berkata,
kafan mereka telah rusak.
Tubuh mereka telah hancur.
Tulang-tulang mereka berantakan.
Tidak ada lagi yang bisa dibanggakan.
Tidak ada lagi yang bisa diselamatkan.
Kecuali amal.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Tidak ternilai sisa umur seorang mukmin.
Jika ia berdosa lalu bertobat,
maka Allah menghapus dosa-dosanya.”
Selama hidup masih ada,
pintu masih terbuka.
Taubat masih diterima.
Amal masih dicatat.
BACA JUGA: 4 Amalan yang Mendatangkan Rezeki, dan 4 Dosa yang Menghalangi Rezeki
Penutup: Jangan Tunggu Ditutup
Kisah ini bukan sekadar cerita.
Ia adalah peringatan.
Agar kita tidak menunda.
Agar kita tidak lalai.
Gunakan hidup sebelum mati.
Gunakan sehat sebelum sakit.
Gunakan waktu sebelum ditutup.
Karena kelak,
kita pun akan berada di tempat yang sama.
Menunggu.
Tanpa bisa berbuat apa-apa.
Maka beramallah sekarang.
Bersedekahlah sekarang.
Bertobatlah sekarang.
Sebelum kita berkata,
“Seandainya aku diberi waktu sedikit saja.” []
Sumber: 40 Hari Menuju Kematian, Karya: Syaikh Maulana M. Islam, Penerbit Nabawi, Cetakan Pertama 2016
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

