Home MuamalahBersahabat dengan Orang yang Shalih

Bersahabat dengan Orang yang Shalih

Jika seseorang betah dalam pergaulan yang lalai, itu pertanda ada yang perlu diperbaiki dalam imannya.

by Abu Umar
0 comments 51 views

Bersahabat dengan orang-orang saleh adalah nikmat yang sering kali luput dari rasa syukur. Padahal, ia termasuk karunia besar yang Allah berikan kepada seorang hamba setelah hidayah Islam. Teman yang saleh bukan sekadar kawan berbagi cerita, tetapi penuntun dalam ketaatan, pengingat ketika lalai, dan peneguh saat iman melemah. Karena itu, Islam sangat menaruh perhatian pada siapa yang kita jadikan sahabat dekat dalam perjalanan hidup ini.

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka peganglah erat-erat.” Perkataan ini menunjukkan bahwa sahabat saleh adalah anugerah langka. Ia tidak mudah ditemukan, dan ketika Allah mempertemukan kita dengannya, kewajiban kita adalah menjaganya, bukan justru menyia-nyiakannya.

BACA JUGA:  Sahabat dalam Cahaya Iman

Sahabat saleh adalah cermin bagi iman kita. Ia mengajak kepada kebaikan tanpa merasa lebih mulia. Ia menasihati tanpa merendahkan. Ia mengingatkan akhirat tanpa membuat dunia terasa hampa. Dalam keseharian, kehadirannya mendorong kita mencintai masjid, majelis ilmu, dan amal-amal sunyi yang sering tidak terlihat manusia. Tanpa banyak kata, ia mengajarkan bahwa agama bukan hanya teori, melainkan praktik hidup.

Hasan al-Bashri rahimahullah menegaskan pentingnya ikatan ini dengan berkata, “Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.” Persahabatan karena iman tidak berhenti di dunia. Ia berlanjut hingga akhirat, ketika manusia saling membutuhkan pertolongan. Betapa ruginya orang yang sepanjang hidupnya hanya dikelilingi teman yang menjauhkan dari Allah.

Ulama salaf lainnya, Sufyan ats-Tsauri rahimahullah, berkata, “Tidaklah seseorang menyendiri kecuali karena rusaknya persahabatan.” Maksudnya, hati yang sehat akan selalu rindu kepada teman yang mengingatkan pada Allah. Jika seseorang betah dalam pergaulan yang lalai, itu pertanda ada yang perlu diperbaiki dalam imannya. Sebaliknya, hati yang hidup akan merasa sempit ketika jauh dari lingkungan orang-orang saleh.

BACA JUGA:  Hukum Bertawassul dengan Amal Shalih

Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata, “Nilailah seseorang dari siapa ia berteman.” Sebab, tabiat dan agama seseorang perlahan akan mengikuti sahabat dekatnya. Karena itu, memilih teman sejatinya adalah memilih jalan hidup. Jalan menuju ridha Allah atau sebaliknya.

Maka, marilah kita bersungguh-sungguh mencari dan menjaga persahabatan dengan orang-orang saleh. Doakan mereka, dukung ketaatan mereka, dan bersabarlah atas kekurangan mereka. Karena bisa jadi, lewat sahabat saleh itulah Allah menjaga iman kita hingga akhir hayat. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119