Salah satu nasihat emas dari para ulama salaf tentang keikhlasan datang dari Ibrahim bin Adham rahimahullah. Beliau berkata, “Belum jujur kepada Allah orang yang masih mencintai ketenaran.” Kalimat pendek namun menghantam hati siapa pun yang ingin memperbaiki niat. Sebab kecintaan terhadap ketenaran—meski samar dan tersembunyi—dapat menjadi penghalang antara seorang hamba dengan keikhlasan yang murni.
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah kemudian memberi komentar yang sangat halus namun tajam. Beliau menjelaskan bahwa tanda orang yang ikhlas meski terkadang tidak sadar masih menyukai ketenaran, adalah ketika diingatkan ia tidak marah, tidak membela diri, dan tidak mencari citra baik. Justru ia mengakui dan berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang menghadiahkan aib-aibku.”
BACA JUGA: Ikhlas: Teruslah Jadi Orang Baik
Menurut beliau, penyakit paling berbahaya adalah tidak merasa punya aib, bahkan tidak merasa bahwa dirinya tidak merasa. Itu adalah penyakit kronis pada jiwa—lebih berat daripada sekadar kesalahan yang tampak.
Para ulama salaf lainnya juga memberikan peringatan serupa. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” Kata-kata ini menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap pandangan manusia, termasuk cinta popularitas, adalah musuh besar keikhlasan.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pun pernah menasihati, “Jika engkau melihat seseorang selalu takut terhadap pujian manusia, ketahuilah bahwa ia telah memahami agama.” Pujian, tepuk tangan, dan ketenaran dapat membutakan mata hati jika tidak dikendalikan.
Mengapa seseorang yang ikhlas mudah menerima nasihat? Karena ia mencintai kebenaran lebih dari citra dirinya. Ia senang diluruskan karena orientasinya adalah Allah, bukan kehormatan pribadi. Ia merasa bahwa setiap kritik adalah jalan menuju perbaikan. Sebaliknya, orang yang hatinya condong pada ketenaran akan sulit menerima koreksi. Ego menjadi tabir, dan tabir itu memperberat langkah menuju keikhlasan.
BACA JUGA: Menjaga Ikhlas di Tengah Berbolak-Baliknya Hati
Para salaf memahami bahwa keikhlasan tidak datang secara instan. Ia butuh perjuangan, mujahadah, dan latihan terus-menerus. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata, “Tidak ada sesuatu yang paling berat aku obati dibandingkan niatku, karena niat itu selalu berubah-ubah.”
Untuk itu, seorang hamba harus membuang ego pribadi, meninggalkan kecintaan terhadap sorotan manusia, dan fokus mencari ridha Allah semata. Ketika kesalahan diluruskan, ia mengucapkan syukur. Ketika dipuji, ia takut. Ketika diberi amanah, ia merasa kecil.
Keikhlasan bukan milik orang yang ingin dikenal, tetapi milik orang yang ingin Allah melihat hatinya bersih.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba yang ikhlas, jauh dari kecintaan terhadap ketenaran, dan dekat dengan kebenaran. Aamiin. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

