Ghibah, atau membicarakan keburukan orang lain di belakangnya, jelas merupakan dosa besar. Namun timbul pertanyaan: bagaimana jika ghibah itu hanya terjadi di dalam hati? Apakah bisikan hati yang berisi keburukan tentang orang lain termasuk dosa?
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim:
إن الله تجاوز عن أمتي ما حدثت به أنفسها ما لم تعمل أو تكلم
“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang dibisikkan oleh jiwanya, selama belum dilakukan atau diucapkan.”
BACA JUGA: Ghibah ataukah Fitnah?
Artinya, bisikan hati — selama tidak diucapkan atau diwujudkan dalam tindakan — tidak dihitung sebagai dosa. Sebab, ia masih dalam ranah lintasan batin yang belum menjadi kehendak nyata.
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa Allah tidak membebani manusia atas lintasan hati yang tidak disengaja, karena hal itu di luar kemampuan manusia untuk mengendalikannya. Namun, ketika lintasan itu dibiarkan tumbuh menjadi keyakinan atau niat jahat, maka seseorang mulai memikul tanggung jawab moral di hadapan Allah.
Ibnul Qayyim rahimahullah menambahkan dalam Madarijus Salikin, bahwa hati seorang mukmin selalu berperang antara bisikan kebaikan dan kejahatan. Jika ia menolak bisikan buruk karena takut kepada Allah, maka penolakan itu menjadi amalan yang berpahala. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika seorang hamba berniat melakukan kejahatan lalu ia meninggalkannya karena Allah, maka Allah mencatat baginya satu kebaikan.”
BACA JUGA: Buruknya Ghibah
Maka, seseorang yang terlintas dalam hatinya untuk mengghibah orang lain, lalu ia menahan diri karena takut kepada Allah, bukan hanya terbebas dari dosa — bahkan mendapatkan pahala. Ini adalah tanda kasih sayang Allah kepada hamba-Nya: lintasan buruk yang ditolak akan diganti dengan ganjaran.
Sebaliknya, jika lintasan itu dibiarkan, disetujui, lalu diucapkan, barulah ia menjadi ghibah yang sesungguhnya dan mendatangkan dosa.
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
إذا هم العبد بالسيئة ثم تركها من أجل الله كتبها الله له حسنة, فإن تركها غفلة عنها أو شغلاً عنها لم تكتب عليه
“Jika seorang hamba bermaksud melakukan sebuah kejelekan, lalu ia tidak jadi melakukannya karena Allah, ganjaran pahala baginya. Jika ia melakukannya karena lalai atau tidak disadari maka tidak berdosa.”
Begitulah rahmat Allah yang luas. Hati yang dijaga dari ghibah, sekalipun hanya dalam bisikan, adalah tanda keimanan yang hidup dan takut kepada-Nya.
Wallahu a‘lam bish-shawab. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

