Setelah ruh meninggalkan jasad, manusia akan memasuki alam barzakh — sebuah fase antara dunia dan akhirat yang menjadi tempat awal pembalasan amal. Di sanalah setiap orang akan diuji melalui fitnah kubur, yaitu pertanyaan dari dua malaikat tentang siapa Tuhannya, apa agamanya, dan siapa nabinya. Ujian ini bukan sekadar tanya-jawab, melainkan penyingkap sejauh mana keimanan seseorang ketika hidup di dunia.
Dalam menghadapi fitnah kubur, manusia akan terbagi menjadi beberapa golongan. Ada yang diberi keteguhan oleh Allah sehingga dapat menjawab dengan benar dan mendapatkan ketenangan, dan ada pula yang kebingungan serta disiksa karena kesesatan dan kelalaiannya. Mengetahui golongan-golongan ini akan membuat kita lebih sadar pentingnya menjaga iman dan amal selama hidup agar selamat di alam kubur nanti.
1. Para nabi
Para nabi tidak terkena fitnah kubur dan mereka tidak ditanyai karena dua hal;
Pertama; para nabi lebih mulia dari syuhada, nabi mengabarkan bahwa orang yang mati syahid terjaga dari fitnah kubur, beliau bersabda:
كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً
“Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai fitnah.”152
Kedua; para manusia selain nabi ditanya siapa nabi mereka. Para nabi ditanyakan, bukan ditanyai.
BACA JUGA: Alam Barzakh (Alam Kubur)
2. Shiddiqun
Golongan manusia ini tidak ditanya dalam kubur, sebab tingkatan shiddiqun lebih tinggi dari tingkatan syuhada’. Karena syuhada tidak ditanya dalam kubur, berarti shiddiqun lebih utama untuk tidak ditanya, sebab shiddiq sudah menyandang sifat jujur, benar dan dipercaya, kejujuran dan kebenarannya sudah diketahui sehingga tidak perlu diuji, ujian hanya diberikan kepada orang yang diragukan, apa dia jujur ataukah dusta.
Orang yang jujur dan benar tidak perlu lagi untuk ditanya. Sementara itu sebagian ahlul ilmi berpendapat, shiddiqun ditanyai dalam kubur berdasarkan keumuman ayat. Wallahu a’lam.
3. Syuhada
Orang-orang yang terbunuh di jalan Allah, mereka tidak ditanya dalam kubur karena keimanan mereka telah terlihat berkat jihad yang mereka lakukan. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَكَةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْءَانِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ، مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ، وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ )
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 111)
Allah berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ )
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.” (QS. Ali Imran: 169)
Nabi bersabda:
كفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةٌ
“Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai fitnah
Orang yang meninggal dunia saat menjaga perbatasan saja terhindar dari fitnah kubur karena kebenaran dan kejujurannya telah terlihat, berarti orang yang terbunuh dalam peperangan lebih utama, karena orang yang terbunuh saat perang rela mengor-bankan nyawa dan mempertaruhkan leher untuk ditebas musuh-musuh Allah demi menjunjung tinggi kalimat Allah dan membela agama-Nya. Ini merupakan bukti terbesar atas kebenaran iman yang ia punya.
4. Murabithun (para penjaga perbatasan)
Mereka tidak ditanyai dalam kubur. Disebutkan dalam Shahih Muslim, Rasulullah bersabda:
رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامٍ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلَهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَانَ
“Menjaga perbatasan sehari semalam lebih baik dari puasa dan qiyamullail sebulan, bila ia meninggal, amalan seperti yang biasa ia lakukan tetap berlaku baginya, ia diberi rizki dan dihindarkan dari penanya (kubur).”134
5. Anak kecil dan orang gila
Apakah mereka ditanya dalam kubur ataukah tidak? Sebagian ulama berpendapat, mereka ditanya karena termasuk dalam ke-umuman ayat, meski taklif gugur dari orang-orang seperti ini, namun kondisi setelah mati berbeda dengan kondisi saat masih hidup.
Ulama lain berpendapat, orang gila dan anak-anak kecil tidak ditanya karena mereka bukan mukallaf. Karena bukan mukallaf, mereka tidak dihisab karena hisab hanya diberlakukan bagi mukallaf yang mendapat hukuman atas perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan, sementara dalam hal ini orang gila dan anak-anak kecil tidak, mereka hanya memiliki pahala. Jika mereka melakukan amal baik, mereka mendapat pahala.
menjelaskan, manusia terbagi Syaikh Ibnu Utsaimin menjadi tiga golongan; orang-orang mukmin murni dan orang-orang munafik. Kedua golongan ini ditanya dalam kubur. Golongan ketiga; orang-orang kafir murni. Apakah mereka ditanya dalam kubur, terdapat perbedaan pendapat dalam hal ini. Ibnu Qayyim dalam kitabnya Ar-Ruh menguatkan, mereka ditanya dalam kubur.
BACA JUGA: 3 Teman Setia Seorang Muslim di Dalam Kubur
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberi penjelasan, fitnah kubur berlaku secara umum untuk seluruh mukallaf kecuali para nabi. Terdapat perbedaan pendapat tentang para nabi apakah mereka ditanya dalam kubur. Seperti itu juga syuhada, murabithun (para penjaga perbatasan) dan semacamnya di mana nash-nash menunjukkan mereka selamat dari fitnah kubur.
Ulama berbeda pendapat tentang orang-orang yang bukan mukallaf seperti anak kecil dan orang gila. Sekelompok ulama berpendapat, mereka tidak ditanya dalam kubur. Di antara yang mengemukakan pendapat ini Qadhi Abu Yala dan Ibnu Ugail Alasan mereka, ujian hanya diberikan kepada mukallaf, sementara orang-orang yang tidak dicatat amalnya tidak termasuk dalam ujian, sebab tidak ada gunanya menanyakan sesuatu pada orang yang bukan mukallaf. Yang lain berpendapat, anak kecil, orang gila dan orang-orang serupa yang bukan mukallaf tetap ditanya dalam kubur.
Pendapat ini dikemukakan Abu Hakim al-Hamdani dan Abu Hasan bin Abdus. Abu Hasan menukil pendapat ini dari murid-murid Imam Syafi’i. la menjelaskan, ini sesuai dengan pandangan orang yang menyatakan bahwa mereka akan diuji di akhirat dan diberi beban taklif pada hari kiamat seperti yang dikemukakan oleh sebagian besar ahlul ilmi dan ahlus sunnah dari kalangan ahli hadits dan ilmu kalam. Demikian yang disebutkan Abu Hasan al-Asy’ari dari ahlus sunnah dan ia pilih. Seperti itulah inti pendapat pendapat Imam Ahmad. []
Sumber: Ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah (Misteri Kematian – Menguak Fenomena Kematian & Rentetan Peristiwa Dahsyat Menjelang Kiamat / Penulis: Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli / Cetakan Pertama: Rabiul Awwal 1439 H/Nopember 2017 M / Penerbit: Pustaka Dhiya’ul Ilmi
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

