Orang-orang salaf dahulu menjadi shalih bukan semata karena pengetahuan mereka yang luas, melainkan karena kesungguhan mereka dalam menjaga amal. Mereka memahami bahwa keistiqamahan dalam ibadah kecil sekalipun adalah kunci keselamatan hati. Amal yang mungkin tampak sederhana di mata manusia, seperti duduk berlama-lama di masjid selepas maghrib atau berdzikir selepas shalat subuh, bagi mereka adalah jalan menuju kedekatan dengan Allah.
Kebiasaan ini kini semakin jarang ditemui. Duduk di masjid selepas maghrib menunggu datangnya waktu Isya, atau melantunkan dzikir pagi setelah shalat subuh hingga matahari meninggi, perlahan-lahan hilang dari tradisi kaum Muslimin. Banyak orang menganggapnya kuno, bahkan tidak relevan dengan kehidupan modern yang dipenuhi kesibukan pekerjaan. Tidak jarang pula, ibadah ini hanya dilakukan oleh mereka yang sudah berusia senja atau oleh orang-orang yang dianggap “tidak sibuk”.
BACA JUGA: 18 Amal Shalih
Padahal, Rasulullah ﷺ telah mencontohkan kebiasaan ini. Dalam sebuah riwayat dari Jabir bin Samurah ra, disebutkan: “Bahwasanya setiap kali Nabi Muhammad ﷺ selesai shalat fajar, beliau duduk di tempatnya hingga matahari terbit dengan terang.” (HR. Muslim). Begitu pula riwayat dari Anas ra yang menegaskan bahwa orang yang shalat subuh berjamaah, lalu tetap duduk di tempat shalatnya hingga matahari terbit dan kemudian mendirikan shalat dua rakaat, akan memperoleh pahala seperti haji dan umrah yang sempurna. Rasulullah ﷺ mengulang kata “sempurna” hingga tiga kali, seakan ingin menegaskan betapa agungnya amal ini.
Imam Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali berlalu satu hari, maka hilanglah sebagian dari dirimu.” Perkataan ini mengingatkan kita bahwa waktu yang terbuang tanpa amal shalih adalah kerugian yang nyata. Salafus shalih sangat menjaga waktu-waktu utama, terutama selepas subuh hingga matahari terbit, karena mereka yakin di dalamnya terdapat keberkahan besar yang sulit tergantikan.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa duduk berzikir selepas shalat subuh hingga matahari terbit adalah salah satu tanda orang yang benar-benar mencintai Allah. Ia berkata, “Di waktu pagi, hati seorang hamba paling siap menerima cahaya Rabbnya. Maka siapa yang menyibukkan diri dengan dzikir pada waktu itu, ia akan dipenuhi cahaya hingga sore.”
Namun kini, betapa banyak dari kita yang sulit melakukannya. Kesibukan dunia seringkali menjadi alasan. Bahkan untuk shalat berjamaah saja, banyak yang hanya mampu hadir di waktu maghrib atau isya, dan masih jarang yang merasakan indahnya duduk selepas subuh. Padahal, duduk sejenak di masjid bukan hanya amal ibadah, melainkan juga bentuk latihan hati untuk menahan diri dari kesibukan dunia yang melenakan.
BACA JUGA: Hukum Bertawassul dengan Amal Shalih
Renungan ini seharusnya membangunkan hati kita. Jika para salaf dahulu menjaga amal-amal kecil dengan penuh kesungguhan, sementara kita menyepelekannya, bagaimana mungkin kita bisa mengharapkan derajat yang sama dengan mereka? Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku tidak mengetahui amalan yang lebih utama daripada duduk di masjid.” Perkataan ini sederhana, namun menyimpan pesan bahwa keutamaan amal tidak diukur dari kemegahannya, tetapi dari ketulusan dan konsistensinya.
Maka marilah kita mencoba menghidupkan kembali kebiasaan mulia ini. Duduklah sejenak selepas subuh, meskipun hanya sebentar, untuk berdzikir, membaca Al-Qur’an, atau merenungi ciptaan Allah. Biarlah hati kita terbiasa dengan ketenangan pagi yang penuh rahmat. Semoga Allah menolong kita untuk merasakan manisnya ibadah, dan menjadikan kita penerus amal-amal salaf yang penuh berkah. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

