Home Kajian4 Tingkatan Wara

4 Tingkatan Wara

Dengan mempraktikkan wara’, seorang Muslim akan lebih terjaga amalannya, hatinya lebih bersih, dan hidupnya penuh keberkahan karena selalu berusaha berada di jalan yang diridhai Allah SWT.

by Abu Umar
0 comments 87 views

Dalam ajaran Islam, wara’ merupakan salah satu sifat mulia yang sangat ditekankan oleh para ulama salaf. Wara’ berarti sikap hati-hati dan menjauhkan diri dari segala hal yang syubhat (meragukan), bahkan terkadang meninggalkan sesuatu yang halal karena khawatir terjerumus ke dalam yang haram. Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata, “Asal dari ilmu adalah sikap wara’.” Hal ini menunjukkan bahwa ilmu tanpa diiringi sikap hati-hati dalam menjaga diri dari perkara yang meragukan tidak akan membawa keberkahan.

Sifat wara’ juga menjadi tanda ketakwaan seorang Muslim, sebab orang yang benar-benar takut kepada Allah tidak hanya menjauhi dosa yang jelas, tetapi juga berhati-hati terhadap hal yang samar. Seperti yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali, “Wara’ adalah meninggalkan apa yang meragukan hatimu menuju apa yang tidak meragukan hatimu.” Dengan mempraktikkan wara’, seorang Muslim akan lebih terjaga amalannya, hatinya lebih bersih, dan hidupnya penuh keberkahan karena selalu berusaha berada di jalan yang diridhai Allah SWT.

BACA JUGA: 3 Tingkatan Menghitung Nama Allah

Wara mempunyai beberapa tingkata.

Tingkatan pertama, berpaling dari segala sesuatu yang da-pat berpotensi dikeluarkannya fatwa akan keharamannya. Hal ini sudah tidak butuh penjabaran lebih lanjut.

Tingkatan kedua, wara (menjaga diri) dari segala ben-tuk syubhat yang tidak wajib dijauhi, namun disunnah-kan dan dianjurkan. Seperti keterangan yang akan datang dalam penjelasan bagian-bagian syubhat. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ ., “Tinggalkan apa yang meragukan-mu, kerjakan apa yang tidak meragukanmu.” (HR at-Tirmidzi)

BACA JUGA: 2 Tingkatan Manusia dalam Menerima Nasihat

Tingkatan ketiga, menjauhi sebagian perkara halal ka-rena khawatir terjatuh dalam perkara haram.

Tingkatan keempat, menjauhi segala sesuau yang bukan karena Allah swt. Ini adalah sifat wara-nya orang-orang yang jujur (shiddiqîn). Contohnya, adalah cerita yang dinisbatkan pada Yahya bin Yahya an-Naisaburi bahwa ia meminum obat, lalu istrinya berkata, “Andai engkau berjalan-jalan sebentar di dalam rumah sehingga obat itu benar-benar bereaksi.”

Yahya menimpali, “Berjalan ini adalah sesuatu yang tak kuketahui sebelumnya, sedang selama 30 tahun aku telah mengintrospeksi (muhasabah) diriku.” Maksud dari lelaki ini adalah dia tidak melihat adanya niat dalam terapi dengan cara berja-lan di atas yang dapat dikaitkan kepada agama sehingga ia tidak melakukan hal tersebut. Inilah satu dari detail-detailnya wara’. []

Sumber: Mukhtashar Minhaj al-Qashidîn (Rahasia Hidup Orang-orang Shaleh) / Penulis: Ibnu Qudamah / Penerbit: al-Maktab al-Islami (Khatuliswa Pers) / Tahun Terbit ?/Cet.: 2000/Kesembilan

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119