Abu Darda’ berkata, “Tidaklah seorang mukmin itu bersedekah dengan sebuah sedekah yang lebih dicintai Allah daripada seuntai nasihat yang dia berikan kepada kaumnya, lalu mereka berpisah sedang Allah telah memberikan manfaat kepada mereka melalui nasihat tersebut.” (1/634).
وَعَنْ حَرَامِ بْنِ حَكِيمٍ قَالَ : قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ : لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَنْتُمْ رَاؤُوْنَ بَعْدَ الْمَوْتِ لَمَّا أَكَلْتُمْ طَعَامًا عَلَى شَهْوَةٍ وَلَا شَرِبْتُمْ شَرَابًا عَلَى شَهْوَةٍ وَلَا دَخَلْتُمْ بَيْتًا تَسْتَظِلُوْنَ بِهِ وَالخَرَجْتُمْ إِلَى الصَّعَدَاتِ تَضْرِبُوْنَ نُفُوْسَكُمْ وَتَبْكُوْنَ عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَوَدِدْتُ أَنِّي شَجَرَةٌ تُعْضَدُ ثُمَّ تُؤْكَلُ.
Dari Haram bin Hakim berkata, Abu Darda berkata, ‘ “Seandainya kalian mengetahui apa yang akan kalian lihat setelah mati, niscaya kalian tidak akan berselera makan, tidak berselera minum, kalian juga tidak akan masuk rumah untuk berteduh, dan sungguh kalian akan keluar ke lembah-lembah sembari memukuli dan menangisi diri kalian sendiri. Sungguh, aku ingin bila saja aku adalah pepohonan yang ditebang kemudian dimakan.” (1/634-635).
وَعَنْ يَزِيْدِ بْنِ مَرْثَدٍ أَبُو عُثْمَانَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ أَنَّهُ قَالَ : ذِرْوَةُ الإِيْمَانِ الصَّبْرُ لِلِحُكْمِ وَالرِّضَا بِالْقَدَرِ وَالْإِخْلَاصُ لِلتَّوَكُل وَالاسْتِسْلَامُ لِلرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ.
Dari Yazid bin Martsad Abu Utsman dari Abu Darda bahwa beliau berkata, “Puncak iman adalah sabar terhadap hukum Allah, ridha kepada takdir, ikhlas untuk bertawakal dan tunduk kepada Allah. (1/635).
BACA JUGA: Nasihat Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab
وَعَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدِ الْأَنْصَارِي عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ : اسْتَعِيدُوا بِاللَّهِ مِنْ خُشُوعِ النَّفَاقِ قِيلَ وَمَا خُشُوْعُ النَّفَاقِ قَالَ : أَنْ يُرَى الجَسَدُ خَاشِعًا وَالْقَلْبُ لَيْسَ بِخَاشِعِ
Dari Muhammad bin Sa’ad Al-Anshari dari Abu Darda’ berkata, “Mintalah perlindungan kepada Allah dari khusyuk nifak.” Ada yang bertanya, “Apa itu khusyuk nifak?” Beliau menjawab, “Jasad yang terlihat khusyuk sedangkan hatinya tidak khusyu.” (1/636).
وَعَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ : إِذَا أَصْبَحَ الرَّجُلُ اجْتَمَعَ هَوَاهُ وَعَمَلُهُ، فَإِنْ كَانَ عَمَلُهُ تَبَعًا لِهَوَاهُ فَيَوْمُهُ يَوْمُ سُوءٍ، وَإِنْ كَانَ هَوَاهُ تَبَعًا لِعَمَلِهِ فَيَوْمُهُ يَوْمُ صَالِحُ.
Dari Mu’awiyah bin Shalih dari Abu Darda’ berkata, “Apabila seseorang memasuki waktu pagi, hawa nafsu dan amalnya akan berkumpul. Jika amalnya mengikuti hawa nafsunya, maka harinya adalah hari yang buruk. Namun jika hawa nafsunya mengikuti amalnya, maka harinya adalah hari yang baik.” (1/636).
وَعَنْ قَتَادَةَ قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ : ابْنَ آدَمَ طَأَ الْأَرْضَ بِقَدَمِكَ، فَإِنَّهَا عَنْ قَلِيْلٍ تَكُوْنُ قَبْرَكَ ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامُ فَكَلَّمَا ذَهَبَ يَوْمُ ذَهَبَ بَعْضُكَ ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَمْ تَزَلْ فِي هَدْمِ عُمْرِكَ مِنْ يَوْمِ وَلَدَتْكَ أُمُّكَ.
Dari Qatadah, Abu Darda’ berkata, “Wahai anak Adam, injaklah bumi ini dengan kedua telapak kakimu tapi ingatlah bahwa sebentar lagi ia akan menjadi kuburanmu. Wahai anak Adam, engkau tidak lain adalah kumpulan hari-hari, setiap kali satu hari berlalu maka sebagian dari dirimu juga lenyap. Wahai anak Adam, sesungguhnya umurmu selalu berkurang sejak engkau dilahirkan ibumu.” (1/638).
وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ : إِنَّ الَّذِينَ أَلْسِنَتَهُمْ رَطْبَةُ بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَدْخُلُ أَحَدُهُمُ الْجَنَّةَ وَهُوَ يَضْحَكُ.
Dari Jubair bin Nufair dari Abu Darda’ berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang lisannya senantiasa basah lantaran mengingat Allah, salah seorang di antara mereka memasuki surga sambil tertawa.” (1/639).
BACA JUGA: Nasihat-nasihat Umar bin Khattab
وَعَنْ أَبِي قِلَابَةَ أَنَّ أَبَا الدَّرْدَاءِ مَرَ عَلَى رَجُلٍ قَدْ أَصَابَ ذَنْبًا فَكَانُوا يَسُبُوْنَهُ، فَقَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَجَدْتُمُوهُ فِي قَلِيْبٍ أَلَمْ تَكُونُوا مُسْتَخْرِجِيْهِ قَالُوا بَلَى، قَالَ: فَلَا تَسُبُّوا أَخَاكُمْ وَاحْمَدُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِي عَافَاكُمْ، قَالُوا: أَفَلَا تَبْغُضُهُ قَالَ: إِنَّمَا أَبْغُضُ عَمَلَهُ، فَإِذَا تَرَكَهُ فَهُوَ أَخِي.
Dari Abu Qilabah bahwa Abu Darda’ pernah melewati orang yang melakukan perbuatan dosa, lalu manusia mencacinya. Kemudian beliau berkata, “Bagaimana pendapat kalian bila kalian mendapati dia terjatuh ke dalam sumur, bukankah kalian akan berusaha mengeluarkannya?” “Ya.” Jawab mereka. Beliau lantas menasihati mereka, “Oleh karena itu, janganlah kalian mencaci saudara kalian, dan pujilah Allah yang telah menyelamatkan kalian dari dosa itu.” Mereka bertanya, “Apakah Anda tidak membencinya?” Beliau menjawab, “Aku hanya membenci perbuatan dosanya. Jika dia meninggalkan dosa maka dia adalah saudaraku.” (1/640).
وَعَنْ سُلَيْمٍ بْنِ عَامِرٍ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ : نِعْمَ صَوْمَعَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ بَيْتُهُ يَكُفُ لِسَانَهُ وَفَرْجَهُ وَبَصَرَهُ، وَإِيَّاكُمْ وَمَجَالِسَ الْأَسْوَاقِ فَإِنَّهَا تُلْهِيَ وَتُلْغِيْ.
84. Dari Sulaim bin Amir dari Abu Darda’ berkata, “Sebaik-baik tempat ibadah seorang muslim adalah rumahnya, di mana dia menahan lisan, kemaluan, dan pandangannya. Jauhilah tempat-tempat duduk di pasar karena ia melalaikan dan sia-sia.” (1/640-641). []
Sumber: Ensklopedia Hikmah / Penulis: Ibnul Andil Bari El-“Afifi / Penerbit: Kuttab / Cetakan 1, 2021
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

