Allah Ta’ala menggambarkan keadaan memilukan pada hari kiamat, ketika para munafik memanggil orang-orang beriman seraya mengatakan bahwa dahulu mereka hidup bersama kaum muslimin. Allah berfirman dalam surat Al-Hadid ayat 14:
يُنَادُوْنَهُمْ اَلَمْ نَكُنْ مَّعَكُمْۗ قَالُوْا بَلٰى وَلٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ اَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْاَمَانِيُّ حَتّٰى جَاۤءَ اَمْرُ اللّٰهِ وَغَرَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ ١٤
yunâdûnahum a lam nakum ma‘akum, qâlû balâ wa lâkinnakum fatantum anfusakum wa tarabbashtum wartabtum wa gharratkumul-amâniyyu ḫattâ jâ’a amrullâhi wa gharrakum billâhil-gharûr
“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin), ‘Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Benar, tetapi kalian telah menjerumuskan diri kalian sendiri dalam fitnah, dan kalian menunggu-nunggu (kehancuran kami), kalian ragu-ragu, dan kalian tertipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah, dan kalian telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.’”
BACA JUGA: Fitnah Anak dan Harta
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sebagian ulama salaf menafsirkan makna menfitnah diri kalian sendiri yaitu menjerumuskan diri dengan kelezatan dunia, maksiat, dan syahwat.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Inilah sebab terbesar kehancuran hati: manusia menipu dirinya sendiri dengan menunda taubat, menunda kebaikan, dan memanjakan hawa nafsu. Sebenarnya bukan setan yang paling kuat menyesatkan manusia, tetapi manusia sendirilah yang membuka pintu fitnah dunia dan mempersilakan setan masuk.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Engkau tidak akan mendapatkan kelezatan iman sampai engkau meninggalkan kelezatan maksiat.” Kalimat ini menjadi cambuk bagi siapa pun yang membiarkan dirinya larut dalam dosa namun berharap surga tanpa usaha. Betapa banyak orang yang menunda taubat dengan alasan masih muda, masih punya waktu, masih ingin menikmati hidup. Padahal kematian tidak pernah menunggu kesiapan siapa pun.
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah juga menasihati, “Aku tidak pernah mengobati sesuatu yang lebih sulit daripada hawa nafsuku sendiri.” Jika para ulama besar merasakan beratnya melawan hawa nafsu, bagaimana dengan kita yang sering bermudah-mudah dalam dosa dan lalai terhadap akhirat?
BACA JUGA: Golongan Manusia dalam Fitnah Kubur
Fitnah dunia telah menjadikan banyak hati lebih tentram dengan maksiat dibandingkan ketenangan dalam taat. Shalat terasa berat, tetapi menghabiskan waktu untuk hal sia-sia terasa ringan. Membaca Al-Qur’an terasa melelahkan, namun berselancar di media sosial terasa menyenangkan. Semua itu terjadi karena hati telah termabukkan oleh angan-angan kosong.
Maka, jangan biarkan diri kita ditipu oleh syahwat dan kelalaian. Jangan tunda taubat hingga ajal menjemput dan tak ada lagi kesempatan memperbaiki diri. Dunia hanyalah sebentar, sedangkan akhirat adalah negeri keabadian. ]\
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

