Pertanyaan: Asy-Syaikh yang mulia, telah datang sebagian hadits dha’if dalam bidang pengobatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian hakikat maknanya terjadi secara nyata pada zaman ini, dan bahwasanya kandungan makna dalam hadits tersebut benar. Sedangkan hadits tidak mungkin dari ucapannya manusia yakni apa yang ada dalam hadits tersebut tidak mungkin diucapkan oleh manusia kecuali dari ilmu dan pengetahuan yang dalam, baik itu dari wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala atau selainnya.
Pertanyaannya wahai syaikh: Hadits dha’if yang hakikat maknanya terjadi secara nyata pada zaman sekarang ini apakah hadits itu bisa menjadi hadits yang shahih atau bagaimana?
BACA JUGA: 3 Hal Kebaikan dalam 1 Hadist Nabi
Jawaban: Hadits dha’if apabila tidak menyelisihi hadits-hadits yang shahih serta kenyataan menyaksikan akan kebenarannya maka dikatakan hadits dha’if secara sanad, shahih secara matan namun dengan syarat harus ada bukti dalam hal ini. Karena sebagian manusia kadang menyangka bahwa hadits atau ayat itu menunjukkan makna baru ini padahal tidak menunjukkan makna tersebut.
Contohnya ucapan mereka tentang firman Allah:
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَقُدُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ {۳۳}
“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kalian tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (QS. ar-Rahmaan: 33)
Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa kemungkinan kita bisa sampai ke bulan, sebab Allah berfirman:
لاتقنون إلا بسلطان
Kalian tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. “Dan yang dimaksud sulthan adalah imu.
BACA JUGA: Hadist Allah Tidaklah Tidur
Sesungguhnya menafsirkan ayat ini demikian adalah haram. Sebab hal ini adalah tahril terhadap al-Qur’an. Ayat ini terjadi pada Hari Kiamat sebagaimana ditunjukkan oleh susunan surat dari awal hingga akhir kemudian Allah Subhanahu wa Ta’la berfirman: “Hai jamalah jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kalian tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (QS. ar-Rahmaan: 33) apakah kita akan menembus penjuru langit dan bumi? Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api” (QS. ar-Rahmaan 35) apakah telah dikirim kepada keduanya itu lelehan dari api?
Kesimpulannya bahwa sebagian manusia ada yang berbicara tentang sesuatu kejadian baru yang maknanya terdapat didalam hadits dha’if. Maka hadits itu dishahihkan karena sesuai dengan kenyataan yang ada. Kemudian ternyata setelah diperhatikan penshahihan hadits tersebut tidaklah shahih Karena hadits tersebut tidak menunjukkan akan hal itu. Akan tetapi dia hanya menyangka bahwasanya hadits itu menunjukkan atasnya.
(Liqaa’aat al-Baabil Maftuuh no. 324) []
Sumber: Al-Fatawa Al-Muhimmah (Fatwa-fatwa Penting dalam Sehari-hari jilid 1) / Penulis: Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin / Penerbit: Pustaka as-Sunnah / Cetakan 2, Maret 2012
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

