Masa kecil Nabi Muhammad ﷺ dipenuhi dengan berbagai peristiwa istimewa yang menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup beliau. Salah satu peristiwa yang dikenal dalam sirah Nabawiyah adalah pembelahan dada, ketika Malaikat Jibril datang untuk membersihkan hati beliau atas izin Allah. Kisah ini diriwayatkan dalam hadis dan menjadi salah satu peristiwa luar biasa yang dibahas oleh para ulama.
Peristiwa tersebut mengingatkan kita bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa yang berada di luar kebiasaan manusia tidak serta-merta mustahil terjadi atas kehendak-Nya. Untuk memahami kisah ini, kita perlu merujuk kepada sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan serta memperhatikan penjelasan para ulama mengenai riwayatnya.
BACA JUGA: Halimah Sa’adiah, Ibu Persusuan Rasulullah
Kedatangan Malaikat Jibril
Ketika Nabi Muhammad ﷺ masih kecil dan tinggal bersama keluarga yang menyusuinya di perkampungan Bani Sa‘ad, terjadi sebuah peristiwa yang mengejutkan. Dalam riwayat yang disebutkan dalam Shahih Muslim, Malaikat Jibril mendatangi beliau, membaringkannya, lalu membelah dada dan mengeluarkan hatinya.
Dari hati tersebut, Jibril mengeluarkan segumpal darah seraya menjelaskan bahwa itulah bagian setan. Setelah itu, hati beliau dicuci menggunakan air zamzam dalam sebuah bejana emas, kemudian dikembalikan ke tempat semula.
Peristiwa luar biasa ini dikenal sebagai syaqqu ash-shadr, yaitu pembelahan dada. Kisah tersebut diriwayatkan dalam hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang terdapat dalam Shahih Muslim.
Kekhawatiran Halimah dan Kembalinya Muhammad kepada Aminah
Peristiwa tersebut membuat anak-anak yang sedang bermain bersama Muhammad ﷺ merasa ketakutan. Mereka bergegas menemui Halimah as-Sa‘diyah, ibu susuan beliau, sambil mengabarkan bahwa Muhammad telah dibunuh.
Halimah segera mendatangi tempat kejadian. Namun, ia mendapati Muhammad ﷺ masih hidup dan dalam keadaan baik. Meski demikian, peristiwa yang tidak dipahaminya itu menimbulkan kekhawatiran besar terhadap keselamatan anak susuannya.
Karena merasa cemas, Halimah akhirnya mengembalikan Muhammad ﷺ kepada ibunda beliau, Aminah binti Wahb. Peristiwa ini menjadi salah satu bagian penting dalam kisah masa kecil Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan dalam berbagai sumber sejarah dan hadis.
Kesaksian tentang Bekas Pembelahan Dada
Dalam riwayat Shahih Muslim, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa ia pernah melihat bekas pada dada Rasulullah ﷺ. Riwayat ini sering dikaitkan dengan peristiwa pembelahan dada yang dialami beliau.
Para ulama juga membahas riwayat mengenai pembelahan dada pada waktu-waktu lain dalam kehidupan Nabi ﷺ. Di antaranya adalah peristiwa menjelang Isra dan Mikraj, ketika beliau telah dewasa. Adapun laporan mengenai pembelahan dada pada usia sekitar sepuluh tahun perlu diteliti secara khusus berdasarkan sumber dan kualitas sanadnya.
Karena terdapat beberapa riwayat dengan konteks berbeda, setiap peristiwa perlu dijelaskan secara cermat agar tidak tercampur antara riwayat yang kuat dan riwayat yang masih diperselisihkan.
Memahami Peristiwa Ini dengan Keimanan dan Ilmu
Peristiwa pembelahan dada Nabi Muhammad ﷺ terkadang dipertanyakan oleh sebagian orang karena dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan atau logika manusia. Dalam menjawab persoalan ini, para ulama yang menerima riwayat tersebut menjelaskan bahwa mukjizat merupakan kejadian luar biasa yang terjadi atas kehendak Allah.
Ibnu Hajar al-‘Asqalani, dalam pembahasannya mengenai hadis-hadis terkait, menjelaskan peristiwa ini dalam kerangka riwayat dan kekuasaan Allah. Bagi seorang Muslim, perkara gaib dan mukjizat dipahami berdasarkan wahyu yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan semata-mata berdasarkan ukuran pengalaman manusia sehari-hari.
Meski demikian, keimanan juga perlu disertai ketelitian dalam menilai sumber. Tidak setiap cerita yang beredar otomatis benar hanya karena mengisahkan mukjizat. Derajat hadis, jalur periwayatan, dan penjelasan para ahli hadis tetap perlu diperhatikan agar kita tidak mencampurkan riwayat yang sahih dengan kisah yang belum terbukti.
Pelajaran dari Peristiwa Pembelahan Dada
Kisah pembelahan dada mengingatkan kita akan kemuliaan Rasulullah ﷺ dan kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Peristiwa tersebut juga mengajarkan pentingnya bersikap hati-hati dalam menyampaikan kisah sejarah Islam, terutama yang berkaitan dengan kehidupan Nabi ﷺ.
Sebagai umat beliau, kita hendaknya mempelajari sirah dengan merujuk kepada sumber yang terpercaya, menghormati penjelasan para ulama, dan tidak terburu-buru menolak ataupun menerima suatu riwayat tanpa pemeriksaan. Dengan cara ini, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dapat tumbuh bersama ilmu dan pemahaman yang benar.
BACA JUGA: Pelajaran dari Kaum Tsamud dan Unta Nabi Shalih
Penutup
Peristiwa pembelahan dada merupakan salah satu kisah penting dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad ﷺ. Riwayat ini mengajak kita merenungkan kekuasaan Allah dan memahami bahwa mukjizat berada di luar kebiasaan yang dikenal manusia. Pada saat yang sama, kisah tersebut mengingatkan kita agar senantiasa menjadikan hadis yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai landasan dalam mempelajari kehidupan Rasulullah ﷺ.
Semoga Allah menumbuhkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad ﷺ, membimbing kita untuk mengikuti sunnah beliau, dan memberikan pemahaman agama yang benar. Semoga kita juga termasuk orang-orang yang senantiasa menjaga kejujuran ketika menyampaikan ilmu serta mengambil pelajaran dari perjalanan hidup Rasulullah ﷺ.[]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

