Rasulullah ﷺ pernah melewati perkampungan kaum Tsamud, kaum yang Allah binasakan karena menyembelih unta Nabi Shalih. Rasulullah ﷺ dan para sahabat berhenti di dekat sumur yang biasa didatangi oleh unta tersebut. Beliau menyampaikan kepada mereka informasi tentang tempat itu berdasarkan apa yang Allah ketahui.
Dari tempat itulah unta tersebut muncul dan kembali melalui jalan yang lapang. Rasulullah ﷺ mengingatkan para sahabat agar tidak melakukan perbuatan seperti kaum Nabi Shalih. Mereka dahulu meminta bukti tentang keberadaan Allah yang berhak diibadahi. Kemudian, Allah menciptakan seekor unta dari tempat yang dianggap mustahil sebagai tanda kebesaran-Nya. Namun, mereka justru mendustakan tanda tersebut, bahkan menyembelih unta itu.
BACA JUGA: Penciptaan Nabi Adam dan Keutamaan Rahmat Allah
Akibat kedurhakaan mereka, Allah membinasakan kaum Tsamud dengan mendatangkan bencana dan azab yang pedih.
Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab Musnad-nya dari Jabir, ia berkata:
“Tatkala Rasulullah ﷺ melewati Al-Hijr, beliau bersabda, ‘Janganlah kalian meminta mukjizat. Sungguh, kaum Nabi Shalih telah memintanya, lalu mukjizat berupa unta itu datang dari jalan ini dan keluar dari jalan ini. Namun, mereka mendurhakai perintah Rabb mereka, lalu menyembelihnya. Unta itu meminum air mereka sehari, dan mereka meminum susunya sehari. Kemudian, mereka menyembelihnya.
Maka, datanglah angin azab kepada mereka. Allah menghancurkan sebagian besar dari mereka yang berada di bawah langit, kecuali seorang laki-laki yang berada dalam perlindungan Allah.’
BACA JUGA: Nabi Nuh ‘Alaihissalam: Silsilah dan Jarak Zaman dari Nabi Adam
Ditanyakan, ‘Siapakah dia, wahai Rasulullah?’
Beliau menjawab, ‘Dia adalah Abu Righal. Ketika dia keluar dari Al-Haram, dia pun ditimpa sesuatu yang telah menimpa kaumnya.’”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, III/296. Setelah menyebutkan hadis tersebut, Ibnu Katsir berkata, “Hadis ini memenuhi syarat Muslim, tetapi tidak terdapat dalam enam kitab hadis (Kutubus Sittah).” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, I/137).
Al-Haitsami berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Ath-Thabrani dalam kitab Al-Awsath. Redaksinya akan disebutkan dalam tafsir Surah Hud. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad dengan redaksi yang sama. Para perawi dalam sanad Musnad Ahmad adalah para perawi yang sahih.” (Majma’ Az-Zawa’id, VI/194). []
Sumber: Kisah-kisah dalam Hadist Nabi Versi Tadabbur (Shahih Al-Qashash An-Nabiwi) / Penulis: Dr. Umar Sulaiman ‘Abdullah Al-Asyqar / Penerbit: Dar An-Nafa’is, Yordania / Cetakan Pertama: 1418 H/1997 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

