Ada kalanya seseorang melakukan kebaikan, tetapi diam-diam berharap ada yang melihat. Ia bersedekah, lalu berharap dipuji. Ia membantu orang lain, kemudian merasa kecewa ketika jasanya tidak dihargai. Bahkan, amal yang semestinya ditujukan kepada Allah bisa berubah menjadi sarana mencari pengakuan manusia.
Inilah salah satu penyakit hati yang perlu diwaspadai: tidak ikhlas dalam beramal.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Keikhlasan dan keinginan untuk dipuji, disanjung serta mengharap apa yang ada di sisi manusia tidak akan berkumpul dalam sebuah hati, kecuali seperti berkumpulnya air dan api.” (Al-Fawaid, hlm. 267).
BACA JUGA: Ikhlas: Teruslah Jadi Orang Baik
Ikhlas dan Pujian Tidak Mudah Bersatu
Ikhlas berarti menjadikan Allah sebagai tujuan utama dalam setiap amal. Kita beribadah karena mengharap rida-Nya, bukan karena ingin dikenal sebagai orang baik.
Sementara keinginan untuk mendapatkan pujian manusia dapat menggeser tujuan tersebut. Ketika perhatian hati mulai tertuju kepada penilaian manusia, amal yang awalnya dilakukan karena Allah bisa kehilangan kemurniannya.
Allah Ta’ala berfirman, “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5).
Karena itu, masalah keikhlasan bukan perkara kecil. Ia berkaitan dengan diterima atau tidaknya amal seorang hamba.
Ketika Tidak Ada yang Memuji
Salah satu cara mengetahui keadaan hati adalah melihat bagaimana perasaan kita ketika amal tidak diketahui manusia. Apakah kita tetap bersemangat berbuat baik ketika tidak ada yang mengucapkan terima kasih? Apakah kita masih mau bersedekah ketika tidak ada yang mengetahui? Apakah kita tetap membantu ketika tidak mendapatkan penghargaan?
Jika jawabannya iya, semoga itu menjadi tanda bahwa hati sedang belajar ikhlas.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).
BACA JUGA: Tanda Orang yang Ikhlas
Maka, jangan terlalu sibuk memikirkan bagaimana manusia melihat kita. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana Allah melihat hati dan amal kita.
Teruslah memperbaiki niat sebelum beramal, ketika beramal, dan setelah beramal. Jangan biarkan pujian manusia menjadi tujuan, karena pujian itu akan berakhir. Sementara Allah tetap kekal, dan kepada-Nya seluruh amal akan kembali dipertanggungjawabkan.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari riya, cinta popularitas, dan keinginan mendapatkan sanjungan manusia. Semoga setiap amal yang tersembunyi maupun yang terlihat benar-benar hanya kita persembahkan untuk mencari rida-Nya. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

