Rahmat dan ampunan Allah Ta’ala adalah anugerah yang sangat luas. Setiap hamba diperintahkan untuk selalu berharap kepada-Nya dan tidak pernah berputus asa dari kasih sayang-Nya. Namun, harapan itu harus berjalan beriringan dengan rasa takut kepada Allah. Ketika seseorang hanya mengandalkan harapan tanpa disertai ketaatan, harapan tersebut berubah menjadi angan-angan yang menipu.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan tentang bahaya sikap ini. Beliau berkata,
وربما اغتر المغتر، وقال: إنما يحملني على المعاصي حسن الرجاء، وطمعي في عفوه، لا ضعف عظمته في قلبي، وهذا من مغالطة النفس؛ فإن عظمة الله تعالى وجلاله في قلب العبد تقتضي تعظيم حرماته، وتعظيم حرماته يحول بينه وبين الذنوب
Artinya: “Bisa jadi orang yang tertipu berkata, ‘Yang mendorongku berbuat maksiat hanyalah baik sangka kepada Allah dan harapanku akan ampunan-Nya, bukan karena lemahnya pengagungan kepada-Nya di hatiku.’ Padahal ini adalah tipu daya terhadap diri sendiri. Sebab, keagungan dan kemuliaan Allah Ta’ala di hati seorang hamba menuntutnya untuk mengagungkan larangan-larangan-Nya. Dan mengagungkan larangan-larangan Allah itu akan menjadi penghalang antara dirinya dengan dosa-dosa.”
BACA JUGA: Adzab Kubur Itu Diringankan bagi Orang Mukmin yang Bermaksiat
Perkataan yang sangat dalam ini membongkar kesalahan yang sering tidak disadari. Ada orang yang sengaja melakukan maksiat, lalu berkata, “Allah Maha Pengampun,” seolah-olah kalimat itu menjadi pembenaran atas dosanya. Padahal, sikap seperti ini bukanlah husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah, melainkan bentuk tertipu oleh hawa nafsu.
Harapan yang benar kepada Allah akan mendorong seseorang untuk semakin taat, bukan semakin berani melanggar larangan-Nya. Orang yang benar-benar mengagungkan Allah akan merasa malu berbuat dosa karena ia menyadari bahwa Rabbnya selalu melihat setiap perbuatannya. Semakin besar pengagungan kepada Allah di dalam hati, semakin kuat pula keinginan untuk menjaga diri dari maksiat.
Para ulama menjelaskan bahwa seorang mukmin berjalan menuju Allah dengan dua sayap, yaitu rasa takut (khauf) dan harapan (raja’). Jika salah satunya lebih dominan hingga menghilangkan yang lain, perjalanan menuju Allah menjadi tidak seimbang. Rasa takut mencegah seseorang meremehkan dosa, sedangkan harapan membuatnya tidak berputus asa ketika terjatuh dalam kesalahan.
BACA JUGA: Kenapa Aku Terus Bermaksiat?
Karena itu, janganlah kita menjadikan luasnya ampunan Allah sebagai alasan untuk terus bermaksiat. Justru rahmat Allah seharusnya mendorong kita untuk segera bertaubat, memperbaiki diri, dan meninggalkan dosa sebelum datang hari ketika penyesalan tidak lagi berguna.
Semoga Allah Ta’ala memenuhi hati kita dengan rasa takut dan harap yang seimbang, mengokohkan pengagungan kepada-Nya, menjauhkan kita dari tipu daya hawa nafsu, serta menerima taubat kita sebelum ajal menjemput. []
Sumber: Ad-Dā’u wa ad-Dawā’u, hlm. 69, karya Imam Ibnul Qayyim rahimahullah.
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

