Ada orang-orang yang telah mendapatkan kabar gembira dari Rasulullah ﷺ tentang surga. Namun, kabar tersebut tidak membuat mereka merasa aman dari rasa takut kepada Allah.
Mereka tetap takut kepada kehidupan setelah kematian. Mereka tetap menangis ketika mengingat kubur. Mereka tetap khawatir terhadap keadaan dirinya di hadapan Allah.
Salah satunya adalah Utsman bin Affan رضي الله عنه.
BACA JUGA: Keutamaan Utsman bin Affan, Dzun Nurain
Beliau merupakan salah seorang sahabat utama Rasulullah ﷺ dan termasuk orang yang mendapatkan kabar gembira masuk surga. Namun, ketika melihat kuburan, beliau justru menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya.
Diriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepadanya,
“Tatkala mengingat surga dan neraka engkau tidak menangis, mengapa engkau menangis ketika melihat kuburan?”
Utsman رضي الله عنه kemudian menjawab bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ، فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ
“Sesungguhnya kubur adalah awal dari perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat darinya, maka perjalanan setelahnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat darinya, maka perjalanan setelahnya akan lebih berat.” 📚 HR. At-Tirmidzi no. 2308
Perhatikan bagaimana para sahabat memandang kematian.
Bagi mereka, kematian bukan akhir perjalanan. Justru kematian adalah awal perjalanan menuju kehidupan yang kekal.
Kubur adalah persinggahan pertama.
Di sanalah manusia meninggalkan seluruh perkara dunia. Harta yang dikumpulkan akan ditinggalkan. Rumah yang dibangun akan ditinggalkan. Jabatan akan ditinggalkan. Keluarga dan sahabat akan mengantarkan sampai pemakaman, kemudian kembali.
Yang tersisa hanyalah amal.
Itulah sebabnya Utsman bin Affan رضي الله عنه menangis ketika melihat kuburan. Beliau tidak sekadar melihat tanah dan batu nisan. Beliau melihat sebuah gerbang menuju akhirat.
Tangisan beliau bukan berarti putus asa. Justru tangisan tersebut menunjukkan kuatnya rasa takut kepada Allah dan kesadaran terhadap kehidupan akhirat.
Kita pun perlu bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kita mempersiapkan perjalanan tersebut?
Sudahkah kita memperbaiki shalat?
Sudahkah kita meninggalkan dosa-dosa yang masih kita lakukan?
Sudahkah kita bertaubat dari kesalahan masa lalu?
Sudahkah kita menunaikan hak orang lain?
Sudahkah kita memperbanyak amal yang akan menjadi bekal ketika seluruh kenikmatan dunia ditinggalkan?
Allah Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Tidak ada seorang pun yang dapat menghindari kematian.
Yang berbeda adalah apa yang kita bawa ketika kematian itu datang.
Maka, ketika melihat kuburan, jangan hanya mengingat orang yang telah meninggal. Ingatlah bahwa suatu hari nanti kita pun akan berada di sana.
Hari ini kita masih memiliki kesempatan untuk bertaubat.
BACA JUGA: Ciri 2 Malaikat Penanya di Alam Kubur
Hari ini kita masih bisa memperbaiki shalat.
Hari ini kita masih bisa meminta maaf.
Hari ini kita masih bisa bersedekah.
Hari ini kita masih bisa memperbanyak amal saleh.
Tetapi akan datang suatu hari ketika semua kesempatan itu berakhir.
Saudaraku, kuburan tidak mengenal jabatan, kekayaan, usia, ataupun kedudukan. Semua manusia akan menuju ke sana.
Karena itu, jangan takut kepada kubur hanya dengan tangisan. Takutlah dengan cara mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
Semoga Allah memberikan kita husnul khatimah, melindungi kita dari fitnah dan azab kubur, serta menjadikan kubur kita sebagai salah satu taman dari taman-taman surga. Aamiin. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

