Home MuhasabahSebab Ikhlas Itu Susah

Sebab Ikhlas Itu Susah

Renungan ini mengajak kita bercermin. Sejauh mana amal kita benar-benar ikhlas? Betapa sering kita merasakan getaran hati ketika dipuji, atau sebaliknya kecewa ketika tidak dihargai

by Abu Umar
0 comments 174 views

“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Sabda Nabi ﷺ ini, yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., mengingatkan kita pada hakikat yang kerap terlupakan: ukuran manusia di sisi Allah bukanlah kecantikan wajah, bukan pula kemegahan harta, melainkan kejernihan hati dan ketulusan amal.

Ikhlas menjadi kunci utama dalam setiap ibadah. Namun, ia bukan perkara mudah. Para ulama salaf berusaha mendefinisikannya dengan ungkapan yang beragam, seakan menunjukkan bahwa ikhlas adalah samudera dalam yang tidak pernah habis ditimba. Sebagian ulama mengatakan, ikhlas adalah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ada pula yang menegaskan, ikhlas berarti mengesakan Allah dalam ibadah. Yang lain menggambarkan, ikhlas adalah membersihkan diri dari pamrih kepada makhluk.

BACA JUGA: Arti Ikhlas yang Sebenarnya

Al-‘Izz bin Abdis Salam menyatakan, *“Ikhlas ialah, seorang mukallaf melaksanakan ketaatan semata-mata karena Allah SWT. Dia tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia, dan tidak pula berharap manfaat serta menolak bahaya.”* Perkataan ini mengajarkan bahwa sejatinya ikhlas memutuskan ketergantungan hati dari selain Allah.

Al Harawi memberikan penekanan yang lebih dalam: *“Ikhlas ialah, membersihkan amal dari setiap noda.”* Betapa sering amal kita tercampuri noda kecil, sekadar ingin dipuji atau dinilai baik oleh orang lain. Padahal, noda sekecil itu mampu menggerogoti nilai ibadah di sisi Allah.

Seorang ulama berkata, *“Orang yang ikhlas ialah, seorang yang tidak mencari perhatian di hati manusia dalam rangka memperbaiki hatinya di hadapan Allah, dan tidak suka seandainya manusia sampai memperhatikan amalnya, meskipun hanya seberat biji sawi.”* Di sini tampak bahwa ikhlas bukan hanya soal menghindari riya, tapi juga mengingkari kehadiran pandangan manusia, agar hati benar-benar bersih dari selain Allah.

Abu ‘Utsman berkata, *“Ikhlas ialah, melupakan pandangan makhluk, dengan selalu melihat kepada Khaliq (Allah).”* Pandangan ini menegaskan bahwa ikhlas adalah seni memalingkan hati dari keramaian manusia menuju keheningan bersama Allah semata. Sedangkan Abu Hudzaifah Al-Mar‘asyi menjelaskan, *“Ikhlas ialah, kesesuaian perbuatan seorang hamba antara lahir dan batin.”* Inilah harmoni yang paling sulit, sebab banyak orang yang amal lahiriahnya tampak indah, namun batinnya penuh riya atau kebanggaan diri.

Lebih tajam lagi, Abu ‘Ali Fudhail bin ‘Iyadh menuturkan, *“Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’. Dan beramal karena manusia adalah syirik. Ikhlas ialah, apabila Allah menyelamatkan kamu dari keduanya.”* Ungkapan ini ibarat pedang bermata dua: ikhlas menjaga kita dari jebakan meninggalkan kebaikan karena takut dikira riya, dan juga dari melakukan kebaikan demi sanjungan manusia.

BACA JUGA:  Ikhlas dan Husnudzon

Renungan ini mengajak kita bercermin. Sejauh mana amal kita benar-benar ikhlas? Betapa sering kita merasakan getaran hati ketika dipuji, atau sebaliknya kecewa ketika tidak dihargai. Padahal, Allah tidak menimbang pujian manusia, melainkan menimbang apa yang tersimpan dalam hati. Imam Ahmad bin Hanbal pernah berpesan, *“Betapa banyak amal kecil yang menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amal besar yang menjadi kecil karena niat.”* Niat yang tulus adalah ruh bagi amal, tanpa itu amal menjadi kosong.

Ikhlas adalah perjalanan panjang. Ia bukan sekali jadi, melainkan harus terus dijaga, dibersihkan, dan diperbarui. Semoga Allah menolong kita untuk selalu menghadapkan hati kepada-Nya, sehingga amal yang kita persembahkan benar-benar murni karena-Nya. Sebab, di hadapan Allah, yang abadi hanyalah hati yang bersih dan amal yang tulus. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119