Ketahuilah bahwa mencari rezeki yang halal itu wajib bagi setiap muslim. Banyak orang awam yang mengira jika rezeki yang halal sudah tidak ada lagi.
Mereka berkata, “Tidak ada yang tersisa dari perkara halal selain air sungai dan rerumputan, sedangkan selain itu telah diru-sak oleh berbagai muamalah yang tidak baik.”
Akan tetapi, hari ini mereka yang berpikiran seperti itu sadar akan ketergantungan mereka terhadap berbagai kebutuhan pokok sehingga mendorong mereka untuk mencari sesuatu yang haram dan syubhat.
Hal itu tidak lepas dari kebodohan dan kurangnya ilmu pengetahuan yang mereka miliki, padahal dalam kedua kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim terdapat hadits an-Nu’man bin Basyir yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Halal itu jelas dan yang haram pun jelas, sementara di antara keduanya terdapat beberapa per-kara syubhat.”
BACA JUGA: Imam Syafi’i: Rezeki Telah Tertakar
Di saat bahaya dari bid’ah persangkaan orang-orang bodoh itu semakin meluas sehingga pengaruh negatif-nya menjangkiti agama maka wajib hukumnya menyingkap tirai kebobrokannya dengan memberi pencerahan tentang perbedaan antara yang halal, haram, dan yang syubhat.
Keutamaan Rezeki yang Halal dan Celaan Rezeki yang Haram
Allah SWT berfirman, “Wahai para rasul, makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan kerjakanlah kebaikan.” (al-Mukminun: 51)
Makanan yang baik adalah makanan yang halal. Allah SWT memerintahkan untuk mencarinya sebelum beramal, bahkan Dia mencela sesuatu yang haram. Sebagaimana ia berfirman, “Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil.” (al-Baqarah: 188)
Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Wahai umat manusia, sesungguhnya Allah swt. itu Zat yang baik dan tidak menerima kecuali sesuatu yang baik.”
BACA JUGA: Kenapa Mengambil Rezeki yang Haram?
Abu Hurairah menyebut hadits sampai pada redaksi, “Kemudian Nabi ﷺ menyinggung seorang lelaki yang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan kusam. Kedua tanganya diangkat ke langit seraya berdoa, ‘Ya Tuhan…, Ya Tuhan, Ya Tuhan…!’ Sementara makanan yang ia makan haram, minumannya pun haram, pakaiannya haram, dan makan dengan cara yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR Muslim)
Diriwayatkan pula bahwa Sa’ad bertanya kepada Rasulullah ﷺ (bagaimana cara) agar doanya dikabulkan. Beliau pun bersabda, “Perbaiki makananmu maka doamu akan dikabulkan.” (HR ath-Thabrani)
Termasuk kebiasaan ulama salaf adalah mencermati dan meneliti kehalalan sesuatu yang akan mereka gunakan (demikian pula ketika hendak memakan sesuatu). Sebagaimana Abu Bakar ash-Shiddiq pernah (tanpa sengaja) melahap makanan yang syubhat dan ia pun langsung memuntahkannya. []
Sumber: Mukhtashar Minhaj al-Qashidîn (Rahasia Hidup Orang-orang Shaleh) / Penulis: Ibnu Qudamah / Penerbit: al-Maktab al-Islami (Khatuliswa Pers) / 2015 /Cet.: 2000/Kesembila
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

