Sebagian orang tertipu dengan mencintai orang-orang yang dianggap keramat, para syaikh, dan orang-orang shalih. Misalnya, dengan banyak mengunjungi kuburan para wali Allah tersebut, memohon kepada mereka dengan merendahkan diri, meminta syafa’at mereka, bertawassul kepada Allah dengan mereka, serta berdoa kepada-Nya dengan hak mereka atas Allah dan kehormatan mereka di sisi-Nya.
Sebagian lain tertipu dengan kebesaran nenek moyang dan para pendahulunya. Ia menyangka bahwa mereka mempunyai kedudukan dan derajat keshalihan di sisi Allah. Ia juga menyangka bahwa mereka tidak akan meninggalkannya hingga berhasil mencarikan jalan keluar untuknya. Hal ini dapat disaksikan di kalangan para raja.
BACA JUGA: Hak Allah dan Hak Hamba Allah yang Pasti Dipenuhi oleh-Nya
Mereka melimpahkan dosa keturunan dan keluarga mereka kepada “orang-orang khusus” di sekitar mereka. Jika salah satu dari mereka terjerumus melakukan dosa besar, maka ayah atau kakeknya mencarikan jalan keluar untuknya dengan pangkat dan kedudukannya.
Sebagian lain tertipu dengan anggapan bahwa Allah tidak butuh kepada adzab-Nya karena adzab tersebut tidak akan menambahkan sesuatu apa pun dalam kerajaan-Nya, sebagaimana rahmat-Nya tidak akan mengurangi sedikit pun dari kerajaan-Nya.
Ia berkata: “Aku benar-benar membutuhkan rahmat-Nya. Allah adalah Dzat yang Mahakaya. Sekiranya seorang fakir lagi miskin yang benar-benar membutuhkan seteguk air meminta kepada seseorang yang di sekitar rumahnya terdapat sungai yang mengalir, tentulah ia tidak akan mencegah orang fakir tadi untuk minum di sungai tersebut. Allah tentu saja jauh lebih dermawan dan kaya dibandingkan orang tadi. Di samping itu, ampunan tidak akan membuat kerajaan-Nya berkurang sedikit pun dan adzab tidak akan membuat kerajaan-Nya bertambah sedikit pun.”
Sebagian lain tertipu dengan pemahaman yang keliru terhadap nash-nash al-Qur-an dan as-Sunnah yang ia pahami sendiri, kemudian menjadikannya sandaran.
BACA JUGA: Hukum Menyembelih untuk Selain Allah
Sebagai contoh, mereka menyandarkan diri kepada firman Allah:
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى )
“Dan kelak Rabbmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” (QS. Adh-Dhuha: 5)
Mereka berkata: “Nabi tidak ridha jika ada dari umatnya yang masuk dalam Neraka!”
Ini merupakan kebodohon yang paling buruk dan kedustaan yang sangat jelas atas diri beliau. Sebab, Nabi ridha dengan apa yang diridhai Allah Allah juga ridha mengadzab orang-orang zhalim, fasik, para pengkhianat, serta orang-orang yang terus-menerus melakukan dosa besar. Sungguh, beliau tidak mungkin tidak ridha dengan perkara yang diridhai oleh Rabbnya tabâraka wa ta’ala. []
Sumber: Ad-Daa’ wad Dawaa’, Macam-macam Penyakit hati yang Membahayakan dan Resep Pengobatannya, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Pustaka Imam As-Syafi’i, Cetakan ke-10 November 2016 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

