Home HadistHak Allah dan Hak Hamba Allah yang Pasti Dipenuhi oleh-Nya

Hak Allah dan Hak Hamba Allah yang Pasti Dipenuhi oleh-Nya

Di dalam hadits Mu'adz ini terdapat makna tauhid, yaitu beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan syirik.

by Abu Umar
0 comments 64 views

Dari Mu’adz bin Jabal, ia menuturkan: “Aku pernah dibonceng Nabi di atas seekor keledai. Lalu, beliau bersabda kepadaku:

يَا مُعَادُ، أَتَدْرِي مَا حَقُ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ ۚ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ: حَقُ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقٌّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلَا أُبَشِّرُ الناس؟ قَالَ: لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا ))

“Wahai Mu’adz! Tahukah kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi para hamba-Nya, dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah?” Aku pun menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau lalu bersabda: ‘Hak Allah yang wajib dipenuhi para hamba-Nya adalah: mereka hanya beribadah kepada-Nya semata dan mereka tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Sedangkan hak para hamba yang pasti akan dipenuhi Allah adalah: sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Lantas, aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah! Tidak perlukah kiranya aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang? Beliau pun menjawab: “Janganlah kamu sampaikan kabar gembira ini kepada mereka hingga mereka akan bersikap menyandarkan diri (pada hal ini sehingga meninggalkan beramal shalih).”

(Shahih: HR. Al Bukhari (no. 2856, 5967, 6267, 6500, 7373) dan Muslim (no. 30), Lafazh yang dibawakan ini adalah salah satu riwayat Muslim, dan dalam salah satu riwayat al-Bukhari ada tambahan: “Maka di akhir hayatnya, Mu’adz mengabarkan hadits ini (kepada manusia) karena takut akan dosa (menyembunyikan ilmu).”

BACA JUGA:  Bilal bin Rabah: Suara Tauhid dari Padang Pasir

Syarah

Nabi ingin menjelaskan kewajiban tauhid atas seorang hamba dan keutamaannya. Maka beliau membuat pembelajaran ilmu ini dalam bentuk pertanyaan, agar lebih berpengaruh pada jiwa dan lebih bisa dipahami oleh yang belajar.

Saat Nabi menjelaskan kepada Mu’adz keutamaan tauhid, maka Sahabat ini segera meminta izin kepada beliau untuk memberitahukannya kepada manusia guna menyenangkan mereka. Akan tetapi Nabi melarangnya karena khawatir manusia akan bersandar kepada hal tersebut hingga menjadi sedikit beramal shalih.

Faedah

1. Mengenal hak Allah yang wajib dilaksanakan atas hamba, yaitu beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dalam beramal shalih ini.

2. Seorang yang tidak menjauhi syirik (maksudnya mempersekutukan Allah dalam beribadah)-walaupun dia beribadah kepada Allah, maka pada hakikatnya dia tidak beribadah. Sama seperti orang-orang musyrik Quraisy yang mereka beribadah kepada Allah-mereka thawaf, shalat, dan melaksanakan ibadah lainnya-akan tetapi tatkala ibadah itu tidak dikerjakan dengan ikhlas dan tidak sesuai syariat, maka amalan mereka itu tidak dinamakan ibadah.

Oleh karena itulah Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menegaskan kepada mereka:

ولا أَنْتُمْ عَنْبِدُونَ مَا أَعْبُدُ

“Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah.” (QS. Al-Kafirûn [109]: 3)

Yakni kalian tidak beribadah seperti ibadahku, karena ibadah kalian dibangun di atas kesyirikan. Maka hal itu bukanlah peribadahan kepada Allah,

3. Di dalam hadits Mu’adz ini terdapat makna tauhid, yaitu beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan syirik.

4. Keutamaan tauhid: Bahwa orang yang berpegang teguh dengan tauhid, maka Allah akan mengharamkan Neraka atasnya.

5. Ketawadhuan Nabi Muhammad terbukti saat beliau mau mengendarai keledai dan memboncengkan orang lain. Sangatlah berbeda dengan keadaan orang-orang yang sombong.

6. Cara pengajaran bisa dilakukan dengan cara soal-jawab.

BACA JUGA:  Bagaimana Kita Merealisasikan Tauhid yang Sebenarnya?

7. Orang yang ditanya tentang sesuatu, namun kemudian dia tidak mengetahui jawabannya, maka hendaknya dia mengatakan: Allahu a’lam (Allah yang lebih mengetahui), sebab tidak boleh dia berbicara tanpa ilmu.

8. Disukai atau dianjurkannya memberikan kabar gembira kepada sesama muslim.

9. Bolehnya menyembunyikan ilmu demi kemaslahatan.

10. Seorang murid hendaklah memiliki adab yang baik terhadap gurunya. []

Sumber: Syarah Kitab Tauhid, Memahami & Merealisasikan Tauhid dalam Kehidupan / Karya: Yazid bin Abdul Qadir Jawas / Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i / Cetakan Kelimat, Syaban  1442 / April 2021 M

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119