Renungan yang sangat menggugah adalah ini:
Di dunia, manusia biasanya hidup bersama dua keluarga utama.
Pertama:
Ia hidup bersama orang tua dan saudara-saudaranya.
Kedua:
Ia hidup bersama istri dan anak-anaknya.
Kalau umurnya panjang pun, total kebersamaannya dengan mereka mungkin hanya sekitar enam puluh atau tujuh puluh tahun.
BACA JUGA: Agar Urusan Duniamu Teratur
Namun setelah itu?
Ia akan hidup di alam kubur—di alam barzakh—mungkin ratusan, bahkan ribuan tahun, bersama sesuatu yang tidak pernah bisa ia hindari: amalnya sendiri.
Bukan mobilnya.
Bukan hartanya.
Bukan jabatannya.
Bukan popularitasnya.
Bukan pula semua rencana dunia yang dulu begitu menyita pikirannya.
Yang akan menemaninya di sana hanyalah amal baik atau amal buruknya.
Dalam hadits Al-Bara’ bin ‘Azib رضي الله عنه, Nabi ﷺ menyebutkan bahwa seorang mukmin di alam kubur akan didatangi oleh seorang laki-laki yang:
wajahnya indah,
pakaiannya bagus,
aromanya harum.
Lalu orang itu berkata:
“Bergembiralah dengan sesuatu yang menyenangkanmu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.”
Maka si mayit bertanya:
“Siapa engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang membawa kebaikan.”
Lalu ia menjawab:
“Aku adalah amal salehmu.”
Maka orang beriman itu pun berkata:
“Ya Rabb, segerakanlah hari Kiamat, agar aku bisa kembali kepada keluargaku dan hartaku.”
Bayangkan…
Ketika seseorang sudah masuk kubur, baru ia benar-benar sadar bahwa yang paling berharga bukanlah apa yang ia kumpulkan, tetapi apa yang ia bawa.
Fitnah Dunia Itu Halus, Bukan Selalu Haram yang Jelas
Salah satu hal tersulit dalam menghadapi dunia adalah: dunia mampu melarutkan hati orang yang masuk terlalu dalam ke dalamnya.
Karena itu, dunia tidak bisa dihadapi dengan rasa aman. Ia harus dihadapi dengan:
rasa takut,
kewaspadaan,
kehati-hatian,
dan muhasabah yang terus-menerus.
BACA JUGA: Ciri 2 Malaikat Penanya di Alam Kubur
Sebab, tidak semua keterikatan kepada dunia terlihat jelas sebagai dosa besar. Banyak di antaranya justru tampak “normal”, bahkan “wajar”.
Padahal ada perbedaan besar antara:
menunaikan hak istri dan anak
dengan
terlalu tenggelam dalam fitnah mereka
menjaga silaturahmi dengan teman
dengan
membakar waktu untuk hal sia-sia
bekerja demi menafkahi keluarga secara halal
dengan
tenggelam dalam ambisi menumpuk harta demi rasa aman palsu
Di sinilah bahayanya. Dunia tidak selalu datang dalam bentuk maksiat terang-terangan. Terkadang ia datang dalam bentuk kesibukan yang tampak mulia, tetapi diam-diam membuat hati semakin jauh dari akhirat. []
Sumber:
HR. Al-Bukhari tentang panjang angan-angan dan cinta harta
HR. Al-Bukhari tentang gambaran ajal dan angan-angan
QS. Al-Qashash: 77
Hadits Al-Bara’ bin ‘Azib رضي الله عنه tentang keadaan di alam kubur
Atsar Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه
AR-ISLAMWAY.NET
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

