Pendapat kaum rasionalis Ilmu Kalam (Ilmu Ketuhanan) seringkali sulit ditafsirkan kalangan awam. Begitu pula pendapat-pendapat ulama yang berbeda tentang sifat Allah Para nabi bahkan sampai melakukan langkah-langkah tegas dalam menjelaskan ihwal ketuhanan Allah kepada umatnya. Hal itu dilakukan karena jiwa manusia itu cende-rung pada hal-hal yang diyakini keberadaannya.
Saat seorang awam berpegang pada pendapat yang menyatakan, bahwa Allah tidak memiliki sifat, ia akan menolak pendapat yang sebaliknya, yaitu adanya sifat Allah. Saat itulah akidahnya perlu diper-tanyakan.
Saat ia mengikuti pendapat ulama yang meniadakan sifat itu sebagai upaya pemurnian Dzat Allah dari segala hal yang tidak sesuai dengan ketuhanan-Nya, sebenarnya orang seperti itu telah menentang pernyataan para rasul yang selalu menjelaskan sifat-sifat Allah dalam dakwahnya.
Sesungguhnya, Allah felah menerangkan, bahwa Dia bersemayam di atas Arasy. Saat itulah jiwa akan teguh dan yakin akan kebenaran wujud-Nya. Allah berfirman, Kekallah wajah (Dzat) Tuhanmu (ar-Rahman [55]: 27), (Tidaklah demiki-an) tetapi kedua tangan-Nya terbuka (al-Ma’idah [5]: 64), Allah murka kepada mereka (al-Fath [48]:6), Allah sangat meridhai mereka (al-Ma’idah [5]: 119).
BACA JUGA: Menekan Nafsu agar Sabar Menempuh Ketaatan
Rasulullah bersabda, bahwa Allah turun ke langit pertama dan hati para hamba berada di antara dua jari-Nya. Sabdanya yang lain menyebutkan, Allah menulis Taurat dengan tangan-Nya dan menulis kitab suci milik-Nya di atas ‘Arasy. Begitu banyak hadis yang menggambarkan sifat-sifat Allah yang tidak bisa dimuat di sini seluruhnya.
Sesungguhnya, manusia yang paling kurang akal-nya ialah mereka yang disuruh Rasulullah untuk menghormati namun membangkang.
Jika hati orang awam dan anak kecil telah bisa meyakini dengan teguh akan wujud Allah dan sifat-sifat-Nya, kita cukup menyampaikan firman Allah ini kepada mereka, Tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya (asy-Syūrā [42]: 11). Saat itulah akan sirna pikiran yang membayangkan Allah menyerupai makhluk-Nya.
Tahap berikutnya, lafal ayat-ayat tentang sifat Allah yang mengukuhkan keyakinan akan wujud Allah telah tertanam dalam dada. Kebanyakan manusia tidak mengerti masalah penetapan sifat itu kecuali dengan hal-hal yang bisa mereka saksikan dan rasakan. Cara memahami seperti yang saja jelaskan tadi akan bermanfaat dan dapat menjauhkan kita dari pendapat yang meniadakan sifat bagi Allah.
Adapun orang yang alim, mereka telah yakin bahwa memang Allahti-dak serupa dengan makhluk-Nya dari segala sisi. Allah tidak mungkin berse-mayam seperti bersemayamnya seorang raja di istana. Tidak akan sulit baginya untuk mengartikan, bahwa apa yang dimaksud dengan membalik hati manusia dengan telapak tangan-Nya adalah pemberitahuan, bahwa Allah Mahakuasa mengubah dan mengarahkan hati manusia.
Oleh karena manusia menguasai sesuatu dengan tangannya, ungkapan tersebut digunakan Allah sebagai gambaran tentang bagaimana Allah berkuasa atas hati manusia. Namun, kita tak membutuhkan takwil lebih jauh tentang bagaimana “perilaku” Allah dengan tangan-Nya, dan sebagainya. Allah tidak mungkin disifati secara indrawi semata.
Sesungguhnya, manusia yang paling kurang akalnya ialah mereka yang disuruh Rasulullah untuk menghormati namun membangkang.
Dalam sabdanya dikatakan, “Janganlah engkau mengadakan perjalanan ke tempat-tempat musuh dengan membawa al-Qur’an.” Imam Syafi’i pun melarang para ahli hadis membawa al-Qur’an di dalam buntalan-buntalan kain mereka dengan maksud penghormatan pada al-Qur’an.
Ada sesesorang yang mengaku ahli ilmu kalam berpendapat, sabda Rasulullah tersebut tidak mengacu pada al-Qur’an dalam bentuknya yang berupa lembaran-lembaran berisi tulisan, namun lebih pada hakikat atau substansi al-Qur-an itu sendiri.
Pendapat itu sangatlah bertentangan dengan syariat. Pendapat yang tidak paham maksud syariat dan tu-juan diutusnya para nabi. Mereka telah melarang apa yang sengaja ditutupi Allah rahasianya.
Rasulullah melarang umatnya untuk memperdebatkan masalah takdir, Jika persoalan takdir telah dibincangkan terlalu jauh, diamlah engkau.
Allah se juga melarang ikhtilaf (perselisihan), karena perdebatan dalam hal-hal yang sifat-nya khilafiah hanya akan memunculkan sakit hati dan rapuh jiwa.
Tidak bisa dimungkiri, jika seseorang membicarakan dan mempersoalkan takdir dan sampai pada perkataan, “Dia yang menentukan dan Dia pula yang menyiksa”, akan goyahlah imannya. la akan mem pertanyakan, “Di mana keadilan Tuhan?” Jika orang itu sampai pada kesimpulan “Dia belum menentukan dan belum memutuskan”, akan runtuhlah imannya karena mempertanyakan di mana letak kekuasaan-Nya.
Yang terbaik adalah meninggalkan perbincangan semacam itu. Seseorang mungkin akan lantang berkata, “Ini hanyalah sebuah usaha yang sangat mengekang rasionalitas dan memasung pikiran kita untuk mengetahui hakikat, sehingga kita akan terbelenggu taklid.”
Bagi saya, tidaklah demikian. Yang diminta dari kita adalah iman yang utuh dan menyeluruh. Anda tidak diminta un-tuk mengetahui substansi sesuatu ketika akal dan pikiran memang tidak mampu mencapai hakikatnya.
Al-Khalil Ibrahim memohon kepada Allah, “Ya Allah, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau nanti menghidupkan orang-orang yang telah mati.” Allah lalu memperlihatkan sesosok mayat yang tiba-tiba hidup. Dia tidak memperlihat kan bagaimana cara menghidupkannya. Karena Ibrahim tidak akan sanggup mengetahuinya.
BACA JUGA: Janganlah Terlalu Disibukkan dengan Dunia
Rasulullah yang diutus untuk menerangkan kepada manusia bagaimana cara beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada mereka, tidak memperkenankan cara apapun untuk menyingkap tabir hal-hal yang sengaja Allah rahasiakan. Tidak juga para sahabat. Mereka meyakinkan manusia dengan iman secara menyeluruh. Para sahabat merasa cukup dengan iman yang menyeluruh tadi, sehingga terasa keagungan Allah di dalam jiwa.
Mereka mencegah agar tidak terli-tas dalam pikirannya suatu khayalan, bahwa Allah menyerupai makhluk. Firman Allah, Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. (asy-Syūrā [42]: 11).
Malaikat Mungkar dan Nakir pun di dalam kubur kelak tidak akan mempertanyakan secara terperinci keimanan kita. Mereka akan menanyakan secara umum saja, “Siapakah Tuhanmu? Apakah agamamu? Siapakah Nabimu?”
Siapa yang memahami bagian tulisan ini akan selamat dari akidah kaum Mu’atthilah (yang menafikan sifat-sifat Allah) dan Mujassimah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk). Marilah berbaris di belakang kaum salaf terdahulu. Semoga Allah memberi taufik kepada kita. []
Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

