Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Telah diketahui bahwa seorang da’i yang mengajak orang lain kepada suatu perkara, pasti butuh kepada dua perkara dalam dakwahnya ini:
1. Maksud atau tujuan yang diinginkan (dari dakwahnya tersebut).
2. Wasilab (perantara) dan jalan yang dapat mengantarkan kepada maksud tersebut.
Oleh sebab itulah, Allah تعالى menyebut bahwa dakwah terkadang mengajak kepada Allah dan terkadang mengajak kepada jalan-Nya.
BACA JUGA: Dakwah pada Orangtua
Jadi kesimpulannya adalah:
1. Allah satu-satunya yang berhak diibadahi, dan Dialah maksud atau tujuan dari dakwah, dan hal itu dilakukan dengan mewujudkan al-Ulûbıyyah bagi Allah, serta dengan mentauhidkan-Nya dan mencegah kesyirikan.
12. Dengan mewujudkan as Shirathal Mustaqim, yaitu jalan yang pernah dilalui orang-orang yang Allah beri nikmat atas mereka dari para nabi, shiddiqûn, syubada, dan juga orang-orang shalih.
Adapun makna as-Shirathal Mustaqim, Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya mengemukakan empat pendapat, sebagai berikut:
1. Diriwayatkan bahwasanya as-Shiråthal Mustaqim adalah Kitâbullab (al-Qur-an).
2. Dikatakan bahwa as Shirathal Mustaqim adalah al-Islam.
BACA JUGA: Doa Nabi Musa: Ketenangan dan Kemudahan dalam Berdakwah
3. Mujahid berpandangan bahwa as-Shirathal Mustaqim (jalan yang lurus) adalah al-Haqq (kebenaran).
4. Dari Abul Aliyah, dia mengutarakan bahwa as-Shirâthal Mustaqim (jalan yang lurus) adalah Nabi dan dua Sahabat beliau (yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khathab). []
Sumber: Syarah Kitab Tauhid, Memahami & Merealisasikan Tauhid dalam Kehidupan / Karya: Yazid bin Abdul Qadir Jawas / Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i / Cetakan Kelimat, Syaban 1442 / April 2021 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

