Home IbadahAdab-adab Bersafar

Adab-adab Bersafar

Sisi positif yang dapat dipetik dari safar dengan badan mencakup dua hal, yaitu bentuk dari penyelamatan diri dan mencari sesuatu.

by Abu Umar
0 comments 120 views

Safar (bepergian) adalah wasilah untuk pergi dari tempat yang hendak ditinggalkan dan sampai ke daerah yang hendak dikehendaki. Setidaknya, ada dua jenis safar (bepergian) yang perlu diketahui.

Pertama, safar dengan badan secara zahir dari tempat yang kita berdomisili.

Kedua, safar dengan perginya hati dari tempat yang paling rendah menuju kerajaan langit. Inilah bentuk safar yang paling baik.

BACA JUGA:  Adab Pinjam-Meminjam Uang

Safar seharusnya dilakukan oleh orang yang terpaku dengan keadaan di mana ia tumbuh pasca dilahirkan, selalu meniru yang dilakukan oleh para lelu-hurnya, senantiasa dalam keadaan kurang, puas dengan keterpurukannya, ia berpikir bahwa bumi dan langit yang luas ini hanyalah penjara gelap lagi sempit.

Padahal dalam sebuah syair disebutkan, “Tidak tampak aib orang-orang sebagai sebuah kekurangan yang mencegahnya untuk meraih kemenangan.”

Akan tetapi, jika safar justru membuatnya melanggar larangan-larangan dan hal-hal yang diharamkan maka hendaklah ia menutup semua jalan agar ia tidak melakukannya.

Safar dengan badan terbagi menjadi beberapa ma-cam, memiliki beberapa sisi positif maupun negatif yang cukup besar. Ternyata hal ini serupa dengan penjelasan di dalam uzlah dan mukhalathah yang tidak bisa dinilai mana lebih utama secara mutlak, karena hal itu berkaitan dengan situasi dan kondisi yang bersangkutan.

Sisi positif yang dapat dipetik dari safar dengan badan mencakup dua hal, yaitu bentuk dari penyelamatan diri dan mencari sesuatu. Adapun bentuk penyelamatan diri bisa berupa dua hal.

BACA JUGA:  Adab-adab Berjalan menuju Masjid

a) Dari hal-hal duniawi, seperti jika timbul wabah pada suatu tempat, khawatir terhadap fitnah, permusuhan, atau tingginya biaya hidup.

b) Dari hal-hal yang berkaitan dengan agama, seperti seseorang yang diuji oleh Allah dengan pangkat yang tinggi, harta, dan kemudahan hidup sehingga ia tidak dapat fokus beribadah kepada Allah swt. Kemudian, ia memilih untuk mengasingkan diri, meninggalkan kekayaan; pangkat yang tinggi dan kemewahan. la juga seperti seseorang yang diajak untuk melakukan hal-hal bid’ah, atau suatu amalan yang tidak diperkenankan oleh syariat, jika demikian adanya maka hendaklah ia melarikan diri dari semua itu.

Adapun dalam bentuk “mencari sesuatu”, bisa berbentuk duniawi, seperti mencari harta dan takhta, sementara yang berbentuk ukhrawi dapat seperti, mencari ilmu tentang agamanya, tentang akhlak yang baik untuk jiwanya, ayat-ayat Allah untuk mengarungi bumi-Nya, dan lain sebagainya. []

Sumber: Mukhtashar Minhaj al-Qashidîn (Rahasia Hidup Orang-orang Shaleh) / Penulis: Ibnu Qudamah / Penerbit: al-Maktab al-Islami (Khatuliswa Pers) / 2015 / Cet.: 2000/Kesembilan

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119