Home NasihatMutiara Nasihat Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib

Mutiara Nasihat Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib

(Tabi'in, Madinah, w. 94 H di Madinah)

by Abu Umar
0 comments 57 views

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib rahimahullah, yang dikenal dengan julukan Zainul ‘Abidin dan As-Sajjad, adalah salah satu ulama dan ahli ibadah besar dari kalangan Ahlul Bait. Beliau merupakan cicit Rasulullah ﷺ — putra dari Husain bin Ali dan cucu dari Fathimah Az-Zahra. Lahir sekitar tahun 38 H di Madinah, beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sarat ilmu, ketakwaan, dan kemuliaan akhlak.

Ali bin Husain dikenal memiliki wajah yang bersinar, hati yang lembut, dan sifat tawadhu yang tinggi. Beliau hidup pada masa yang penuh fitnah dan pergolakan politik, namun tetap memilih jalan ilmu, ibadah, dan sabar dalam menghadapi ujian, termasuk tragedi besar di Karbala yang merenggut nyawa ayahnya.

Beliau dikenal sebagai As-Sajjad (الـسجاد) karena sangat sering bersujud kepada Allah. Dalam setiap nikmat dan musibah, sujudnya menjadi bukti rasa syukur dan ketundukannya. Beliau juga masyhur dengan doa-doanya yang penuh makna dan kedalaman spiritual, yang kemudian dihimpun dalam kitab Ash-Shahifah As-Sajjadiyyah, sering disebut “Zabur Ahlul Bait”.

Dalam bidang ilmu, Ali bin Husain menjadi guru bagi banyak tabi’in terkemuka dan menjadi teladan dalam akhlak serta kezuhudan. Beliau wafat di Madinah pada tahun 94 H — dikenal sebagai “Tahun Para Fuqaha” — meninggalkan warisan keteladanan dalam ibadah, sabar, dan cinta kepada Allah yang terus dikenang hingga kini.

BACA JUGA:  Mutiara Nasihat Urwah bin Zubair

Berikut adalah beberapa mutiara nasihat dari Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَفْصِ الْقُرَشِيِّ قَالَ : كَانَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ إِذَا تَوَضَّأَ يَصْفَرُّ فَيَقُوْلُ لَهُ أَهْلُهُ : مَا هَذَا الَّذِي يَعْتَادُكَ عِنْدَ الْوُضُوْءِ فَيَقُولُ : تَدْرُوْنَ بَيْنَ يَدَيْ مَنْ أُرِيدُ أَنْ أَقَوْمَ

Dari Abdurrahman bin Hafsh Al-Qurasyi berkata, apabila berwudhu wajah Ali bin Husain nampak memucat, lalu keluarganya bertanya, “Mengapa wajahmu memucat setiap kali berwudhu?” Beliau menjawab, “Apakah kalian tahu di hadapan siapa aku akan berdiri?” (11/93).

وَعَنْ أَبِي نُوحِ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ: وَقَعَ حَرِيقٌ فِي بَيْتٍ فِيْهِ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَجَعَلُوْا يَقُوْلُوْنَ لَهُ : يَابْنَ رَسُوْلِ اللهِ النَّارَ، يَا ابْنَ رَسُوْلِ اللَّهِ النَّارَ، فَمَا رَفَعَ رَأْسَهُ حَتَّى أُطْفِعَتْ، فَقِيلَ لَهُ: مَا الَّذِي أَلْهَاكَ عَنْهَا؟ قَالَ: أَلْهَتْنِي عَنْهَا النَّارُ الْأُخْرَى.

Dari Abu Nuh Al-Anshari berkata, “Pernah terjadi kebakaran di rumah yang di dalamnya ada Ali bin Husain, sedangkan pada saat itu beliau sedang sujud. Orang-orang meneriakinya, “Wahai cicit Rasulullah, ada api. Wahai cicit Rasulullah, ada api…” Namun beliau tidak mengangkat kepalanya sama sekali hingga api itu berhasil dipadamkan. Kemudian ada yang bertanya, “Apa yang membuatmu lalai dari api itu?” Beliau menjawab, “Ada api lain yang membuatku lalai dari api dunia, yaitu api neraka.” (11/93-94).

وَعَنْ سُفْيَانَ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ لَهُ : إِنَّ فُلَانًا قَدْ آذَاكَ وَوَقَعَ فِيكَ قَالَ : فَانْطَلِقُ بِنَا إِلَيْهِ فَانْطَلَقَ مَعَهُ وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ سَيَنْتَصِرُ لِنَفْسِهِ فَلَمَّا أَتَاهُ قَالَ : يَا هَذَا إِنْ كَانَ مَا قُلْتَ فِي حَقًّا فَغَفَرَ اللَّهُ لِي وَإِنْ كَانَ مَا قُلْتَ فِي بَاطِلًا فَغَفَرَ اللَّهُ لَكَ

Dari Sufyan berkata, ada seorang lelaki yang mendatangi Ali bin Husain lalu berkata, “Sesungguhnya fulan telah menjelek-jelekkan dan memfitnahmu.” Beliau menjawab, “Mari kita pergi menemuinya.” Lelaki tadi pergi bersama beliau, dan menyangka bahwa beliau akan membela diri, namun sesampainya di sana, beliau berkata, “Wahai fulan, jika ucapanmu tentangku benar maka semoga Allah mengampuniku, tetapi jika ucapanmu batil maka semoga Allah mengampunimu.” (11/94).

وَكَانَ يَقُوْلُ : إِنَّ قَوْمًا عَبَدُوا اللهَ عَزَّ وَجَلَّ رَهْبَةً فَتِلْكَ عِبَادَةُ الْعَبِيدِ، وَآخَرِينَ عَبَدُوهُ رَغْبَةً فَتِلْكَ عِبَادَةُ التَّجَارِ، وَقَوْمًا عَبَدُوا اللَّهَ شُكْرًا فَتِلْكَ عِبَادَةُ الْأَحْرَارِ.

Ali bin Husain berkata, “Sesungguhnya ada kaum yang menyembah Allah dengan rasa takut, itulah ibadah hamba sahaya. Dan yang lain, mereka menyembah Allah dengan penuh harap, itulah ibadah para pedagang, dan ada pula kaum yang menyembah Allah dengan penuh rasa syukur, itulah ibadah orang-orang merdeka.” (11/95).

banner

وَكَانَ إِذَا أَتَاهُ السَّائِلُ رَحْبَ بِهِ وَقَالَ : مَرْحَبًا بِمَنْ يَحْمِلُ زَادِي إِلَى الْآخِرَةِ

Jika ada seorang pengemis, beliau menyambut dengan suka cita dan berkata, “Selamat datang duhai orang yang membawa bekalku ke akhirat.” (11/95).

وَكَانَ يَقُوْلُ : عَجِبْتُ لِلْمُتَكَبِّرِ الْفَخُورِ الَّذِي كَانَ بِالْأَمْسِ نُطْفَةً ثُمَّ هُوَ غَدًا جِيْفَةً، وَعَجِبْتُ كُلَّ الْعَجَبِ لِمَنْ شَكٍّ فِي اللَّهِ وَهُوَ يَرَى خَلْقَهُ ، وَعَجِبْتُ كُلُّ الْعَجَبِ لِمَنْ أَنْكَرَ النَّشْأَةَ الْأُخْرَى وَهُوَ يَرَى النَّشْأَةَ الْأُولَى، وَعَجِبْتُ كُلَّ الْعَجَبِ لِمَنْ عَمِلَ لِدَارِ الْفَنَاءِ وَتَرَكَ دَارَ الْبَقَاءِ.

Ali bin Husain berkata, “Aku heran kepada orang sombong dan suka menonjolkan diri padahal dulunya dia hanyalah setetes mani, kemudian besok menjadi bangkai. Aku sangat heran kepada orang yang meragukan Allah padahal dia mampu melihat ciptaan-Nya. Aku juga terheran-heran kepada orang yang mengingkari penciptaan yang kedua padahal dia melihat penciptaan yang pertama, dan aku juga terheran-heran kepada orang yang bekerja untuk negeri yang fana dan meninggalkan negeri yang kekal selamanya.” (11/95).

وَعَنْ شَيْبَةَ بْنِ نَعَامَةَ قَالَ : كَانَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ يُبَخّلُ فَلَمَّا مَاتَ وَجَدُوهُ يَقُوْتُ مِائَةَ أَهْلِ بَيْتٍ بِالْمَدِينَةِ

Dari Syaibah bin Na’amah berkata, “Ali bin Husain dulu disangka pelit, namun ketika beliau meninggal dunia, orang-orang baru mengetahui bahwa ternyata beliau menghidupi 100 keluarga di Madinah.” (11/96).

وَعَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ قَالَ : كَانَ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ يَعِيشُوْنَ لَا يَدْرُوْنَ مِنْ أَيْنَ كَانَ مَعَاشُهُمْ فَلَمَّا مَاتَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ فَقَدُوْا مَا كَانُوا يُؤْتُونَ بِهِ بِاللَّيْلِ

Dari Muhammad bin Ishaq berkata, “Dahulu penduduk Madinah hidup tanpa mengetahui darimana penghidupan mereka berasal. Ketika Ali bin Husain wafat, mereka tidak lagi mendapatkan sesuatu yang biasa mereka dapatkan pada malam hari.” (11/96).

وَعَنْ أَبِي حَمْزَةَ الثَّمَالِي قَالَ : كَانَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ يَحْمِلُ جِرَابَ الْخُبْزِ عَلَى ظَهْرِهِ بِاللَّيْلِ فَيَتَصَدَّقُ بِهِ، وَيَقُوْلُ : إِنَّ صَدَقَةَ السَّرَّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ.

Dari Abu Hamzah Ats-Tsumali berkata, Ali bin Husain biasa memanggul kantong kulit berisi roti di atas punggungnya pada malam hari untuk disedekahkan. Beliau berkata, “Sesungguhnya bersedekah dengan sembunyi-sembunyi bisa memadamkan murka Allah.” (11/96).

وَقَالَ نَافِعُ بْنُ جُبَيْرٍ لِعَلِيَّ بْنِ الْحُسَيْنِ : أَنْتَ سَيِّدُ النَّاسِ

وَأَفْضَلُهُمْ تَذْهَبُ إِلَى هَذَا الْعَبْدِ فَتَجْلِسُ مَعَهُ يَعْنِي زَيْدَ بْنَ أَسْلَمَ فَقَالَ : إِنَّهُ يَنْبَغِي لِلْعِلْمِ أَنْ يُتَّبَعَ حَيْثُمَا كَانَ

Ali bin Nafi’ bin Jubair berkata kepada Ali bin Husain, “Anda adalah pemimpin manusia dan orang yang paling utama tetapi mengapa Anda pergi menemui budak ini, yakni Zaid bin Aslam, lalu Anda bermajelis bersamanya?” Maka beliau menjawab, “Sudah seyogianya ilmu dicari di mana pun berada.” (11/98).

وَعَنْ أَبِي جَعْفَرٍ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيَّ قَالَ : أَوْصَانِي أَبِي قَالَ : لا تَصْحَبَنَّ خَمْسَةً وَلَا تُحَادِثُهُمْ وَلَا تُرَافِقُهُمْ فِي طَرِيقِ. قَالَ قُلْتُ : جَعَلْتُ فِدَاءَكَ يَا أَبَتِ مَنْ هَؤُلَاءِ الْخَمْسَةُ؟ قَالَ : لَا تَصْحَبَنَّ فَاسِقًا فَإِنَّهُ يَبِيعُكَ بِأَكْلَةٍ فَمَا دُونَهَا، قَالَ قُلْتُ : يَا أَبَةِ وَمَا دُونَهَا يَطْمَعُ فِيهَا ثُمَّ لَا يَنَالُهَا، قَالَ قُلْت : يَا أَبَةِ وَمَنِ الثَّانِيُّ قَالَ قَالَ : لَا تَصْحَبَنَّ الْبَخِيْلَ فَإِنَّهُ يَقْطَعُ بِكَ فِي مَالِهِ أَحْوَجُ مَا كُنْتَ إِلَيْهِ، قَالَ قُلْتُ : يَا أَبَةِ وَمَنِ الثَّالِثُ قَالَ : لا تَصْحَبَنَّ كَذَّابًا فَإِنَّهُ بِمَنْزِلَةِ السَّرَابِ يُبْعِدُ مِنْكَ الْقَرِيبَ وَيُقْرِبُ مِنْكَ الْبَعِيدَ، قَالَ قُلْتُ : يَا أَبَةِ وَمَنِ الرَّابِعُ قَالَ : لَا تَصْحَبَنَّ أَحْمَقَ فَإِنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَنْفَعَكَ فَيَضُرُّكَ، قَالَ قُلْتُ : يَا أَبَةٍ وَمَنِ الْخَامِسُ قَالَ : لَا تَصْحَبَنَّ قَاطِعَ رَحِمٍ فَإِنِّي وَجَدْتُهُ مَلْعُوْنًا فِي كِتَابِ اللَّهِ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ

Dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali berkata, “Ayah berwasiat kepadaku, “Janganlah kamu bersahabat, berbicara dan berteman dengan lima tipe manusia.”

BACA JUGA:  Mutiara Nasihat Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq

Aku bertanya, “Aku menjadi tebusanmu, wahai ayah, siapakah kelima manusia itu?” Ayah menjawab, “Janganlah kamu bersahabat dengan orang fasik karena dia akan menjualmu dengan sesuap makanan atau yang lebih murah dari itu.” Aku mengatakan, “Wahai ayah, orang fasik itu juga berambisi untuk mencari-cari sesuatu yang lebih murah dari sesuap makanan tetapi kemudian dia tidak mampu mendapatkannya.”

Aku bertanya, “Wahai Ayah, siapakah orang kedua?” “Janganlah kamu bersahabat dengan orang pelit karena dia akan memutus hubungan denganmu dalam masalah hartanya ketika kamu sangat membutuhkannya.” Jawab Ayah.

Aku bertanya, “Wahai Ayah, lalu siapakah orang ketiga?” Ayah menjawab, “Janganlah kamu bersahabat dengan seorang pendusta karena dia ibarat fatamorgana. Menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh darimu.”

Aku bertanya lagi, “Wahai Ayah, siapakah orang keempat?” Ayah menjawab, “Janganlah kamu bersahabat dengan orang tolol, karena dia ingin mendatangkan manfaat namun malah mendatangkan bahaya kepadamu.”

Aku bertanya lagi, “Wahai Ayah, kemudian siapakah orang kelima?” Ayah menjawab, “Janganlah kamu bersahabat dengan orang yang memutus tali silaturahmi karena aku mendapatkan orang seperti ini dilaknat di dalam kitabullah dalam tiga tempat.” (II/101). []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119